Drama Tali Rafia di Sekolah: Cinta Ibu, Ambisi Orang Tua, dan Sistem yang Lupa

Featured Image

Kehadiran Tali Rafia di Bangku Sekolah: Simbol Harapan dan Perasaan Orang Tua

Sebelum bel sekolah berbunyi, sebuah video yang menampilkan tali rafia yang mengikat tas ke bangku barisan paling depan sudah membuat heboh dunia maya. Video tersebut diunggah oleh akun TikTok @yuyunrahayumc dan menunjukkan bagaimana seorang orang tua melakukan upaya ekstra untuk memastikan anaknya duduk di posisi terdepan.

Tidak ada alasan yang jelas selain kekhawatiran akan posisi duduk. Bukan karena takut tas jatuh, melainkan karena takut anaknya duduk di belakang. Aksi ini terjadi lima hari sebelum masa belajar mengajar dimulai, bahkan sebelum guru duduk di meja mereka sendiri.

Sistem tempat duduk di kelas telah dirancang agar adil, dengan rotasi setiap minggu. Namun, bagi para orang tua, sistem ini belum cukup untuk menenangkan hati mereka. Mereka memiliki harapan besar bagi anak-anak mereka, sehingga segala cara dianggap layak dilakukan.

Netizen Terbagi: Antara Rasa Haru dan Kritik

Komentar di media sosial pun terbagi menjadi dua kelompok. Ada yang menyayangkan aksi 'overprotective' dari sang ibu, sementara banyak juga yang membela tindakan itu. Mereka melihatnya sebagai bentuk cinta yang tulus meskipun cara yang digunakan terlihat kaku.

Banyak netizen menulis bahwa orang tua seharusnya percaya pada sistem sekolah dan tidak perlu sampai melakukan hal-hal seperti mengikat tali rafia. Namun, beberapa lainnya justru melihat sisi positif dari tindakan tersebut. Mereka berpikir bahwa mungkin saja si ibu pernah mengalami pengalaman buruk saat duduk di belakang, sehingga ingin memberikan kesempatan lebih baik bagi anaknya.

Namun, ada juga yang mengkritik tindakan guru yang merekam dan menyebarkan momen tersebut. Mereka menilai masalah ini seharusnya diselesaikan secara pribadi, bukan melalui konten viral. Mereka merasa kasihan pada sang ibu dan berharap bisa diberi tahu dengan cara yang lebih lembut.

Fenomena Tahunan di Sekolah: Tali Rafia, Handuk, Hingga Botol Minum

Aksi 'booking kursi' bukanlah hal baru. Banyak guru dari berbagai sekolah mengatakan bahwa mereka sering melihat fenomena serupa setiap tahun ajaran baru. Beberapa orang tua bahkan datang subuh hanya untuk menempatkan barang-barang seperti botol minum atau handuk kecil di bangku.

Beberapa netizen yang mengaku sebagai guru juga berbagi pengalaman mereka. Mereka mengatakan bahwa tiap tahun selalu ada orang tua yang melakukan hal ini, meskipun sistem rotasi sudah diterapkan. Ini menunjukkan betapa kuatnya keinginan orang tua untuk memastikan anaknya mendapatkan posisi terbaik.

Bangku Depan: Simbol Harapan, Bukan Sekadar Posisi Duduk

Pada dasarnya, ini bukan hanya tentang posisi duduk. Ini adalah tentang kekhawatiran dan harapan. Dalam pendidikan, bangku depan dianggap sebagai simbol prestasi, perhatian guru, dan masa depan yang cerah.

Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya keinginan orang tua untuk anaknya sukses. Sayangnya, semangat itu kadang mengabaikan aturan dan etika. Setiap tahun ajaran baru tiba, banyak sekolah menyatakan niat mereka untuk mengedukasi orang tua murid tentang sistem duduk bergilir agar semua anak merasa adil.

Namun, video ini juga menjadi cerminan bahwa komunikasi antara sekolah dan wali murid masih perlu diperkuat. Bukan hanya melalui aturan, tetapi juga melalui empati dan pemahaman.

Tali rafia itu mungkin bisa dilepas dengan mudah, tapi 'tali harapan' seorang ibu terhadap anaknya sering kali sulit untuk dilonggarkan. Seperti kata salah satu netizen, "Lucu ya… kadang kasih sayang itu bentuknya absurd. Tapi ya itulah cinta orang tua: niat baik, cara salah, pelajaran berharga."

0 Komentar