Kejang Absans: Penyebab, Tanda, Komplikasi, dan Pengobatan

Featured Image

Apa Itu Kejang Absans?

Kejang absans, juga dikenal sebagai kejang petit mal, adalah jenis kejang yang lebih sering terjadi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Kondisi ini ditandai dengan penurunan kesadaran yang singkat dan terjadi secara tiba-tiba. Seseorang yang mengalami kejang absans mungkin terlihat seperti sedang bengong atau memiliki tatapan kosong selama beberapa detik hingga kembali sadar.

Kejang absans disebabkan oleh aktivitas listrik abnormal di otak. Meski tidak menyebabkan cedera fisik, kondisi ini bisa memengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir dan belajar. Kejang absans umumnya terjadi pada anak-anak dan sering kali dikaitkan dengan gangguan lain seperti kejang tonik-klonik.

Jenis-Jenis Kejang Absans

Ada dua jenis utama kejang absans, yaitu kejang absans tipikal dan kejang absans atipikal. Keduanya memiliki durasi yang singkat, tetapi gejalanya sedikit berbeda. Kejang absans tipikal biasanya lebih mudah dikenali karena gejala yang jelas, seperti tatapan kosong dan gerakan kecil. Sedangkan kejang absans atipikal mungkin lebih sulit dikenali karena gejalanya lebih ringan dan tidak terlalu jelas.

Karena kejang absans terjadi begitu cepat, seringkali orang tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kejang. Ini membuat diagnosis menjadi lebih sulit, terutama pada anak-anak.

Gejala Kejang Absans

Gejala utama dari kejang absans adalah tatapan kosong atau bengong sesaat, yang biasanya berlangsung sekitar 10 hingga 20 detik. Setelah kejang berakhir, orang tersebut tidak akan ingat apa yang terjadi selama kejang tersebut. Beberapa gejala tambahan yang mungkin muncul antara lain:

  • Tiba-tiba berhenti bergerak tanpa jatuh
  • Menggigit bibir
  • Kelopak mata bergetar
  • Gerakan mengunyah
  • Menggosok jari
  • Gerakan kecil pada kedua tangan

Beberapa anak mungkin mengalami episode kejang ini beberapa kali dalam sehari, yang dapat mengganggu proses belajar dan aktivitas sehari-hari. Penurunan kemampuan belajar atau ketidakmampuan untuk memperhatikan saat belajar bisa menjadi tanda awal dari kejang absans.

Penyebab Kejang Absans

Kejang absans terjadi akibat perubahan aktivitas listrik abnormal di otak. Sel-sel saraf di otak mengirimkan sinyal kimia dan listrik satu sama lain untuk berkomunikasi. Ketika aktivitas ini terganggu, kejang dapat terjadi.

Meskipun penyebab spesifik dari kejang absans belum sepenuhnya diketahui, faktor genetik diyakini berperan penting. Beberapa mutasi gen pengode saluran ion telah dikaitkan dengan perkembangan kejang absans pada keluarga tertentu.

Faktor Risiko Kejang Absans

Beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kejang absans antara lain:

  • Usia: Paling sering terjadi pada anak usia 4 hingga 12 tahun.
  • Pemicu: Hiperventilasi atau lampu berkedip bisa memicu kejang absans.
  • Jenis kelamin: Lebih sering terjadi pada anak perempuan.
  • Riwayat keluarga: Anak dengan riwayat epilepsi dalam keluarga memiliki risiko lebih tinggi.

Diagnosis Kejang Absans

Jika anak mengalami kejang, segera konsultasikan ke dokter spesialis saraf. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan tentang gejala yang dialami. Tes yang mungkin dilakukan meliputi:

  • Tes darah dan urine untuk mengecek adanya infeksi.
  • EEG (electroencephalography) untuk mengukur aktivitas gelombang otak.
  • VEEG (video electroencephalography) untuk merekam aktivitas otak dan perilaku selama kejang.
  • Pemindaian CT scan, MRI, atau PET/MRI untuk mendapatkan gambar detail otak.

Pengobatan Kejang Absans

Sebagian besar kasus kejang absans dapat diobati dengan obat antikejang. Obat-obatan seperti ethosuximide, lamotrigine, asam valproat, atau divalproex sodium sering digunakan. Sebagian besar anak dengan kejang absans dapat mengendalikannya sebelum mencapai usia 18 tahun, sehingga pengobatan mungkin tidak lagi diperlukan.

Anak yang mengalami kejang absans sejak usia muda memiliki peluang lebih besar untuk sembuh dibandingkan yang mengalaminya setelah usia 10 tahun. Namun, sebagian anak mungkin memerlukan pengobatan jangka panjang.

Komplikasi yang Mungkin Terjadi

Sebagian besar penderita kejang absans dapat mengendalikan kondisinya dengan pengobatan. Namun, beberapa anak mungkin harus minum obat sepanjang hidup untuk mencegah kejang. Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain:

  • Kesulitan belajar
  • Masalah perilaku
  • Isolasi sosial

Pencegahan Kejang Absans

Meski kejang absans tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, pengobatan dan perubahan gaya hidup dapat membantu mencegah kejang. Beberapa langkah pencegahan termasuk:

  • Tidur cukup setiap hari
  • Mengelola stres dengan baik
  • Mengonsumsi makanan bergizi
  • Berolahraga secara rutin

Anak dengan kejang absans biasanya dapat hidup aktif dengan pengobatan dan gaya hidup yang sehat. Namun, beberapa aktivitas seperti mengemudi atau berenang bisa berisiko jika kejang terjadi tiba-tiba. Oleh karena itu, penting untuk selalu mengikuti rekomendasi dokter.

0 Komentar