Oleh: Felix Sugar *
gubukinspirasi.id“Sudah aku larang sebelum kau pergi, Ga. Aku yakin kita masih bisa melewati semua ini.”
Aku berdiri di depan pintu, menahan tangan Raga yang sedang memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas kecilnya. Raga tidak menjawab.
Ia hanya melipat baju dengan wajah murung. Di atas kasur tipis, Acila masih tertidur pulas. Anak kami tidak tahu bahwa malam itu ayahnya sedang bersiap meninggalkan rumah.
“Ga, jangan pergi.”
Raga berhenti menoleh ke sampingku.
“Agnes, aku cuma mau bekerja.”
“Di sini juga masih ada pekerjaan Ga.”
“Pekerjaan apa?”
Aku terdiam. Pertanyaan itu tidak bisa kujawab. Sudah dua minggu Raga tidak memiliki pekerjaan tetap. Sebelumnya ia bekerja sebagai buruh di pelabuhan.
Setiap hari ia mengangkat barang penumpang, membawa karung, dan melakukan pekerjaan apa saja yang bisa menghasilkan uang.
Tetapi beberapa hari terakhir, ia pulang dengan tangan kosong. Kadang ia bahkan tidak makan agar uang yang tersisa bisa digunakan membeli susu Acila. Aku tahu semua itu. Aku juga tahu alasan sebenarnya ia ingin pergi bukan hanya karena pekerjaan.
“Ini karena ayah dan ibu, kan?” tanyaku.
Raga menunduk.
“Mereka tidak pernah menerimaku apa adanya Agnes.”
“Mereka hanya marah Ga.”
“Mereka sudah bilang kepadamu untuk meninggalkanku.”
Aku menggigit bibir. Aku tidak bisa menyangkalnya.
Aku adalah anak semata wayang ayah dan ibu. Dulu hidupku sangat berbeda. Aku masih mengenakan seragam SMA.
Ayah selalu membicarakan kuliah, sementara ibu sering mengatakan bahwa ia ingin melihatku memakai toga suatu hari nanti.
Semuanya berubah ketika aku mengenal Raga. Aku mencintainya. Kami terlalu muda dan terlalu yakin bahwa cinta bisa menyelesaikan semuanya.
Sampai akhirnya aku hamil. Usiaku baru dua puluh tahun. Ketika aku memberitahu ibu, gelas yang sedang dipegangnya jatuh ke lantai.
“Kamu hamil Agnes?”
Aku menangis. Ayah yang sejak tadi diam akhirnya berkata, “Kenapa, Agnes?”
Aku tidak sanggup menjawab. Sejak hari itu rumah kami tidak pernah sama lagi.
Ibu ingin aku kembali sekolah. Ayah ingin cucu mereka dirawat di rumah saja.
“Raga belum mampu menghidupimu,” kata ayah.
“Aku tahu, Yah.”
“Kalau begitu pulanglah.”
Aku menggeleng.
“Aku mau tetap bersama Raga.”
Ayah menatapku lama seakan mau memukuliku.
“Kalau itu pilihanmu, tanggung sendiri.”
Kalimat itu masih kuingat sampai sekarang. Aku tetap pergi bersama Raga.
****
Kami tinggal di sebuah gubuk kecil beratap seng di belakang kebun. Kalau hujan turun, kami harus memindahkan tempat tidur karena air masuk dari atap.
Tetapi waktu itu aku bahagia. Setidaknya aku pikir begitu. Raga sebenarnya tidak pernah berhenti berusaha. Ia bekerja dari pagi sampai sore. Pulang dengan badan penuh keringat, lalu membantu memandikan Acila.
“Capek, Ga?”
“Kalau lihat kalian, capeknya hilang.”
Aku sering tersenyum mendengar itu. Namun, hidup perlahan mengubah kami. Aku semakin sering sakit. Raga semakin sering pulang tanpa bawah uang. Suatu malam, aku berkata,
“Ga, susu Acila habis.”
Raga membuka dompetnya. Hanya ada beberapa lembar uang.
“Besok aku beli.”
“Uangnya cukup?”
“Cukup sekali Agnes.”
Aku tahu dia berbohong. Malam itu ia tidak makan. Aku melihatnya dari dalam kamar ketika ia duduk sendirian di depan rumah. Untuk pertama kalinya aku merasa bersalah karena telah membuatnya menjalani kehidupan seperti ini.
****
Beberapa hari kemudian, Raga pulang dengan wajah pucat.
“Aku dipecat.”
Aku hanya terdiam tanpa bicara apapun.
“Bos bilang tidak ada pekerjaan lagi.”
“Besok kita cari lagi.”
Raga tertawa kecil.
“Kamu selalu bilang begitu.”
“Karena kita masih punya pilihan.”
“Aku sudah lelah, Agnes.”
Aku mendekatinya.
“Kita bisa mengolah kebun.”
“Itu tidaklah cukup Agnes.”
“Kita bisa hidup sederhana.”
“Aku tahu.”
“Lalu apa yang kamu mau?”
Raga menatapku.
“Aku mau kamu pulang.”
Dadaku terasa sesak.
“Aku tidak mau.”
“Orang tuamu bisa membantumu.”
“Aku tidak mau meninggalkanmu Raga.”
“Kenapa?”
“Karena aku mencintaimu.”
Raga mengusap wajahnya.
“Aku juga mencintaimu. Justru karena itu aku harus pergi.”
Aku menangis.
“Mas, Acila membutuhkan ayah.”
