Hari Pertama Sekolah Rakyat: Harapan Anak Jatim Menjemput Masa Depan

Featured Image

Sekolah Rakyat di Jawa Timur: Awal Baru bagi Anak-anak Kurang Mampu

Di berbagai daerah di Jawa Timur, hari pertama masuk Sekolah Rakyat (SR) menjadi momen yang penuh haru dan antusiasme. Siswa-siswi dari keluarga kurang mampu datang dengan semangat, membawa tas besar, seragam baru, serta perlengkapan untuk tinggal di asrama. Mereka menunjukkan senyum bahagia dan harapan besar terhadap masa depan pendidikan mereka.

Di Kota Probolinggo, Muhammad Riyan, siswa kelas 1 SMP, mengaku sangat senang bisa menempuh pendidikan berasrama secara gratis. Ia tidak sendiri; ratusan anak lainnya di 19 titik SR di Jatim juga menunjukkan antusiasme yang sama. “Saya punya teman baru dan bisa sekolah gratis. Kalau kangen orang tua bisa dikunjungi,” ujarnya di eks gedung Rusunawa PPI Mayangan, lokasi SR Kota Probolinggo.

Antusiasme bukan hanya datang dari para siswa, tetapi juga dari para orang tua. Sugiarti, seorang ibu rumah tangga dari keluarga buruh tani, rela berjalan kaki tiga kilometer demi mengantar anaknya. Matanya berkaca-kaca saat menceritakan betapa program ini membuka harapan baru. “Senang sekali, ini sangat membantu. Sebelumnya saya sempat takut tidak bisa sekolahkan anak,” ungkapnya.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang memantau langsung kegiatan hari pertama SR di Probolinggo menyampaikan optimismenya terhadap dampak besar program ini dalam menciptakan keadilan pendidikan dan mengentaskan kemiskinan. “Pendidikan adalah jalan paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan,” ucap Khofifah.

Program SR merupakan implementasi dari gagasan Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan pendidikan berkualitas untuk semua. Khofifah menyebut dengan sistem berasrama, pembentukan karakter dan kedisiplinan bisa lebih terarah. SR di Jatim akan berjalan dalam tiga kloter. Kloter 1A dimulai 14 Juli dengan 1.183 siswa. Kloter 1B akan menyusul 19 Juli, dan kloter 1C pada September 2025. Pemerintah juga terus membenahi fasilitas dan kesiapan asrama secara bertahap.

Kehidupan di Sekolah Rakyat: Antusiasme dan Harapan

Di Jombang, suasana tak kalah mengharukan. Anak-anak dari keluarga miskin ekstrem datang ke SKB Mojoagung menggunakan ambulans desa. Di antara mereka adalah Nisa (17) dan Jingga (13) yang datang ditemani ayah dan ibu mereka—Ani (52), seorang penyandang disabilitas. “Ini semua bawa baju untuk tinggal di sekolah. Semua gratis, alhamdulillah,” ucap Ani lirih lalu menyeka mata.

Di lokasi yang sama, Rini (46) buruh tani dari pegunungan Wonosalam datang sejak Subuh bersama putrinya Sherly (16). Motor tua mereka melintasi jarak jauh demi satu tujuan: masa depan yang lebih baik.

Di Pacitan, siswa dari pelosok desa berkumpul di Gedung Karya Dharma untuk menjalani tes kesehatan sebelum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Salah satunya Nadjua Tihta Nadia Wardhani (15) siswa dari Desa Sawahan, Donorojo. “Senang banget. Bisa ketemu teman-teman dari berbagai desa,” ujarnya.

Di Mojokerto, sebanyak 50 siswa akan menempuh pendidikan di gedung BKPSDM yang telah disulap menjadi sekolah berasrama. Salah satunya Bintang Kurnia Purnomo Putri (13) diantar kedua orang tuanya dengan penuh harap agar dia betah dan bisa menyerap ilmu dengan maksimal.

Fasilitas dan Disiplin di Asrama Sekolah Rakyat

Sementara itu, di Malang, Gedung eks Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) kini menjadi rumah baru bagi SRMA 22. Dengan wajah berbinar, Widya lulusan SMPN 6 Malang, mengucap terima kasih kepada pemerintah yang telah menyediakan program pendidikan gratis dan lengkap ini.

“Kami siapkan kurikulum karakter, kepemimpinan, pengetahuan dasar, hingga pawai budaya,” jelas Kepala Sekolah SRMA 22 Malang Rahmah Dwi Nor Wita Imtikhanah.

Kehidupan di asrama diatur dengan disiplin tinggi. Siswa wajib bangun maksimal pukul 04.30 WIB, tidak diperbolehkan membawa gawai tanpa izin, dan harus menjaga kebersihan pribadi serta fasilitas bersama. Waktu istirahat, tamu, dan jam belajar pun diatur ketat demi membangun karakter.

Fasilitas yang diberikan juga lengkap: seragam, makan tiga kali sehari, perlengkapan mandi dan ibadah, serta perlengkapan belajar. Program ini memberikan kesempatan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan merata.

0 Komentar