Haru Saat Almarhum Prof Arsad Bahri Diangkat Jadi Guru Besar via AI

Haru Saat Almarhum Prof Arsad Bahri Diangkat Jadi Guru Besar via AI

Pengukuhan Guru Besar yang Penuh Makna dan Teknologi

Di tengah suasana haru dan kebanggaan, sebuah momen pengukuhan Guru Besar di Universitas Negeri Makassar (UNM) berlangsung dengan cara yang sangat istimewa. Tidak hanya sekadar acara akademik biasa, upacara tersebut menjadi perayaan khusus bagi almarhum Prof Dr Arsad Bahri SPd MPd, seorang dosen yang telah mengabdikan hidupnya dalam dunia pendidikan.

Pengukuhan ini terasa lebih dalam karena keajaiban teknologi yang mampu menghadirkan suara almarhum melalui kecerdasan buatan (AI). Suara digital yang menyerupai suara aslinya membawakan orasi ilmiah yang ia susun semasa hidupnya. Di aula utama Menara Pinisi, setiap kata yang diucapkan terasa begitu hidup, seolah beliau benar-benar hadir secara fisik.

Ketika suara itu mulai bergema, ruangan pun terdiam. Isak tangis pun pecah. Sebagian peserta hadir merasakan kehangatan yang luar biasa, sementara yang lain mencoba menahan air mata. Istri, anak, serta orang tua Prof. Arsad duduk di barisan depan, menyimak setiap kata yang lahir dari suara digital sang almarhum. Mereka saling menggenggam tangan, berusaha tegar meskipun rasa kehilangan masih terasa.

Orasi ilmiah yang bertajuk “Strategi Problem Based Learning (PBL) Terintegrasi Reading, Questioning, and Answering (RQA) Berbasis Hologram pada Pembelajaran Biologi” bukan hanya sekadar pidato akademik. Ia adalah warisan pemikiran terakhir dari seorang dosen yang selalu berinovasi dalam pendidikan. Lewat suara digitalnya, Prof. Arsad menyampaikan bahwa inovasi dalam pendidikan harus mampu menjawab tantangan zaman.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para kolega, dosen, mahasiswa, dan keluarganya. “Terima kasih untuk UNM, sahabat-sahabat dosen, mahasiswa, Mamah, almarhum Bapak… dan terkhusus untuk istri dan anakku — cinta dan doa kalianlah yang membuat saya tetap hadir hari ini.”

Upacara ini menjadi bentuk penghormatan tertinggi atas dedikasi Prof. Arsad sebagai dosen Jurusan Biologi FMIPA UNM. Meski raga telah tiada, semangat dan kontribusinya tetap diabadikan. Pengukuhan ini juga menjadi simbol bahwa kematian tidak akan mengakhiri dedikasi seorang pendidik.

Prof. Arsad Bahri wafat pada Senin, 19 Mei 2025, di usia yang masih sangat muda, 40 tahun. Ia menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Dadi, Makassar — hanya beberapa minggu sebelum pengukuhannya sebagai Guru Besar. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai dosen teladan yang mengampu berbagai mata kuliah krusial seperti Pengembangan Bahan Ajar, Biologi Sel, Fisiologi Hewan, dan Media Pembelajaran Biologi.

Selain Prof. Arsad, tiga Guru Besar lain juga dikukuhkan, yaitu Prof Muhammad Abdy MSi PhD (Pendidikan Matematika), Prof Dr Muhiddin Palennari SPd MPd (Pendidikan Biologi), dan Prof Dr Drs Adnan MS (Pendidikan Biologi). Namun, hanya suara Prof. Arsad yang mampu menghadirkan keabadian dari seorang guru sejati.

Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof Karta Jayadi, resmi mengukuhkan empat orang guru besar UNM. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa bangga terhadap sosok guru besar yang dikukuhkan. Ia mengatakan bahwa penyampaian oleh keempat guru besar dalam acara ini sangat luar biasa.

Selain itu, rektor juga memberikan informasi tentang jumlah profesor dan dosen UNM saat ini. Saat ini, UNM memiliki 161 profesor dan 252 dosen yang akan segera menjadi profesor. Rektor mengharapkan agar karya dari guru besar hari ini dapat memberikan banyak manfaat bagi dirinya, UNM, bangsa, dan negara.

Acara penutup ini diakhiri dengan harapan bahwa semua tamu undangan dapat mencapai prestasi dengan ridho dari Tuhan yang Maha Esa. Dan hari itu, Menara Pinisi menjadi saksi bahwa meski satu nyawa telah pergi, ilmu dan keteladanan Prof. Arsad Bahri tetap hidup, selamanya.

0 Komentar