Tradisi Syukur Kopi Segunung, Warga Wonosalam Rayakan Panen dengan Tradisi Unik

Tradisi Syukur Kopi Segunung, Warga Wonosalam Rayakan Panen dengan Tradisi Unik

Tradisi Wiwit Kopi: Simbol Syukur dan Kebersamaan di Kampung Adat Segunung

Di tengah hamparan kebun kopi yang hijau, masyarakat Kampung Adat Segunung, Jombang, merayakan awal musim panen dengan tradisi yang unik dan penuh makna. Tradisi yang dikenal sebagai Wiwit Kopi menjadi momen penting dalam kehidupan warga setempat. Prosesi ini tidak hanya menandai dimulainya panen kopi, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi yang kembali diberikan alam.

Wiwit Kopi biasanya dilaksanakan pada tanggal 8-9 Agustus 2026. Sebelum prosesi dimulai, warga berkumpul untuk berdoa dan menyampaikan rasa syukur atas tanaman kopi yang telah matang. Mereka memetik buah kopi pertama sebagai tanda bahwa musim panen telah tiba. Prosesi ini juga menjadi bagian dari rangkaian Adat Bumi, sebuah tradisi yang menggambarkan hubungan erat antara manusia dan alam.

Prosesi yang Penuh Makna

Setelah doa dan rasa syukur, warga mulai memetik buah kopi. Gerakan sederhana ini memiliki makna yang dalam. Bagi para petani, pemetikan kopi bukan hanya tentang hasil yang akan dibawa pulang, tetapi juga tentang harapan untuk menjaga keberlangsungan perkebunan dan kehidupan yang selama ini bertumpu pada alam.

Hasil panen kemudian diarak menuju Balai Ageng Giri Kedaton. Di sana, warga membagikan hasil bumi dalam bentuk tumpengan. Tidak ada lagi batas antara mereka yang memetik kopi, membawa hasil bumi, maupun yang sekadar mengikuti prosesi. Semua melebur dalam satu perayaan yang penuh keakraban.

Kolaborasi dengan Generasi Muda

Wiwit Kopi tahun ini juga menunjukkan adanya kolaborasi antara masyarakat dan generasi muda. Kehadiran mahasiswa KKN Kelompok 37 UPN “Veteran” Jawa Timur membuat rangkaian kegiatan semakin semarak. Mereka tidak hanya menyaksikan tradisi dari luar, tetapi ikut serta dalam berbagai kegiatan.

Salah satu momen yang menarik adalah tumpengan bersama. Makanan disantap dalam suasana sederhana, tetapi penuh keakraban. Dari satu meja makan, percakapan dan pengalaman bertemu. Kegiatan lain yang tak kalah menarik adalah lomba goreng kopi. Kopi lokal Segunung tidak hanya hadir sebagai hasil perkebunan, tetapi juga diolah menjadi bagian dari permainan dan hiburan masyarakat.

Nilai-nilai yang Terjaga

Wiwit Kopi bukan hanya tentang buah kopi yang berubah merah dan siap dipetik. Ia adalah cerita tentang manusia yang menunggu hasil dari tanah yang mereka rawat. Tentang rasa syukur setelah melewati satu musim. Tentang warga yang memilih berkumpul ketika hasil bumi datang.

Tradisi ini juga menjadi cara masyarakat mengenalkan identitas mereka kepada generasi berikutnya. Keterlibatan mahasiswa KKN Kelompok 37 UPN “Veteran” Jawa Timur membuka ruang pertukaran pengetahuan. Mahasiswa berkesempatan memahami kehidupan sosial dan budaya masyarakat dari dekat, sementara warga mendapatkan ruang untuk memperkenalkan tradisinya kepada generasi muda.

Merawat Tradisi di Tengah Perubahan Zaman

Di Kampung Adat Segunung, Wiwit Kopi menjadi pengingat bahwa tradisi tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari hubungan panjang antara manusia, alam, dan kehidupan sosial masyarakat. Doa sebelum panen menunjukkan rasa syukur. Pemetikan kopi menjadi simbol dimulainya musim panen. Arak-arakan hasil bumi menggambarkan kebersamaan. Sementara selamatan menjadi ruang untuk berbagi dan memanjatkan harapan.

Nilai-nilai itulah yang membuat Wiwit Kopi tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Tradisi tersebut menjadi cara masyarakat menjaga warisan leluhur agar tetap hidup, meski zaman terus bergerak.

Yang Dirayakan Bukan Hanya Panen

Di Segunung, ketika kopi mulai dipetik, yang dirayakan bukan hanya panen. Yang dirayakan adalah syukur, kebersamaan, dan hubungan manusia dengan alam yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.



0 Komentar