gubukinspirasi.id, DENPASAR - Umat Hindu, khususnya di Bali, memperingati Tilem Katiga pada Jumat, 11 September 2026.
Tilem Katiga merupakan hari bulan gelap atau bulan mati yang berlangsung pada bulan ketiga dalam kalender Bali, yakni Sasih Katiga.
Selain bertepatan dengan Tilem Katiga, hari ini juga menjadi momentum bagi umat Hindu untuk melakukan pemujaan dan introspeksi diri.
Pada saat Tilem, umat Hindu dianjurkan untuk menghilangkan berbagai noda, dosa dan kekotoran yang ada dalam diri melalui persembahyangan, yoga maupun hening.
Makna Tilem Katiga dalam Tradisi Hindu Bali
Tilem memiliki makna tersendiri dalam kehidupan spiritual masyarakat Bali.
Jika Purnama identik dengan bulan terang, Tilem justru merupakan momentum untuk memuliakan kegelapan.
Menurut Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Putu Eka Guna Yasa, pemujaan terhadap gelap atau Tilem ditujukan kepada Siwa.
Menurutnya, dalam Jnyana Sidantha disebutkan di dalam matahari ada suci, di dalam suci ada Siwa, di dalam Siwa ada gelap yang paling gelap.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan Tilem mendapatkan pemuliaan dalam tradisi Hindu Bali.
Dalam konteks kebudayaan Bali, yang dimuliakan bukan hanya bulan terang atau Purnama.
Bulan mati atau gelap yang paling gelap juga mendapatkan penghormatan melalui pelaksanaan pemujaan.
Guna juga menyebutkan bahwa di daerah Bangli terdapat Pura Penileman yang setiap Tilem digunakan sebagai tempat pemujaan.
"Di Pura Penileman dilakukan pemujaan kepada Siwa, karena ada warga masyarakat yang nunas (meminta) pengidep pati atau sarining taksu jelas sudah Siwa. Bukti arkeologis ada arca Dewa Gana yang merupakan putra Siwa,” katanya.
Tilem, Waktu untuk Membersihkan Diri
Makna Tilem juga dijelaskan dalam buku Sekarura karya IBM Dharma Palguna.
Pada halaman 9 disebutkan bahwa para Guru Kehidupan dan Guru Kematian mengajarkan agar manusia menghormati gelap, tidak kurang dari penghormatan terhadap terang.
Hormat terhadap gelapnya bulan mati atau Tilem tidak kurang dari hormat kepada terang bulan Purnama.
Dalam buku tersebut juga dijelaskan bahwa gelap tidak selalu harus dihindari atau diusir dengan menghadirkan terang buatan.
Sebaliknya, manusia dapat memasuki, menyusupi, meleburkan diri dan memasukkan kegelapan tersebut ke dalam diri.
Pemaknaan tersebut membuat Tilem menjadi momentum untuk melakukan introspeksi.
Umat Hindu dapat menggunakan kesempatan ini untuk melihat kembali diri sendiri, mengendalikan pikiran serta berusaha mengenyahkan dosa, noda dan berbagai kekotoran batin.
Persembahan Saat Tilem Katiga
Tata cara pelaksanaan Tilem juga disebutkan dalam Lontar Sundarigama.
Mwang tka ning tilem, wenang mupuga lara roga wighna ring sarira, turakna wangi-wangi ring sanggar parhyangan, mwang ring luhur ing aturu, pujakna ring sanggar parhyangan, mwang ring luhur ing aturu, pujakna ring widyadari widyadara, sabhagyan pwa yanana wehana sasayut widyadari 1, minta nugraha ri kawyajnana ning saraja karya, ngastriyana ring pantaraning ratri, yoga meneng, phalanya lukat papa pataka letuh ning sarira.
Dalam terjemahannya disebutkan bahwa pada saat Tilem, umat Hindu hendaknya menghilangkan segala bentuk dosa, noda dan kekotoran dalam diri.
Salah satu bentuk persembahan yang dilakukan adalah menghaturkan wangi-wangian di sanggar atau parahyangan serta di atas tempat tidur.
Persembahan tersebut ditujukan kepada para widyadari dan widyadara.
Selain itu, akan lebih baik apabila umat menghaturkan satu buah sesayut Widyadari.
Persembahan tersebut ditujukan untuk memohon anugerah agar diberikan pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan berbagai aktivitas atau pekerjaan.
Pemujaan Dilakukan pada Malam Hari
Dalam pelaksanaan Tilem, pemujaan dilakukan pada malam hari.
Bahkan, waktu yang dianjurkan adalah tengah malam dengan melakukan yoga atau hening.
Yoga dan hening tersebut menjadi bagian dari upaya untuk menenangkan pikiran serta melakukan introspeksi terhadap diri sendiri.
Berdasarkan Lontar Sundarigama, pahala dari pelaksanaan tersebut adalah lukat papa pataka letuh ning sarira, yang dimaknai sebagai terlepasnya segala dosa, noda dan kekotoran yang ada dalam diri.
Karena itu, Tilem Katiga 11 September 2026 dapat menjadi momentum bagi umat Hindu untuk tidak hanya melakukan persembahyangan secara lahiriah, tetapi juga membersihkan dan menenangkan pikiran secara batiniah.
Tilem Katiga mengajarkan bahwa kegelapan tidak selalu bermakna sesuatu yang harus ditakuti atau dijauhi.
Dalam konteks spiritual Hindu Bali, kegelapan justru dapat menjadi ruang untuk melakukan perenungan dan melihat ke dalam diri.
Melalui persembahan, pemujaan, yoga dan hening, umat Hindu diajak untuk mengendalikan diri serta membersihkan berbagai kekotoran yang dapat mengganggu ketenangan batin.
Dengan demikian, Tilem Katiga yang jatuh pada Jumat, 11 September 2026 bukan sekadar penanda bulan mati dalam kalender Bali.
Hari ini menjadi kesempatan bagi umat Hindu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, memohon anugerah, sekaligus melakukan introspeksi agar dapat menjalani kehidupan dengan pikiran yang lebih tenang dan suci.
(*)
0 Komentar