“Aku tahu itu.”
“Kalau kamu pergi, bagaimana?”
“Aku akan mencari pekerjaan. Kalau sudah punya uang, aku pasti pulang.”
“Kapan Itu Ga?”
Raga terdiam tak bisa memastikan.
“Aku tidak tahu.”
Aku memeluknya erat.
“Jangan pergi Ga.”
Ia membalas pelukanku. Untuk beberapa saat kami hanya diam. Malam sebelum keberangkatannya, hujan turun deras. Atap rumah bocor di beberapa tempat. Kami tidur bertiga di satu sudut yang masih kering.
Raga memandang Acila lama sekali.
“Dia cantik,” katanya.
“Mirip kamu.”
Raga tersenyum.
“Semoga dia tidak mengalami kehidupan seperti kita.”
Aku menggenggam tangannya.
“Masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya.”
Raga menatapku.
“Kalau suatu hari nanti kamu memilih kembali kepada orang tuamu, jangan merasa bersalah.”
“Aku tidak akan memilih itu.”
“Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi.”
“Aku tahu apa yang aku mau.”
Raga diam. Kemudian ia berkata pelan,
“Kalau aku tidak kembali sebelum pernikahan kita, jangan tunggu aku terlalu lama.”
Aku langsung menatapnya.
“Kenapa bicara seperti itu?”
Ia tersenyum tipis.
“Tidak apa-apa.”
Aku tahu ada sesuatu yang disembunyikannya. Tetapi aku terlalu takut bertanya. Pagi-pagi sekali Raga pergi. Ia mencium kening Acila. Kemudian mencium keningku.
“Jaga anak kita.”
“Ga, juga jaga dirimu baik-baik.”
“Aku akan pulang.”
“Janji?”
“Janji.”
Aku berdiri di depan rumah sampai tubuhnya menghilang di ujung jalan.
****
Hari pertama aku masih menunggu. Hari kedua aku sudah mulai gelisah. Hari ketiga teleponnya tidak aktif. Hari keempat aku menghubungi teman-temannya.
Tidak ada yang tahu. Akhirnya aku membawa Acila pulang ke rumah ayah dan ibu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Ketika ibu membuka pintu dan melihatku, ia hanya diam. Aku menangis.
“Bu, maafkan aku.”
Ibu memandang Acila. Kemudian memelukku.
“Masuklah.”
Ayah yang melihat kami dari ruang tengah tidak mengatakan apa-apa. Namun ketika Acila berlari kecil ke arahnya, ayah langsung menggendongnya. Malam itu aku tidur di kamar lamaku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa aman. Tetapi hatiku tetap tertinggal pada Raga.
Sudah hampir seminggu ia tidak memberi kabar. Aku duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi ponsel. Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
“Jangan cari Raga lagi.”
Aku mengernyit. Pesan kedua muncul.
“Dia tidak pergi sendirian.”
Jantungku berdegup kencang. Aku segera menemui ayah.
“Ayah, lihat ini.”
Ayah membaca pesan itu. Wajahnya berubah.
“Dari siapa?”
“Aku tidak tahu.”
Ayah mengambil ponselku.
“Jangan balas.”
“Kenapa?”
Ayah tidak menjawab. Ia hanya menatap layar seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang sangat ia takutkan.
“Ayah tahu sesuatu?”
“Tidak.”
“Tapi wajah Ayah...”
“Agnes, dengarkan Ayah. Untuk sementara jangan mencari Raga.”
Aku semakin bingung.
“Kenapa?”
Ayah terdiam cukup lama. Kemudian ia berkata,
“Karena ada alasan kenapa dulu Ayah sangat melarangmu bersama Raga.”
Aku menatapnya.
“Apa maksud Ayah?”
Belum sempat ayah menjawab, terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah. Ibu keluar dari kamar. Kami semua diam. Beberapa detik kemudian terdengar ketukan.
Tok. Tok. Tok. Ayah berdiri.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban. Kemudian suara laki-laki terdengar dari balik pintu.
“Agnes.”
Aku langsung mengenal suara itu. Raga. Aku hendak membuka pintu, tetapi ayah menahanku.
“Jangan.”
“Kenapa? Itu Raga!”
Ayah menatapku dengan wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Kalau benar dia, kenapa dia datang ke sini?”
Aku terdiam. Di balik pintu, suara Raga terdengar lagi.
“Agnes, buka pintunya. Aku pulang.”
Air mataku jatuh. Namun, sebelum aku sempat bergerak, ponselku kembali bergetar. Satu pesan masuk.
“Kalau laki-laki di depan pintu itu benar Raga, tanyakan kepadanya siapa yang menyuruhnya pergi.”
Aku menatap layar. Kemudian menatap pintu. Suara Raga kembali terdengar.
“Agnes, buka.”
Tanganku gemetar. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak yakin apakah orang yang selama ini kutunggu benar-benar sedang berdiri di balik pintu. (*)
*) Felix Sugar berasal dari Manggarai-Flores, NTT adalah seorang Mahasiswa di Institut Filsafat Teknologi Kreatif Ledalero.
Ia telah giat dalam menulis dibeberapa media-media lokal maupun sudah mempublikasikan 35 artikel pada jurnal ilmiah. Selain itu, Ia telah menerbitkan dua buku dengan judul Langit Pernah Menulis Kita di Tubuh Senja (2024) dan Sapu Tangan Tanya? (2025).
Simak terus berita dan artikel opini gubukinspirasi.iddi Google News
0 Komentar