Melepas Anak Pertama ke Sekolah Pertama kali

Featured Image

Hari Pertama Anak Masuk Sekolah

Pada hari Senin, 14 Juli 2025, menjadi momen penting bagi keluarga saya. Itu adalah hari pertama anak pertama kami, Adinda, memasuki dunia pendidikan. Meski baru mengikuti TK A atau pendidikan anak usia dini, usianya yang mendekati 5 tahun membuatnya menghadapi pengalaman pertama untuk bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Sebagai orang tua, kami sangat antusias dan memberikan dukungan penuh.

Kami membawa Adinda ke sekolah dan menemani dia di awal hari. Kami takut ia merasa canggung atau tidak nyaman. Kami menyaksikan bagaimana proses ini berjalan, melihat banyak orangtua lain yang juga membawa anak-anak mereka. Mereka membawa tas perlengkapan sekolah dan bekal makanan. Pada hari ini, agenda utamanya adalah bernyanyi dan berkenalan dengan guru. Di sekolah tersebut berkumpul puluhan anak-anak, sebagian besar berusia antara 4 hingga 6 tahun, dari kelas TK A hingga TK B. Kelas Playgroup akan dimulai pada 28 Juli 2025.

Saat tiba di sekolah, Adinda berbaris sambil sesekali melihat ke arah saya. Ia masih merasa takut kehilangan pandangan ibunya atau ayahnya. Kebetulan, adik kembarnya juga ikut, karena tadi terbangun dan menangis ingin ikut juga. Jadi, bayangkan betapa repotnya situasi ini. Sambil mengawasi anak pertama, saya juga harus mengurus adik yang belum berusia 3 tahun. Belum lagi Nathan sering kali salah 'gandeng' mamahnya, bahkan kadang memegang tangan orang lain. Hadeh.

Selama masa MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), anak-anak melakukan berbagai aktivitas seperti bernyanyi dan berkenalan dengan guru-guru. Adinda berada di kelas A3 Uwais Al Karni. Sampai saat ini, meskipun tidak menangis, Adinda tampak baik-baik saja dalam keramaian. Bahkan, saat anak-anak dari kelas TK B yang sudah lebih dulu mengenal satu sama lain bermain bersama, Adinda tidak masalah untuk ikut serta meski hanya duduk diam di bangku. Ini bisa dianggap sebagai cara pelan-pelan untuk bersosialisasi.

Menurut aturan yang ditetapkan oleh Kemendikbudristek, MPLS harus dilakukan dalam lingkungan sekolah, kecuali jika sekolah tidak memiliki fasilitas yang memadai. Kegiatan ini tidak boleh melibatkan kakak kelas atau alumni sebagai penyelenggara. Selain itu, peserta harus menggunakan seragam dan atribut resmi dari sekolah. Hal ini berbeda dari masa lalu, di mana MOS (Masa Orientasi Siswa) sering kali diisi oleh OSIS atau kakak kelas. Kini, para siswa SMA atau SMP juga mengikuti MPLS tanpa campur tangan kakak kelas. Bagi banyak orang, masa ospek dulu selalu menjadi kenangan indah dan cerita lucu yang terbentuk dari interaksi dengan teman dan kakak kelas.

Ketidaknyamanan yang Tidak Terduga

Ternyata, ada yang lebih repot dari saya. Meski saya kerepotan membawa dua anak kembar, setidaknya mereka tidak menangis dan meraung-raung. Malah mereka menikmati bermain di perosotan dan mainan yang tersedia. Namun, ada seorang bapak yang sedang mengalami kesulitan. Dua anak kembar miliknya nangis dan tantrum sepanjang hari. Bahkan guru tidak mampu menenangkan mereka. Ada juga anak yang sampai digendong oleh wali kelasnya karena terus-menerus menangis sepanjang pagi. Betapa repotnya para guru menghadapi puluhan siswa kecil dengan berbagai tantangan.

Para wali murid juga turut mengamati bagaimana para guru bekerja. Meski begitu, para guru adalah orang yang akan menjaga dan mendidik anak-anak kami. Mereka diberi amanah untuk membantu anak-anak bersosialisasi, bermain, belajar, dan memahami pembelajaran. Para guru yang dihormati oleh wali murid, kami berharap anak-anak kami bisa mendapatkan pengajaran yang baik dan pengalaman belajar yang positif. Semangat dalam mendidik di sekolah, dan kami siap mendukung agar pembelajaran berjalan lancar. Jagalah amanah kami sebagai orang tua ya ibu.

0 Komentar