Istri Brigadir Nurhadi Nafikan Suami Terlibat Pesta dan Narkoba: Hanya Merokok Saja

Istri Brigadir Nurhadi Nafikan Suami Terlibat Pesta dan Narkoba: Hanya Merokok Saja

Peristiwa Kematian Brigadir Muhammad Nurhadi yang Mencurigakan

Elma Agustina, istri dari Brigadir Muhammad Nurhadi, mengungkapkan perasaannya terkait kematian suaminya yang masih menjadi misteri. Ia menegaskan bahwa suaminya tidak terlibat dalam pesta dan tidak mengonsumsi obat terlarang seperti Rikolona maupun Ekstasi.

Pengakuan Elma tentang Kondisi Terakhir Suaminya

Elma mengenang percakapan video terakhir dengan suaminya pada Rabu, 16 April 2025, pukul 16.00 Wita. Saat itu, Nurhadi dalam keadaan sehat dan tidak menunjukkan tanda-tanda kecurigaan. “Dia tanyakan anak-anak, tidak ada masalah apa-apa,” ujarnya. Ia juga menyebut bahwa suaminya tampak segar dan sehat saat berbicara melalui video call.

Setelah itu, putra keduanya yang berusia 5 tahun mencoba menghubungi Nurhadi sekitar pukul 17.00 Wita, namun panggilan tidak diangkat. Pada Kamis, 17 Mei 2025, pukul 02.00 Wita, kabar duka datang. Elma merasa tidak percaya karena sebelumnya, suaminya sempat pamitan dan bercanda.

Penyangkalan terhadap Tuduhan Pesta dan Narkoba

Elma menolak klaim bahwa suaminya terlibat dalam pesta atau mengonsumsi obat terlarang. Menurutnya, Nurhadi tidak pernah mengonsumsi minuman keras atau narkoba. “Merokok saja dia tidak bisa, apalagi memakai obat-obatan dan minum minuman keras. Itu sama sekali tidak benar,” katanya sambil menahan air mata.

Ia juga membantah tuduhan bahwa dirinya menerima uang sebesar Rp 400 juta dari tersangka Kompol Yogi agar tidak memperkarakan kasus ini. “Itu semua fitnah. Saya tidak akan menukar nyawa suami saya dengan uang.”

Keluarga yang Hidup dalam Kesederhanaan

Keluarga Nurhadi hidup dalam kesederhanaan. Mereka memiliki dua orang anak laki-laki, dengan putra pertama berusia 5 tahun dan putra kedua baru berusia 4 bulan. Nurhadi meninggalkan putra keduanya ketika usianya hanya 1 bulan.

Nurhadi dikenal sebagai sosok pendiam, baik hati, dan rajin beribadah. Ia juga dikenal sebagai penolong dan jujur di lingkungan tempat tinggalnya. Kakak kandungnya, Dewi, mengatakan bahwa Nurhadi adalah adik yang sangat baik dan penurut. “Bagaimana saya bisa menerima kematiannya, karena semua itu tidak wajar, itu tidak adil untuk dia.”

Kejanggalan dalam Kasus Kematian

Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Polda NTB mengungkap bahwa kematian Brigadir Nurhadi bukanlah kecelakaan biasa. Ada satu jam krusial yang tidak terekam oleh CCTV. Direktur Ditreskrimum Polda NTB, Kombes Pol Syarif Hidayat, menjelaskan bahwa momen tersebut berlangsung antara pukul 20.00 hingga 21.00 Wita. Dalam satu jam itu, tidak ada rekaman CCTV yang menangkap aktivitas di lokasi.

Dugaan penganiayaan terjadi di Villa Tekek, Gili Trawangan, saat mereka sedang berpesta. Penyidik menduga bahwa selama waktu tersebut, terjadi dugaan pencekikan. Hasil ekshumasi menunjukkan bahwa Nurhadi mengalami patah tulang lidah dan leher karena cekikan, serta luka-luka pada wajah hingga kaki.

Hasil Autopsi dan Keterangan Dokter Forensik

Dokter ahli forensik, Arfi Syamsun, mengungkapkan bahwa Brigadir Nurhadi dicekik dan ditenggelamkan ke kolam dalam kondisi masih hidup. Hasil autopsi menunjukkan bahwa Nurhadi mengalami patah tulang lidah dan leher akibat cekikan. Selain itu, ia juga mengalami luka-luka pada wajah hingga kaki. Diduga, kematian terjadi karena tenggelam setelah pingsan.

Arfi Syamsun menjelaskan bahwa saat korban berada di dalam air, ia masih hidup dan meninggal karena tenggelam yang disebabkan oleh pingsan. Luka memar atau resapan darah di kepala bagian depan maupun belakang juga ditemukan. “Jadi ada kekerasan pencekikan yang utama yang menyebabkan yang bersangkutan tidak sadar atau pingsan sehingga berada di dalam air.”

Tersangka yang Ditetapkan

Polda NTB telah menetapkan tiga tersangka dalam kasus ini, yaitu Kompol I Made Yogi Purusa Utama, Ipda Haris Chandra, serta seorang wanita berinisial M yang ikut liburan di Gili Trawangan. Sampai saat ini, penyidik belum mendapatkan pengakuan dari para tersangka terkait kematian Brigadir Nurhadi. Meski begitu, hasil pemeriksaan menggunakan alat poligraf menunjukkan bahwa sebagian besar keterangan para tersangka tidak jujur.

0 Komentar