Ringkasan Berita:
- Muhamad Yasin Bowo melakukan perjalanan nekat membawa replika patung gajah emas seberat 1,5 ton dari Kutai Timur ke Solo.
- Perjalanan menggunakan mobil pikap tersebut menghadapi kendala muatan berlebih hingga sempat terguling di kawasan Telaga Sarangan.
- Misi utama perjalanan ini adalah menyampaikan aspirasi program keagamaan 'Santri Bersatu' dan pembacaan Al-Qur'an nasional kepada Joko Widodo.
gubukinspirasi.id, SANGATTA – Perjalanan ribuan kilometer mengarungi lautan dan jalur darat ditempuh Muhamad Yasin Bowo demi mengantarkan sebuah karya tak biasa.
Pria asal Desa Makmur Jaya, Kecamatan Kombeng, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) ini nekat membawa replika patung gajah berwarna emas berukuran besar, kurang lebih berat 1,5 ton, hingga ke Kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, di Solo.
Perjuangan tersebut bukanlah hal yang mudah bagi pria yang akrab disapa Pak Bowo ini.
Menggunakan armada mobil pikap Grand Max, ia bersama rekan-rekannya merayap perlahan menembus jalanan Kalimantan Timur menuju Pelabuhan Samarinda sebelum akhirnya menyeberang ke Pulau Jawa.
Tantangan fisik dan teknis terus membayangi sepanjang rute penyeberangan hingga perjalanan darat di Jawa.
Beban serta muatan yang melebihi kapasitas membuat kendaraan yang dibawanya kerap berhadapan dengan aturan lalu lintas serta kondisi medan yang ekstrem.
"Satu kan tidak lolos semuanya dari kepolisian karena overload. Tingginya overload, panjangnya overload, beratnya overload, lebarnya overload karena mobil kecil Grand Max. Ya nekat aja sembunyi-sembunyi, kalau siang enggak berani jalan, jadi kalau malam aja saya jalan," ungkap Muhamad Yasin Bowo saat diwawancarai, Sabtu (12/9/2026).
Setibanya di Pulau Jawa, musibah sempat menghampiri rombongan saat melintasi jalur pegunungan di kawasan Telaga Sarangan, lereng Gunung Lawu.
Kendaraan yang membawa replika patung gajah berbahan olahan kertas, kayu, dan bambu itu terguling akibat rute yang curam dan sempit.
Kerusakan pada fisik replika patung tak terhindarkan usai insiden tersebut. Rasa lelah dan tegang sempat membuat nyalinya ciut di tengah perjalanan yang belum usai.
Namun, uluran tangan dari sesama warga dan rekan-rekan komunitas persaudaraan di sepanjang jalur Tawangmangu membantu mengevakuasi serta memperbaiki struktur patung hingga bisa kembali melanjutkan perjalanan menuju Solo.
"Sempat guling di Sarangan, Telaga Sarangan gunung itu. Sebenarnya saya sudah mau menyerah karena guling. Tapi kan ada teman-teman yang bantuin benerin. Proses pembuatannya sendiri 1,5 bulan, orang empat yang ngerjain, biayanya ya 70-an juta," tuturnya.
Meski patung gajah berlapis warna emas itu menyita perhatian publik dan narasumber yang ditemuinya, Bowo menegaskan bahwa patung tersebut hanyalah simbol pendukung.
Tujuan utamanya melintasi antarpulau adalah menyampaikan aspirasi dan program keagamaan serta kebudayaan kepada tokoh nasional.
Patung gajah emas tersebut dirancang sebagai perlambang kekuatan, perdamaian, dan kebersamaan, sekaligus menyimbolkan tekad persatuan umat melalui gagasan "Santri Bersatu" untuk mendukung visi Indonesia Emas.
Kehadirannya di Solo juga membawa misi pengusulan program pembacaan Al-Qur'an secara nasional pada momentum Hari Santri Nasional, yang telah dilaksanakannya secara konsisten dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.
"Sebenarnya yang kita bawa dan kita harap itu bukan masalah gajahnya, tapi program yang kita bawa. Saya diundang karena termasuk di Seni Budaya Muslim Nahdlatul Ulama, mengajukan program kepada pemerintah di Hari Santri Nasional diadakan pembacaan Al-Qur'an secara nasional," jelasnya.
Gagasan mengenai simbol gajah itu sendiri memiliki riwayat spiritual personal bagi Bowo.
Penentuan figur gajah berawal dari kenangan dan pesan mendalam yang diterimanya dari ulama kharismatik almarhum KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) saat ia bersilaturahmi di masa lalu.
Pesan bernuansa isyarat dari almarhum ulama tersebut terus disimpannya hingga akhirnya diwujudkan dalam bentuk fisik karya replika raksasa ini.
Pengalaman batin itu dipadukan dengan semangat toleransi antarumat beragama yang terus digelorakannya dari kawasan pedalaman Kutai Timur.
"Dulu Mbah Moen waktu saya di sana bikin gajah kecil. Beliau bilang, 'Mas Bowo, nanti gajah ini jadi besar loh'. Tak simpan terus, ternyata benar-benar gajah ini jadi besar. Makanya saya bikin karena ada asal muasalnya dari Mbah Maimoen," urai Bowo penuh haru.
Usai niatannya menyampaikan amanah program dan menyerahkan karya tersebut disambut hangat di Solo, Bowo menyimpan harapan besar agar aspirasi pembangunan karakter berbasis keagamaan dan simbol kebersamaan dapat diakomodasi oleh pemerintah pusat.
Selain mendorong program pembacaan Al-Qur'an nasional, ia juga merancang pembangunan monumen Al-Qur'an di tempat tinggalnya di Desa Makmur Jaya serta mendukung pembuatan simbol-simbol kerukunan agama lainnya.
Bagi Bowo dan rekan-rekannya di Kutai Timur, perjuangan jarak jauh ini merupakan wujud kontribusi nyata warga daerah dalam menjaga persatuan bangsa.
"Harapan kami Hari Santri Nasional itu benar-benar diwujudkan dengan pembacaan Al-Qur'an secara nasional. Kita juga mau bikin monumen Al-Qur'an di Makmur Jaya situ, dan pohon natal terbesar sebagai bentuk toleransi beragama," pungkasnya. (*)
0 Komentar