Mengurangi Penyalahgunaan Ketamin

Mengurangi Penyalahgunaan Ketamin

Penyalahgunaan Ketamin yang Meningkat dan Tantangan dalam Pengawasan

Ketamin, yang awalnya dikenal sebagai obat bius dalam dunia medis, kini semakin menjadi perhatian serius karena meningkatnya potensi penyalahgunaannya. Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menyampaikan kekhawatirannya terhadap tren ini, terutama dalam dua tahun terakhir. Data menunjukkan bahwa distribusi Ketamin meningkat drastis sebesar 246 persen, dari 44 ribu vial pada 2023 menjadi 152 ribu vial pada tahun lalu.

Berdasarkan riset dan pengamatan, Ketamin memiliki efek euforia, halusinasi, serta peningkatan empati dalam kelompok sosial. Efek-efek ini membuatnya populer di kalangan generasi muda, artis, hingga tokoh bisnis ternama seperti Elon Musk. Meski Musk sempat mengaku menggunakan zat tersebut untuk bersenang-senang, ia membantah masih tergantung pada ketamin.

Bentuk Sediaan dan Populasi Pengguna

Ketamin tersedia dalam berbagai bentuk sediaan, termasuk bubuk dan cair. Remaja dan orang dewasa muda lebih memilih bentuk bubuk, sedangkan tenaga kesehatan lebih cenderung menggunakan bentuk cair yang disuntikkan melalui intra muskular atau intravena. Di beberapa negara, seperti Hong Kong dan Italia, ketamin menjadi zat yang paling banyak disalahgunakan oleh individu di bawah usia 21 tahun antara tahun 2005 hingga 2014.

Sejarah Ketamin dimulai dari penemuan ilmuwan Amerika Serikat, Calvin Lee Steven, pada 1962. Zat ini awalnya dirancang sebagai alternatif anestesi dengan efek samping minimal. Ketamin menjadi pilihan utama dokter hewan karena efeknya yang minim terhadap sistem sirkulasi dan pernapasan pada hewan kecil hingga sedang.

Penggunaan dalam Dunia Militer dan Medis

Di medan perang Vietnam, tentara Amerika Serikat menjuluki Ketamin sebagai “Special K” karena sering digunakan dalam operasi bedah militer. Dokter bedah juga lebih menyukai Ketamin dibandingkan anestetik lain karena kemampuannya mengurangi efek negatif pasca operasi seperti mual dan muntah.

Pada pertengahan 2000-an, Ketamin ditemukan memiliki manfaat tambahan sebagai pengobatan untuk depresi. WHO pun memasukkannya ke dalam Daftar Obat Esensial. Namun, ketika efek antidepresan dan halusinasi Ketamin mulai diketahui oleh masyarakat luas, zat ini mulai disalahgunakan sebagai narkoba rekreasional.

Dampak Penyalahgunaan di Berbagai Negara

Di Inggris, studi NHS menunjukkan peningkatan signifikan dalam penggunaan Ketamin, terutama di kalangan pelajar. Zat ini bahkan diberi julukan "KitKat" oleh siswa SD dan SMP di London. Sistem pemantauan narkoba Inggris mencatat lonjakan kasus remaja yang direhabilitasi akibat penyalahgunaan Ketamin.

Di Hong Kong, penyalahgunaan Ketamin meningkat secara signifikan di kalangan pelajar dan mahasiswa. Pada 2010, angka penyalahgunaan mencapai 6 persen, naik menjadi 15 persen pada 2020. Di Amerika Serikat, setelah FDA mengesahkan Ketamin sebagai terapi untuk depresi pada 2017, angka penyalahgunaan meningkat 36 persen pada 2024.

Status Hukum dan Upaya Pengawasan

Meski di Indonesia Ketamin belum dianggap sebagai narkoba, tetapi hanya tercantum dalam daftar prekursor, banyak negara maju telah memasukkannya ke dalam kategori narkotika atau psikotropika. Di AS, Ketamin masuk ke Schedule 3, sedangkan di Inggris masuk ke Class B. Kanada bahkan memasukkannya ke Schedule I, setara dengan ganja dan sabu. Australia menempatkannya di peringkat terbawah (S8) dalam daftar pengawasan zat.

Usulan dari Kepala BPOM untuk memasukkan Ketamin ke dalam golongan psikotropika harus dipertimbangkan dan didukung agar dapat menjadi dasar hukum yang lebih jelas. Hal ini akan memudahkan aparat penegak hukum dalam upaya pemberantasan narkoba di tanah air. Dengan regulasi yang lebih tegas, diharapkan penyalahgunaan Ketamin dapat diminimalkan dan perlindungan terhadap masyarakat bisa lebih maksimal.

0 Komentar