
Pengalaman Menarik Selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS)
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) adalah momen penting yang sering dianggap sebagai awal dari perjalanan akademis seorang siswa. Bagi banyak siswa baru, MPLS menjadi pengalaman yang penuh tantangan namun juga penuh kesan. Dari rasa gugup hingga kegembiraan dalam mengenal teman-teman baru dan lingkungan sekolah, setiap cerita memiliki makna tersendiri.
Hari Pertama yang Mendebarkan
Hari pertama MPLS di SMP Dharma Bangsa merupakan pengalaman yang sangat berkesan bagi seorang siswa. Sejak malam sebelumnya, ia tidak bisa tidur karena rasa gugup. Di pagi hari, ia bangun lebih awal, memakai seragam putih biru yang masih kaku dan harum detergen. Perasaan cemas terus menghantui saat tiba di sekolah, dengan halaman yang penuh sesak oleh siswa-siswa baru.
Setelah apel pembukaan, mereka diarahkan ke aula untuk mengikuti sesi pengenalan. Saat kelompoknya diminta maju memperkenalkan diri, ia nyaris membeku. Namun, respons positif dari teman-teman membuatnya merasa lebih tenang. Kegiatan seperti permainan kelompok dan sesi "kenalan unik" membantu ia menemukan teman-teman yang memiliki minat serupa, seperti suka membaca dan bermain game.
Pulang dari sekolah, ia merasa seperti baru saja melewati tantangan besar dan berhasil. Pengalaman ini memberinya keberanian untuk membuka diri dan menghadapi petualangan baru.
Teman Tak Terduga di Lapangan Sekolah
Hari kedua MPLS di SMP Pertiwi dimulai dengan terik matahari yang menyengat. Di lapangan belakang, siswa-siswa baru berkumpul untuk mengikuti kegiatan outbond dan perkenalan antar kelompok. Salah satu anak perempuan, Dita, mendekati siswa tersebut dan mereka langsung merasa cocok karena sama-sama bingung dan belum kenal siapa pun.
Ketika diberi tugas membuat logo kelompok, mereka bekerja sama dan hasilnya mendapat puji dari kakak OSIS. Saat istirahat, mereka berbagi bekal dan cerita, sehingga hubungan semakin dekat. Di hari terakhir MPLS, mereka bahkan tampil bersama dalam lomba yel-yel dan berhasil masuk tiga besar. Pengalaman ini mengajarkan bahwa kadang teman datang dari pertemuan yang tidak direncanakan.
Pelajaran Berharga dari Kakak OSIS
Salah satu pengalaman yang sangat berkesan adalah ketika seorang siswa menghadapi kakak OSIS yang awalnya ditakuti. Kak Riko, sosok yang tampak tegas dan suara lantang, justru menjadi sumber inspirasi. Ia mulai dengan memperkenalkan diri bukan hanya sebagai kakak OSIS, tetapi juga sebagai seseorang yang pernah merasakan kecemasan yang sama.
Di hari kedua, ketika kelompoknya diminta membuat penampilan yel-yel, siswa tersebut merasa ragu. Namun, kata-kata Kak Riko membawanya untuk berani mencoba. Setelah tampil, ia merasa percaya diri dan bahkan mendaftar ekstrakurikuler public speaking. Pengalaman ini menunjukkan bahwa dukungan dari orang lain dapat membawa perubahan besar dalam diri seseorang.
Cerita Pendek tentang Pengalaman Hari Pertama Sekolah di SD
Bagi siswa SD, hari pertama sekolah sering kali penuh kecemasan. Dalam sebuah cerita pendek, seorang anak bangun dengan perasaan aneh di perut, seperti ada kupu-kupu yang terbang ke sana kemari. Ia memakai seragam putih merah baru dan memegang tangan Bunda erat-erat. Saat sampai di gerbang sekolah, ia melihat banyak anak lain yang juga memegang tangan orang tua mereka.
Bu Guru yang ramah membantunya merasa lebih tenang. Saat jam istirahat, seorang anak laki-laki duduk di sebelahnya dan menawarkan pensil warna biru. Mereka mulai berbicara tentang kartun yang disukai dan mainan yang dibawa. Bu Guru lalu menyuruh mereka menggambar tentang keluarga. Gambar itu membuat Bu Guru mengangguk dan berkata, “Bagus sekali. Bunda pasti bangga.”
