Apa Itu Cat Bebas Timbal? Pilihan Sehat untuk Kesehatan

Featured Image

Apa Itu Cat Bebas Timbal dan Mengapa Penting?

Cat bebas timbal merujuk pada jenis cat yang tidak mengandung atau memiliki kadar timbal sangat rendah, sehingga memenuhi standar keamanan yang ditetapkan untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan. Timbal adalah logam berat yang sering digunakan dalam produksi cat karena mampu meningkatkan daya tahan dan kualitas warna. Namun, di sisi lain, timbal juga dikenal sebagai bahan berbahaya yang dapat mengganggu perkembangan otak anak-anak.

Warna cat yang mengandung kadar timbal tinggi sering kali terlihat lebih cerah, seperti merah, kuning, oranye, hijau, dan biru. Warna-warna ini umumnya digunakan untuk ruang bermain anak-anak, yang semakin meningkatkan risiko paparan timbal.

Dampak Kesehatan dari Paparan Timbal

Paparan timbal bisa menyebabkan risiko kesehatan serius yang tidak selalu terlihat secara langsung. Efeknya bisa mencakup kerusakan permanen seperti penurunan kecerdasan, gangguan belajar, serta masalah perilaku. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga rentan terkena dampak negatif dari paparan timbal, termasuk tekanan darah tinggi, sakit kepala, pusing, gangguan motorik, kelelahan, hingga kehilangan ingatan.

Efek samping ini tidak hanya berasal dari serpihan cat yang terlihat, tetapi juga dari debu timbal dalam jumlah kecil yang mudah terhirup atau tertelan. Ketika keracunan timbal terjadi, dampaknya bisa bertahan seumur hidup.

Angka Tinggi Penggunaan Cat Bertimbal di Indonesia

Sebuah studi yang diterbitkan oleh World Bank Policy Research Working Papers menunjukkan bahwa lebih dari 57 persen rumah di Indonesia menggunakan cat yang mengandung timbal. Survei ini dilakukan terhadap 5.056 rumah tangga yang terdiri dari 17.455 individu di seluruh Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 57,9 persen rumah tangga dengan cat bagian dalam bangunan mengandung timbal.

Lebih dari 10 juta anak, atau sekitar 46 persen dari anak berusia lima tahun ke bawah, tinggal di rumah dengan cat bertimbal. Berdasarkan wilayah, cat dengan kandungan timbal paling banyak ditemukan di Maluku dan Papua, sekitar 77 persen. Sumatera menempati posisi kedua dengan sekitar 76 persen rumah yang menggunakan cat mengandung timbal. Di Kalimantan, 64 persen sampel rumah ditemukan mengandung timbal, sedangkan Sulawesi mencapai angka sekitar 61 persen. Wilayah Jawa-Bali memiliki angka sekitar 51 persen, dan Nusa Tenggara memiliki prevalensi terendah dibandingkan wilayah lain, yaitu sekitar 46 persen.

Studi ini juga mengungkap adanya kesenjangan sosial ekonomi terkait paparan cat bertimbal. Masyarakat dengan kondisi ekonomi lebih rendah cenderung tinggal di rumah-rumah dengan cat bertimbal.

Regulasi dan Standar Nasional Indonesia (SNI)

Saat ini, Indonesia belum memiliki aturan yang mewajibkan seluruh produsen cat untuk membuat produk bebas timbal. Meski begitu, SNI telah menetapkan ambang batas timbal yang boleh terkandung di dalam produk cat. Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kementerian Perindustrian, Emmy Suryandari, menjelaskan bahwa saat ini SNI bersifat sukarela. Namun, setiap produsen telah memproduksi cat sesuai aturan, yakni kandungan timbal di bawah 90 parts per million (ppm).

Ambang batas tersebut telah disesuaikan dengan ketentuan organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tidak wajib, produsen cat sudah berupaya mematuhi standar keamanan yang berlaku.

Kesimpulan

Cat bebas timbal menjadi penting untuk melindungi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak. Meskipun Indonesia belum memiliki regulasi yang mewajibkan penggunaan cat bebas timbal, SNI memberikan batasan yang cukup ketat. Masyarakat perlu lebih waspada dan memilih produk cat yang aman untuk keluarga. Dengan kesadaran akan bahaya timbal, langkah-langkah preventif bisa diambil untuk mengurangi risiko paparan berbahaya.

0 Komentar