
Inovasi dan Keberlanjutan di Tengah Dinamika Pasar Otomotif Indonesia
Pasar otomotif Indonesia terus berkembang dengan pesat, menciptakan tantangan dan peluang bagi berbagai pemain di sektor ini. Dalam situasi seperti ini, Michelin Indonesia hadir sebagai salah satu perusahaan yang memperkuat posisinya dengan inovasi teknologi, keberlanjutan, dan kenyamanan berkendara. Dengan pengalaman global selama lebih dari seratus tahun dan kehadiran di Indonesia sejak 2011, Michelin tidak hanya menjual ban, tetapi juga menawarkan solusi mobilitas yang lebih baik untuk masa depan.
"Kami selalu berkomitmen untuk memberikan solusi mobilitas yang lebih baik, dengan inovasi dan kualitas yang tinggi," ujar President Director Michelin Indonesia, Ichayut Kanittasoontorn, saat ditemui dalam kunjungan redaksi ke kantor mereka di kawasan Pondok Indak, Jakarta Selatan.
Potensi Pasar yang Besar
Menurut Ichayut, pasar Indonesia memiliki potensi besar, terutama karena meningkatnya permintaan konsumen terhadap ban yang menekankan kualitas, keselamatan, dan kenyamanan. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Michelin menghadirkan berbagai lini produk yang mencakup kendaraan penumpang, roda dua, truk, bus, hingga sektor pertambangan. Mereka juga menggunakan sub-brand seperti BFGoodrich, Corsa, dan Michelin Two Wheels untuk menjangkau berbagai segmen pasar.
Teknologi Inovatif yang Menonjol
Inovasi menjadi kunci utama Michelin dalam mempertahankan relevansi di pasar. Salah satu teknologi yang mendapat perhatian adalah Michelin Acoustic Technology, yang awalnya dikembangkan untuk kendaraan listrik (EV). Teknologi ini mampu mengurangi kebisingan pada roda melalui penggunaan busa akustik khusus yang kini diadopsi oleh sejumlah merek global.
Selain itu, ada juga Velvet Technology yang memberikan tampilan visual lebih menonjol pada dinding ban. Teknologi ini eksklusif milik Michelin dan menjadi identitas kuat, terutama pada segmen premium dan big bike.
Pendekatan dari Sirkuit ke Jalanan
Michelin juga menerapkan pendekatan unik yaitu "from track to street", yang artinya teknologi yang teruji di lintasan balap diterapkan dalam penggunaan harian di jalan raya. Tujuannya adalah untuk menghadirkan performa, daya tahan, dan keamanan maksimal pada ban konsumen.
"Ban paling uji coba di sirkuit. Jika ban bisa bertahan di sana, maka di jalan raya akan memiliki ketahanan yang lebih baik," jelas Ichayut.
Teknologi seperti silika compound dikembangkan untuk menurunkan rolling resistance yang berdampak pada efisiensi bahan bakar dan emisi karbon. Hampir seluruh lini produk roda empat Michelin kini mengadopsi teknologi ini, menegaskan komitmen perusahaan terhadap isu lingkungan.
Strategi Pasar EV dan Performa Jangka Panjang
Di tengah percepatan tren kendaraan listrik, Michelin berada di posisi strategis. Mereka tidak hanya menghadirkan produk khusus seperti Pilot Sport EV dan E-Primacy untuk mobil listrik, tetapi juga mengklaim bahwa seluruh lini bannya kompatibel untuk kendaraan listrik, bahkan sebelum EV marak.
"Michelin selalu punya load index lebih tinggi dibanding kompetitor, mileage lebih panjang, dan noise lebih rendah. Artinya, dengan pertambahan EV ini, kita sudah siap sejak sebelum EV ada," kata Ichayut.
Beberapa pabrikan EV global yang kini mengandalkan ban Michelin sebagai Original Equipment (OE) adalah Hyundai Ioniq 5, Genesis, hingga BYD dan X-Pang.
Fokus pada Long Lasting Performance Technology
Melihat ke depan, Michelin tidak hanya berhenti pada teknologi akustik atau velvet saja. Fokus kini diarahkan pada pengembangan material dan formula ban yang mampu memberikan keseimbangan antara grip optimal dan usia pakai yang panjang. Inilah yang disebut sebagai Long Lasting Performance Technology.
"Bagaimana kita bisa membuat ban dengan grip bagus tapi tetap tahan lama? Ini membutuhkan formula yang berbeda. Dan itu tidak bisa diadopsi oleh brand lain," ujar Ichayut.
Komitmen Keberlanjutan yang Menyeluruh
Tidak hanya pada produk akhir, komitmen Michelin terhadap keberlanjutan juga menyentuh rantai pasok. Mereka memastikan bahwa bahan baku, seperti karet, dipasok dari petani yang menerapkan prinsip zero deforestation. Proses produksi hingga distribusi juga dirancang agar minim dampak terhadap lingkungan.
"Kami percaya bahwa cara terbaik untuk memastikan dampak lingkungan yang minimal adalah melalui seluruh prosesnya. Jadi, bukan hanya dari bannya saja," ungkap dia.
0 Komentar