Hari pertama sekolah memang sulit, tetapi berkat Bu Guru dan teman barunya, ia merasa lebih berani. Ia pulang sambil tersenyum kecil, dan di dalam hati berkata, “Besok aku mau datang ke sekolah lagi dan lebih berani dari hari ini.”
Pengalaman di Hari Pertama Sekolah di SMP
Hari pertama sekolah di SMP sering kali penuh dengan rasa campur aduk antara gugup dan penasaran. Di salah satu cerita, seorang siswa berdiri di depan gerbang SMP Bina Jaya dengan seragam barunya yang terasa agak kaku. Ia berdiri sambil menunduk, mencoba menenangkan detak jantungnya yang terasa cepat.
Setelah upacara, ia duduk di barisan tengah dekat jendela. Seorang anak perempuan duduk di sebelahnya dan menawarkan obrolan. Mereka berbicara tentang anime dan saling merasa lebih tenang. Kegiatan MPLS dimulai dengan pengenalan guru, video motivasi, dan permainan kelompok. Di akhir hari, ia berkata, “Untung aku duduk di sebelah kamu.” Dan jawaban Dina pun mengakhiri hari pertama yang penuh kejutan.
Yel-Yel Penuh Kejutan
Suasana lapangan SMP Cahaya Bangsa pagi itu semarak. Musik senam berdentum dari pengeras suara, membuat para siswa baru yang masih mengantuk jadi terpaksa bergerak mengikuti irama. Aku termasuk yang canggung, berdiri di ujung barisan, berharap tidak terlalu diperhatikan.
Setelah senam, kami dibagi ke dalam kelompok. Kelompok 5, itulah tempatku bergabung. Isinya beragam, ada yang pendiam, ada yang ramai. Rama, sang ketua kelompok, langsung heboh. "Kita harus jadi kelompok paling semangat!" serunya lantang.
Ternyata ada lomba yel-yel antarkelompok. Aku langsung panik. Aku tidak bisa tampil di depan umum. Tetapi Rama tidak peduli. Ia mulai mencatat lirik-lirik dan gerakan yang konyol. "Tenang, kamu tinggal tepuk tangan saja. Gampang kok," katanya saat melihat wajahku yang pucat.
Kami berlatih di bawah pohon besar di pinggir lapangan. Meski awalnya malu, lama-lama aku terbawa suasana. Anak-anak lain ikut tertawa dan menyumbang ide gerakan yang absurd. Saat tampil, Rama memulai dengan gaya robot, lalu kami semua mengikuti irama dengan penuh semangat.
Tiba-tiba seluruh lapangan tertawa, termasuk para guru. Ternyata gaya robot Rama benar-benar lucu. Kelompok kami pun mendapat sorakan paling meriah. Di akhir sesi, diumumkan bahwa Kelompok lima menjadi pemenang yel-yel. Aku melongo. "Tidak menyangka sama sekali..." gumamku.
"Makanya, jangan diam terus. Kamu tuh bisa kalau berani coba," ucap Rama sambil menepuk bahuku.
Bertemu Teman Satu Hobi
Alarm ponselku berbunyi lebih pagi daripada biasanya. Aku langsung bangun dengan semangat. Setelah bersiap dan sarapan, aku memeriksa ulang isi tas. Buku catatan, alat tulis, botol minum, dan komik mini kesayanganku. Aku memang hobi menggambar dan suka membaca komik, jadi komik itu selalu kubawa sebagai "teman" saat merasa bosan.
Begitu tiba di sekolah, suasananya sangat ramai. Para siswa baru dibariskan di lapangan. Kakak-kakak OSIS tampak sibuk memandu jalannya kegiatan. Mereka mengenakan selempang berwarna biru dan berbicara dengan nada tegas, tetapi tetap ramah.
Aku dipanggil ke Kelompok tiga. Di sana, aku melihat seorang anak laki-laki duduk sambil mencoret-coret di buku kecil. Karena penasaran, aku duduk di sebelahnya dan melirik pelan. "Kamu suka menggambar juga?" tanyaku. Dia langsung tersenyum. "Iya! Aku sedang membuat sketsa karakter. Aku Aldi. Kamu?" "Aku Bima," jawabku. "Wah, keren sekali gambarmu!"
Sejak itu, kami terus mengobrol. Ternyata kami sama-sama menyukai anime, menggambar karakter, dan pernah ikut lomba komik daring. Rasanya sangat menyenangkan bisa langsung nyambung di hari pertama.
