
gubukinspirasi.id, SINGARAJA– Pohon beringin berusia ratusan tahun di kawasan jaba tengah Pura Desa Adat Buleleng terbakar pada Jumat 11 September 2026, sekitar pukul 11.00 Wita.
Besarnya kobaran api ditambah embusan angin mengakibatkan dua bangunan pelinggih di sekitarnya ikut terbakar.
Dua pelinggih yang terbakar masing-masing merupakan pelinggih Penyarikan dan Pejenengan.
Keduanya berada di bagian selatan dan barat Pura Desa.
Untuk diketahui, di bawah pohon beringin tersebut terdapat sebuah pelinggih.
Sedangkan kondisi pohon beringin kering sejak beberapa bulan lalu.
Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna menyebut titik awal kebakaran adalah di pohon beringin.
Namun apa yang menjadi pemicunya, Jro Sutrisna belum bisa memastikan.
Menurut mantan Kepala Dinas Pariwisata Buleleng ini, kebakaran disinyalir akibat ada krama yang melakukan sembahyang di kawasan beringin.
Mengingat hari ini (kemarin) bertepatan dengan hari suci Tilem.
“Apinya bermula pada pohon beringin. Sekarang kan hari suci Tilem, mungkin ada yang maturan di Sor Beringin,” katanya.
Jro Sutrisna mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat menggunakan dupa maupun sarana yang dapat memicu api, khususnya di kawasan pura.
Ia mengingatkan dupa yang masih menyala diminta tidak ditinggalkan begitu saja karena kondisi lingkungan saat ini kering dan berangin.
Akibat peristiwa ini, bagian atap pelinggih yang terbuat dari ijuk mengalami kerusakan. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Buleleng, Gede Arya Suardana, mengatakan proses pemadaman berlangsung selama dua jam.
Dalam proses tersebut Damkar Buleleng menghabiskan tiga tangki air.
Menurut Arya Suardana, berdasakan pemantauan sementara sumber api berasal dari pohon beringin yang kering. Terlebih embusan angin di sekitar cukup besar, sehingga kobaran api cepat membesar.
“Mengenai apa penyebabnya, apakah itu dupa, kami belum bisa memastikan,” ucapnya.
Sementara itu, kebakaran juga melanda kandang sapi di Banjar Dinas Bergong, Desa Poh Bergong, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Kamis 10 September 2026 sore.
Nahas, dua sapi milik warga bernama Ketut Sukantri mati akibat insiden tersebut.
Kasi Humas Polres Buleleng, Iptu Yohana Rosalin Diaz, mengungkapkan peristiwa ini bermula saat warga sekitar bernama Ketut Manis menyabit rumput di sekitar kandang Sukantri, sekitar pukul 16.30 Wita.
Setengah jam kemudian saat hendak pulang membawa rumput, pria 42 tahun itu mendapati kandang telah kebakaran.
“Saksi segera mencari dan memberitahu Kadek Ratnada bahwa kandang sapi milik bibinya kebakaran,” ucapnya seizin Kapolres Buleleng, AKBP Ruzi Gusman, Jumat 11 September 2026.
Mendapat informasi tersebut, Ratnada ditemani Ketut Manis kembali lokasi kebakaran untuk menyelamatkan sapi.
Namun kobaran api sudah membesar, sehingga keduanya tidak bisa masuk ke dalam kandang untuk melepaskan tali pengikat sapi.
Warga sekitar kemudian bergotong royong melakukan pemadaman secara manual sambil menunggu petugas pemadam kebakaran (Damkar) tiba di lokasi.
Sedangkan penanganan kebakaran dari pihak Damkar sendiri berlangsung selama sejam.
Akibat kejadian tersebut, kandang sapi semi permanen berukuran sekitar 4x5 meter ludes terbakar.
Dua ekor sapi yang berada di dalam kandang juga ditemukan mati tak jauh dari lokasi.
“Kerugian yang dialami korban ditaksir mencapai Rp 23 juta,” ungkap Yohana.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Buleleng, Gede Arya Suardana, mengatakan pihaknya telah melakukan investigasi untuk mengungkap penyebab kebakaran kandang sapi.
Dari hasil investigasi, ditemukan adanya aktivitas pembakaran sekam padi dan sisa rumput di sekitar kandang sebelum kebakaran terjadi.
Aktivitas tersebut dilakukan oleh pemilik, dengan tujuan untuk menghalau nyamuk dan lalat yang mengganggu sapi.
“Sebelum meninggalkan kandang sapi, pemilik sudah memadamkan sekam dan sisa rumput. Karena sudah merasa aman pemilik kemudian meninggalkan kendang,” ucapnya.
Selang beberapa menit kemudian, warga mendapati di dalam kandang sudah ada kobaran api.
Warga berinisiatif menolong sapi yang terjebak di kandang, namun kondisi kandang digembok dan api semakin membesar.
“Warga bergotong royong memadamkan api menggunakan air dari parit sebelah barat kandang. Atas petunjuk babinsa setempat, warga kemudian menghubungi tim Damkar Buleleng untuk memastikan api benar-benar padam,” kata dia.
Pihaknya kembali mengingatkan masyarakat agar berhati-hati menggunakan api, terutama saat membakar sampah maupun membersihkan lahan. Imbauan ini menyusul temuan sejumlah kebakaran lahan yang diduga dipicu aktivitas pembakaran oleh masyarakat.
“Kami mengimbau masyarakat jangan membakar sampah sembarangan. Selain berpotensi merembet ke area lain, kondisi lahan yang kering dan angin kencang membuat api lebih cepat membesar dan sulit dikendalikan,” tandasnya. (mer)
Kumpulan Artikel Buleleng
0 Komentar