Oleh: Agusni AH*)
MALAM belum benar-benar selesai ketika laut di sekitar Anak Krakatau tiba-tiba berubah warna. Dari kejauhan, pulau kecil itu tampak seperti tungku raksasa yang baru saja dibuka dari perut bumi. Langit memerah, bukan oleh fajar, melainkan oleh semburan pijar yang melontarkan batu-batu panas ke udara. Abu vulkanik mengambang seperti kabut hitam, menutup bintang satu demi satu.
Lalu terdengar suara itu. Bukan sekadar dentuman, melainkan gemuruh panjang yang seolah datang dari dasar dunia. Laut bergetar. Gelombang menggulung tanpa arah. Dari lereng Anak Krakatau, aliran lava pijar merayap perlahan menuju pantai. Merah menyala di antara hitam bebatuan, seperti urat nadi bumi yang terbuka.
Di atas sebuah perahu kecil yang terombang-ambing beberapa mil dari pulau itu, seorang lelaki berdiri memandang ke arah cahaya merah tersebut. Ia tidak tahu apakah yang sedang dilihatnya adalah akhir dari sebuah pulau atau awal dari sesuatu yang selama ini tersembunyi di bawah laut.
Angin membawa bau belerang. Napasnya terasa berat.
Kemudian, dari tengah kegelapan laut, terdengar suara lain.
Dari bawah perahu.
Tok.
Tok.
Tok.
Tiga kali.
Lelaki itu menunduk.
Permukaan laut masih hitam, tetapi di bawahnya tampak sesuatu bergerak—sebuah cahaya merah yang tidak berasal dari lava Anak Krakatau.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia menyadari bahwa mungkin bukan gunung yang sedang meletus.
Mungkin lautlah yang sedang membuka mulutnya.
Sementara itu, jalan-jalan, permukiman, kota, dan desa telah lebih dahulu ditelan debu vulkanik. Lalu-lalang kendaraan terhenti. Aktivitas manusia yang biasanya riuh mendadak kehilangan suara. Atap-atap rumah memutih, pepohonan merunduk di bawah beban abu, dan udara berubah pekat seperti senja yang tak pernah beranjak.
Tak ayal, transportasi penerbangan pun seketika kehilangan denyutnya. Bandara-bandara menjadi sunyi. Landasan pacu tertutup abu, dan pesawat-pesawat yang semestinya membelah langit dipaksa diam di darat.
Langit seperti kehilangan napas.
Di antara daratan dan lautan, manusia seolah sedang menyaksikan sebuah dunia yang perlahan-lahan dimatikan oleh tangan tak terlihat dari perut bumi.
Mat Rani, yang berada di antara Laut Selatan dan Laut Sunda, menemukan daratan di kejauhan. Samar-samar, garis pantai muncul di balik tirai abu yang menggantung rendah.
Ia merogoh saku celananya. Layar gawai menyala dalam gelap.
Satu pesan masuk.
"Bang, aku terbang. Insya Allah, petang nanti mendarat. Jemput, ya...!"
Mat Rani terdiam.
Jantungnya seperti tersentak.
Ia segera membuka ruang percakapan dan mengetik cepat, hendak meminta Dhura mengurungkan perjalanan udara sampai pasak bumi itu reda dari memuntahkan isi perutnya. Namun, pesan yang dikirim hanya berhenti pada satu centang.
Mat Rani menatap layar beberapa detik.
Tak ada tanda pesan diterima. Tak ada balasan.
Barangkali Dhura telah lebih dahulu mengudara. Barangkali ponselnya telah dimatikan. Atau mungkin jaringan seluler tak lagi mampu menembus pekat abu vulkanik yang menggantung di udara.
Mat Rani memasukkan kembali gawainya ke saku.
Di kejauhan, Anak Krakatau kembali menggelegar.
Saat itu ia sadar, Dhura sedang terbang menuju langit yang mungkin sebentar lagi akan kehilangan tempat bagi pesawat untuk pulang.
