1.600 Santri Baru Ikuti Osabar 2025, Pesantren Nurul Jadid Bekali Karakter dan Kemandirian Sejak Awal


PROBOLINGGO, GUBUKINSPIRASI.id
– Sekitar 1.600 santri baru Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, resmi mengikuti kegiatan Orientasi Santri Baru (Osabar) tahun 2025 yang digelar mulai Senin (14/7/2025). Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membekali para santri agar siap menghadapi kehidupan pesantren, baik dari sisi karakter, nilai-nilai keislaman, maupun kemandirian.

Kegiatan Osabar merupakan agenda tahunan yang rutin digelar di awal tahun ajaran baru. Tahun ini, peserta berasal dari jenjang SLTP dan SLTA. Selain sebagai ajang pengenalan lingkungan, Osabar juga dirancang sebagai ruang pembentukan karakter dan penguatan semangat kebersamaan di antara para santri.

Ketua pelaksana Osabar 2025, Ahmad Jazim, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan budaya pesantren dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi di Pondok Pesantren Nurul Jadid.

"Osabar akan digelar selama dua hari, dimulai dari pembukaan hingga penyampaian materi-materi penting tentang kehidupan pesantren," kata Jazim saat memberikan sambutan pembukaan, Senin (14/07/2025).

Materi yang disampaikan meliputi pengenalan sejarah dan visi misi pesantren, tata tertib dan etika kehidupan santri, serta profil tokoh dan alumni pesantren yang telah berkiprah secara nasional maupun internasional.

"Selain materi, para santri juga akan disuguhi hiburan edukatif seperti games dan kegiatan interaktif lainnya guna menumbuhkan keakraban dan semangat kebersamaan," tambahnya.

Dalam rangkaian pembukaan, Gus Hilman Zidny Romzi turut memberikan tausiyah yang menekankan pentingnya niat tulus dalam menuntut ilmu. Ia mengajak para santri baru untuk menjadikan pesantren sebagai tempat mengasah ilmu, akhlak, dan kedewasaan spiritual.

"Ilmu agama sangat penting untuk dipelajari secara mendalam, agar kelak saat kembali ke masyarakat, kalian mampu menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin," ujar Gus Hilman.

Ia menekankan bahwa tantangan kehidupan setelah lulus dari pesantren tak hanya berkutat pada hafalan kitab, melainkan juga kemampuan sosial dan kontribusi nyata di tengah masyarakat.

“Nanti kalau kalian sudah pulang, masyarakat tidak akan bertanya tentang mubtada’ dan khabar. Maka, manfaatkan waktu di pesantren untuk sungguh-sungguh belajar, bukan hanya dalam bidang ilmu agama, tetapi juga dalam hal akhlak, keterampilan, dan tanggung jawab sosial,” tegasnya.


Osabar juga menjadi momen penting untuk menanamkan identitas santri sebagai agen perubahan yang tidak hanya religius, tetapi juga mandiri dan berdaya saing. Dalam suasana penuh semangat, para santri baru mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias.

Pondok Pesantren Nurul Jadid sendiri dikenal sebagai salah satu pesantren besar di Jawa Timur yang telah melahirkan banyak tokoh penting di bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan. Dengan orientasi yang terstruktur dan penuh makna, Osabar 2025 menjadi pintu masuk yang strategis dalam membentuk generasi santri yang tidak hanya taat secara spiritual, tetapi juga adaptif terhadap perubahan zaman. (*)

0 Komentar