Gelombang Tinggi Rusak Tiga Rumah di Landangan, Babinsa & Polri Sigap Evakuasi Warga Pesisir Situbondo

SITUBONDO, Jawa Timur – Gelombang laut setinggi dua hingga tiga meter disertai angin kencang menerjang kawasan pesisir Dusun Laok Bindung, Desa Landangan, Kecamatan Kapongan, Senin (14/7/2025) dini hari. Terjangan ombak menghantam tiga rumah yang berdiri hanya beberapa meter dari garis pantai, mengakibatkan kerusakan berat pada bagian ruang tamu, dapur, dan kamar tidur. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, total kerugian material diperkirakan mencapai Rp 35 juta.

Respons Kilat Aparat Gabungan

Tak lama setelah laporan warga masuk, aparat gabungan TNI–Polri, Satpol PP, dan perangkat desa bergerak cepat ke lokasi. Serda Bambang Tri Handoko, Babinsa Koramil 0823/03 Kapongan, memimpin tim awal evakuasi bersama Kepala Desa Landangan Kamilul Ma’arif dan Bhabinkamtibmas setempat.

“Keselamatan warga prioritas utama. Kami memastikan tidak ada penduduk yang terjebak reruntuhan dan mengevakuasi barang-barang penting sebelum gelombang susulan tiba,” kata Serda Bambang di sela kegiatan asesmen cepat.

Personel TNI membantu mendirikan tenda darurat di halaman balai desa, sementara Satpol PP menutup radius 50 meter di sekitar rumah terdampak guna mencegah warga—andai gelombang pasang kembali terjadi—mendekat ke zona bahaya.

Kronologi Singkat Kejadian

01.45 WIB – Angin kencang bertiup dari arah tenggara, menimbulkan gelombang setinggi lebih dari dua meter.

02.10 WIB – Puncak ombak menghantam dinding belakang rumah milik Suhatina, diikuti dua rumah tetangga (Anastain dan Suryana).

02.30 WIB – Listrik padam di RT 03/RW 04; warga menghubungi perangkat desa.

03.30 WIB – Aparat gabungan tiba, mengevakuasi keluarga terdampak ke aula masjid terdekat.


Menurut catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo, fenomena gelombang tinggi kali ini dipicu meningkatnya kecepatan angin timuran yang lazim terjadi sepanjang Juli–Agustus di pesisir utara Jawa Timur.

Faktor Risiko: Pemukiman Terlalu Dekat Garis Pantai

Kepala Desa Landangan, Kamilul Ma’arif, mengungkapkan bahwa puluhan rumah di Laok Bindung berdiri di atas lahan milik negara (tanah HP Pantai). “Setiap tahun kami diterpa rob atau ombak besar. Relokasi ke lahan lebih aman sudah diajukan, tapi menunggu kepastian lahan pengganti,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemerintah desa telah menandai zona merah setinggi 20 meter dari bibir pantai—area yang semestinya steril dari bangunan permanen. “Bila program relokasi disetujui, warga terdampak akan ditempatkan di tanah kas desa di bagian selatan,” katanya.

Kampanye Mitigasi Berbasis Komunitas

Serda Bambang menegaskan bahwa TNI siap mendukung program relokasi maupun mitigasi jangka panjang. “Kami akan mengadakan simulasi evakuasi dan pelatihan pertolongan pertama kepada warga pesisir. Babinsa akan menjadi penghubung dengan BPBD dan tenaga medis Puskesmas Kapongan,” ujarnya.

Pihak desa, bersama kelompok nelayan, tengah menyiapkan penghalang pasir (sandbag wall) sebagai tanggul sementara sebelum langkah permanen dibangun. Selain itu, pemasangan early warning system berbasis sirene dan pesan singkat akan diuji coba bulan depan untuk mempercepat peringatan dini.

Suara Korban dan Harapan

Meski syok, para pemilik rumah terdampak bersyukur tidak ada korban luka. “Dinding dapur ambruk, perabot rusak. Tapi yang penting keluarga selamat,” tutur Suhatina, sembari membersihkan puing. Ia berharap proses bantuan material bangunan dari Pemkab Situbondo bisa segera terealisasi, mengingat musim angin timuran masih berlangsung hingga September.

Upaya Pemerintah Daerah

Kepala BPBD Situbondo Eko Purnomo—yang meninjau lokasi pada siang hari—menjelaskan bahwa pihaknya akan menyalurkan paket bantuan logistik, terpal, serta material bangunan ringan. Tim teknis juga diminta memeriksa struktur rumah lain yang retak akibat getaran ombak. “Tiga rumah rusak berat, tujuh rusak ringan. Semua akan kami data untuk percepatan bantuan rehab,” tegasnya.

Pemkab Situbondo menargetkan penyusunan peta risiko pesisir Kapongan rampung akhir 2025, lengkap dengan rekomendasi tata ruang, pembangunan sabuk pantai (sea wall), dan penanaman mangrove di titik kritis.

Pelajaran untuk Pesisir Lain

Analis kebencanaan Universitas Jember, Dr. Rina Pramesti, menilai kejadian di Landangan menjadi alarm bagi daerah pesisir berkarakter serupa. “Wilayah datar tanpa penghalang vegetasi maupun sabuk pantai rentan diterjang gelombang tinggi. Edukasi adaptasi harus menyasar keluarga pesisir—dari memastikan dokumen penting dalam tas darurat hingga rute evakuasi,” katanya lewat sambungan telepon.

Penutup: Sinergi TNI–Masyarakat sebagai Kunci

Bencana memang tak dapat dihindari, tetapi dampaknya bisa ditekan jika sinergi lintas sektoral berjalan baik. Aksi cepat Babinsa, Polri, dan perangkat desa Landangan menunjukkan model respons gempa atau gelombang tinggi yang efektif: evakuasi, asesmen, dan mitigasi berikutnya.

Dengan langkah relokasi dan penguatan sistem peringatan dini, warga berharap tragedi serupa tak terulang. Sampai itu terwujud, semangat gotong royong dan kesigapan aparat tetap menjadi benteng pertama melindungi pesisir Landangan. (*)

0 Komentar