Kabar itu datang seperti petir yang menyambar di tengah sunyi.
Runway telah diselimuti debu vulkanik tebal. Sejak tiga puluh menit lalu, bandara dinyatakan tertutup total. Tak ada pesawat yang diizinkan lepas landas. Tak ada pula yang boleh mendarat.
Mat Rani membaca kabar itu berulang kali.
Dadanya mendadak sesak.
Jika kabar itu benar, pesan Dhura tadi bukan lagi sekadar perjalanan yang tertunda. Ia mungkin sudah berada di udara—tergantung di antara langit yang mulai menghitam dan bumi yang sedang muntah.
Di kejauhan, Anak Krakatau kembali memuntahkan pijar. Abu membumbung tinggi, menelan cakrawala sedikit demi sedikit.
Mat Rani menggenggam gawainya erat-erat.
“Dhura...” bisiknya.
Tetapi laut hanya menjawab dengan deburan yang semakin berat.
Pesawat-pesawat yang terlanjur take off kini berada dalam situasi yang tak pernah mereka bayangkan. Landasan pacu telah ditutup, tetapi beberapa penerbangan sudah lebih dahulu meninggalkan bumi. Mereka telanjur mengudara, memasuki langit yang perlahan berubah menjadi kelabu pekat oleh abu vulkanik.
Di dalam kabin, penumpang belum sepenuhnya menyadari apa yang sedang terjadi. Mesin masih meraung, tetapi di balik jendela, langit tak lagi biru. Hanya gumpalan awan gelap dan serpihan abu yang berkelebat seperti ribuan jarum kecil.
Bandara telah mati di bawah sana.
Dan pesawat-pesawat yang terlanjur take off kini tak tahu apakah mereka sedang menuju tujuan atau sedang terbang menuju sebuah langit yang tak menyediakan jalan pulang.
Satu titik kecil dari sebentuk bumi ini mengerang, tetapi erangannya melampaui kedigdayaan terbesar dari segala mahakarya manusia. Gunung itu hanya setitik di hamparan planet yang luas, namun dari perutnya keluar suara yang sanggup mengguncang laut, menggetarkan daratan, dan membuat langit kehilangan warna.
Mat Rani tak mampu membayangkan apa yang sedang dirasakan Dhura bersama para pejalan udara lainnya. Mereka kini berada di antara pesawat-pesawat yang menganga melintasi cakrawala langit raya—jauh di atas bumi yang sedang mengamuk, namun justru semakin dekat dengan kemungkinan yang tak seorang pun mampu menerka.
Di bawah sana, laut berwarna kelam.
Di atas sana, abu vulkanik mulai merayap ke jalur penerbangan.
Mat Rani memandang langit yang semakin legam.
Barangkali manusia memang hanya sedang menumpang sebentar di antara dua ketakutan: bumi yang tak lagi diam dan langit yang tak lagi ramah.
Persis seperti sinema yang selama ini hanya hidup di layar-layar tontonan—tentang manusia yang terkurung dalam tabung logam, menggantung ribuan meter di atas bumi, ketika langit tiba-tiba berubah menjadi panggung paling dramatis bagi kematian.
Bedanya, kali ini tak ada sutradara.
Tak ada adegan ulang.
Tak ada tombol pause.
Setiap detik berlangsung sungguhan.
Di dalam pesawat, wajah-wajah menegang. Sebagian penumpang merapatkan sabuk pengaman, sebagian lain menggenggam tangan orang di sebelahnya. Lampu kabin berkedip.
Dari balik jendela, cakrawala telah berubah menjadi dinding hitam yang bergerak perlahan.
Dan, di antara raungan mesin serta getaran badan pesawat, terdengar satu pertanyaan yang tak seorang pun berani mengucapkannya:
Jika langit telah kehilangan jalan pulang, ke mana manusia harus mendarat?
“Ya, bagaimana Dhura bisa mendarat?” gumam Mat Rani lirih, di antara degup jantungnya yang mulai terasa terguncang.
