
Surat untuk Diri yang Dulu
Jika kamu membaca tulisan ini, mungkin kamu akan menangis. Tapi bukan karena kamu lemah. Kamu menangis karena akhirnya kamu tahu: kamu sudah sejauh ini bertahan. Kamu sudah melewati banyak hal yang dulu kamu pikir akan membunuhmu pelan-pelan.
Aku ingat jelas hari-hari itu. Hari-hari di mana aku bangun tidur tapi tak benar-benar ingin bangun. Hari-hari di mana senyumku hanya topeng. Hari-hari di mana aku memaksa diriku untuk kuat, padahal jiwaku sudah lelah bahkan hanya untuk bernapas.
Aku tidak bisa lupa rasanya menjadi orang yang merasa paling sendirian di tengah keramaian. Aku tidak bisa lupa bagaimana aku mengurung diri di kamar, menatap langit-langit, dan bertanya kepada Tuhan, "Apa salahku?" "Kenapa hidup harus seberat ini?"
Dan yang paling menyakitkan: tidak ada jawaban.
Lalu datanglah luka. Bukan hanya satu, tapi bertubi-tubi. Dikhianati oleh orang yang kupikir akan menetap. Ditinggalkan oleh teman yang dulu berjanji akan tetap ada. Dihancurkan oleh kata-kata yang begitu tajam, dari orang yang seharusnya menjaga.
Dan aku? Aku diam. Aku menangis dalam diam. Aku belajar menyeka air mata sendiri, karena aku sadar, tidak semua orang bisa jadi tempat bersandar. Aku belajar tertawa padahal hatiku remuk. Aku belajar berjalan meski kakiku gemetar.
Waktu itu, aku merasa semuanya berakhir. Tapi ternyata, itu adalah permulaan dari versi diriku yang berbeda. Versi yang lebih sadar. Versi yang lebih kuat. Versi yang lebih paham bahwa tidak semua luka harus dilawan. Beberapa cukup diterima agar tidak semakin dalam.
Hari ini, aku sudah tidak tinggal di masa lalu itu. Tapi aku tidak akan pernah benar-benar meninggalkannya. Karena justru di sanalah aku belajar banyak hal yang tidak diajarkan buku, tidak bisa dijelaskan guru, dan tidak dimengerti orang lain.
Aku belajar bahwa patah hati bukan akhir segalanya, tapi proses untuk melihat siapa diriku yang sebenarnya. Aku belajar bahwa ditinggalkan bukan berarti aku tidak layak, tapi karena Tuhan sedang menyingkirkan yang tidak tepat. Aku belajar bahwa kehilangan kadang adalah penyelamatan tersembunyi.
Dan akhirnya, aku sadar: Aku paham kenapa aku harus melewati semua itu. Agar aku berhenti mencari cinta dari orang lain, dan mulai mencintai diriku sendiri. Agar aku tidak lagi berharap orang lain mengisi kekosonganku, tapi belajar menikmati kehadiran diriku. Agar aku paham bahwa tidak semua yang pergi harus kembali, dan tidak semua luka harus disembuhkan oleh orang lain.
Sekarang, ketika aku menatap ke belakang, aku masih bisa menangis. Tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena bangga. Aku bangga pada diriku yang dulu. Aku bangga karena tidak menyerah. Aku bangga karena di tengah segala kehancuran, aku tetap memilih bangkit meski pelan, meski tertatih.
Aku pernah patah. Itu benar. Tapi aku juga tumbuh dari patah itu. Aku pernah hancur. Tapi aku juga membangun kembali diriku sendiri. Dan sekarang? Aku paham. Bahwa jalan hidup ini memang tidak selalu ramah, tapi selalu mengarah pada versi terbaik dari diri kita jika kita bertahan cukup lama.
Untuk kamu yang sedang merasa patah, Percayalah, kamu tidak akan selamanya hancur. Hari ini boleh saja kamu menangis, tapi suatu hari kamu akan menulis cerita seperti ini. Cerita tentang bagaimana kamu bertahan, tentang bagaimana kamu paham bahwa semua sakitmu bukan sia-sia.
Karena luka itu bukan akhir. Kadang ia hanyalah guru yang menyamar. Dan patah itu bukan kehancuran, tapi proses membentuk ulang hati kita, agar bisa mencintai dengan lebih bijak, lebih sehat, dan lebih utuh.
Aku pernah ada di titik itu. Dan jika aku bisa melewati semuanya, kamu juga bisa. Jangan buru-buru pulih. Tapi jangan berhenti berjalan.
Aku dulu patah. Sekarang aku paham. Dan mungkin, suatu saat kamu juga akan sampai ke titik itu.
0 Komentar