Kegiatan MPLS hari itu dimulai dari perkenalan guru, tur keliling sekolah, hingga permainan kelompok. Aku dan Aldi berada dalam satu tim untuk permainan tebak gaya. Aldi menjadi penebak, dan aku berperan sebagai orang yang bergaya. Saat aku menirukan karakter pahlawan super favorit kami, Aldi langsung menebaknya dengan cepat dan tepat.
"Kita hebat juga, ya!" kata Aldi sambil tertawa. Kelompok kami pun menang dan mendapat permen dari kakak OSIS.
Saat waktu makan siang tiba, kami duduk di taman belakang sekolah sambil membuka bekal. Aldi menunjukkan buku sketsanya, dan aku juga memperlihatkan beberapa gambar milikku yang tersimpan di ponsel. "Nanti kita ikut ekstrakurikuler seni, ya!" seru Aldi. Aku langsung mengangguk dengan semangat.
Sore harinya, saat MPLS selesai, kami berdua berjanji untuk membawa karya masing-masing besok. Hari pertama yang awalnya membuatku deg-degan ternyata berubah menjadi hari penuh kejutan dan awal pertemanan yang menyenangkan.
Hari Pertama di Sekolah Baru
Sinar pagi menjalar perlahan melalui celah jendela kamar. Aku membuka mata dengan jantung berdebar, antara senang dan gugup. Hari ini adalah awal dari petualangan baru, hari pertama MPLS di SMA Cakrawala Nusantara.
Begitu tiba di sekolah, aku melihat halaman dipenuhi siswa berseragam rapi. Suasananya riuh namun menyenangkan, wajah-wajah baru tampak penasaran sekaligus sedikit tegang. Kami semua diarahkan ke lapangan untuk mengikuti upacara pembukaan. Pak Herman, kepala sekolah, menyambut kami dengan penuh semangat.
"Selamat datang di keluarga besar SMA Cakrawala Nusantara! Jadilah siswa yang aktif, berprestasi, dan berkarakter," ucapnya lantang.
Setelah upacara selesai, kami dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Aku ditempatkan di kelompok tiga bersama lima teman lainnya. Pembimbing kami adalah Kak Rika, siswi kelas XII yang ramah dan ceria.
"Halo semuanya! Aku Kak Rika. Yuk, kita kenalan dulu supaya makin akrab," katanya sambil tersenyum.
Satu per satu, kami memperkenalkan diri. Ada Lina yang jago melukis, Bima yang hobi bermain futsal, dan Tania yang suka menulis cerpen. Saat giliranku tiba, aku berkata, "Aku Arka. Aku senang bermain gitar dan tertarik gabung dengan band sekolah."
Hari pertama diisi dengan kegiatan pengenalan lingkungan sekolah. Kami diajak berkeliling gedung, mengunjungi ruang-ruang kelas, laboratorium, hingga perpustakaan. Di setiap tempat, Kak Rika menjelaskan berbagai fasilitas dan fungsinya.
"Kalau yang ini ruang komputer. Di sini kalian bisa menggunakan fasilitasnya untuk membuat tugas atau ikut ekskul multimedia," jelasnya antusias.
Setelah tur selesai, kami berkumpul di aula untuk bermain game ice breaking. Permainannya sederhana tapi sangat seru. Tawa teman-teman mengisi ruangan, perlahan menghapus rasa canggung di antara kami.
"Baru hari pertama, tapi udah seru banget!" ujar Bima sambil tertawa.
Hari kedua, kegiatan mulai lebih serius. Kami mendengarkan motivasi dari alumni yang sudah sukses di bidangnya, mengenal berbagai ekstrakurikuler, dan mengikuti sesi kreativitas. Mataku langsung tertuju pada stand klub musik. Tanpa ragu, aku mendaftar. Kak Rika terus membantu dan memastikan tak ada dari kami yang merasa tersisih.
Tak terasa, hari terakhir MPLS pun tiba. Kami diberi kesempatan tampil di pentas seni. Kelompokku sepakat membawakan drama pendek tentang persahabatan. Meski latihan hanya sebentar, kami berhasil membuat penonton tersenyum dan bertepuk tangan. Rasanya hangat sekali melihat teman-teman tertawa bersama.
MPLS kali ini bukan hanya tentang mengenal sekolah, tapi juga tentang menjalin koneksi dan menumbuhkan rasa percaya diri. Aku merasa lebih siap menjalani hari-hari di SMA. Saat pulang ke rumah pun, langkahku ringan dan hati dipenuhi rasa bahagia.
0 Komentar