Debu vulkanik semakin tebal, ikut menyelimuti tubuhnya, rambutnya, bahkan bibir yang sejak tadi terus menggumamkan nama perempuan itu.
Pikiran dan batinnya beraduk-aduk.
Untuk pertama kalinya, Mat Rani merasa kehilangan bukan lagi sesuatu yang berada di ujung kemungkinan, melainkan sedang bergerak mendekatinya, perlahan dan pasti.
Ia dan Dhura bukan hanya telah gagal naik pelaminan yang pernah mereka impikan bersama. Ada ketakutan yang jauh lebih besar kini menghantam dadanya: pesawat yang ditumpangi kekasihnya sejak lama mungkin akan berakhir di udara.
Ia kembali meraih gawai dari saku.
Tetap satu centang.
Mat Rani menatapnya lama, seolah dari sebaris kecil tanda itu ia berharap dapat menemukan jalan menuju Dhura.
“Jawablah, Dhura...”
Namun layar tetap bisu.
Di kejauhan, Anak Krakatau menggelegar lagi. Suaranya merambat melalui laut, daratan, dan tubuh Mat Rani seperti kabar buruk yang belum menemukan kata-kata.
Di tengah kegundahan akan kondisi udara—entah bagaimana nasib Dhura bersama manusia-manusia lain yang sedang menggantung di antara awan dan abu—bumi di bawah kaki manusia perlahan berubah menjadi tungku raksasa.
Dari tubuh Anak Krakatau, batu cair mengalir seperti sungai merah, menyusuri daratan, membelah jalan-jalan, menelan pemukiman, dan menyapu apa saja yang berdiri di atasnya.
Orang-orang berlarian.
Mereka menjerit, memanggil nama anak, ibu, pasangan, dan Tuhan.
Namun tak seorang pun tahu ke mana harus melarikan diri.
Jalan-jalan yang dahulu menjadi tempat manusia pulang kini berubah menjadi aliran pijar. Rumah-rumah runtuh sebelum sempat ditinggalkan. Pohon-pohon terbakar tanpa sempat mengeluarkan suara.
Tak terkecuali Mat Rani.
Tubuhnya terseret arus panas, kemudian terlempar ke laut.
Ia mengapung beberapa saat di antara buih, abu, dan serpihan bumi yang terbakar. Matanya masih terbuka, mencari sesuatu di langit—barangkali pesawat Dhura, barangkali sebuah tanda bahwa kekasihnya masih hidup.
Lalu tubuhnya perlahan tenggelam.
Dan hanya manusia yang berada di udara—di dalam pesawat-pesawat yang terlanjur meninggalkan bumi—yang tersisa dari amukan neraka itu.
Namun mereka belum tahu satu hal:
Langit yang mereka kira tempat keselamatan ternyata sedang membawa mereka menuju akhir di tempat yang lain.
Banda Aceh, 8 September 2026
*) PENULIS Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP/KPU) Aceh, mantan Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA) Kota Langsa dua periode, dan Ketua PWI Perwakilan Aceh Timur dua periode, aktif menulis esai, opini, cerpen, dan puisi.
Buku antologi tunggalnya adalah Teja Merambat Bumi, serta Merengkuh Asa yang ditulis dan digagas bersama Putra Zulfirman. Karya terbarunya adalah buku kumpulan cerpen Tikai yang telah terbit.
Karya-karyanya juga terhimpun dalam sejumlah antologi puisi bersama, di antaranya Lagu Kelu dan Maha Duka Aceh. Cerpennya telah dimuat di harian Waspada Medan dan waspada.id. Pada era 1990-an, karya-karyanya juga terbit di Harian Serambi Indonesia serta beberapa media daring lainnya.
Di tengah aktivitasnya sebagai penyelenggara pemilu, ia tetap menekuni dunia literasi sebagai ruang untuk merawat nalar, rasa, dan nurani.
0 Komentar