Saat Gajah Berduka, Ini Cara Mereka Mengenang Kematian

Featured Image

Keindahan Alam dan Cerita yang Tersembunyi di Hutan Tebo

Di tengah hutan yang rimbun di kawasan Muaro Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, Jambi, tersembunyi pemandangan alam yang menakjubkan. Sebuah air terjun yang mengalir dari sela akar-akar pohon di tebing menjadi daya tarik utama. Meski tidak terlalu tinggi, hanya belasan meter, air terjun ini memiliki cerita yang sangat kuat di hati warga setempat.

Di bawah air terjun tersebut mengalir sebuah sungai yang dikenal dengan nama “sungai gajah mati”. Nama ini muncul dari berbagai kisah yang disampaikan oleh orang tua kepada generasi sekarang. Menurut Ibrahim, warga Desa Muaro Kilis, banyak cerita yang menyebut bahwa gajah pernah mati di sekitar sungai ini. Ia sendiri tidak pernah melihat tulang belulang gajah secara langsung, tetapi ia mendengar dari orang tua yang dulu bekerja di perusahaan perkebunan.

Gajah dan Perasaan yang Mendalam

Cerita tentang kematian gajah bukan hanya sekadar mitos. Ibrahim pernah menyaksikan kepedulian kawanan gajah terhadap anggota mereka yang terluka. Suatu ketika, anak gajah terperosok ke dalam sumur tua dan terjebak selama beberapa hari. Kawanan gajah tidak pergi meninggalkannya, bahkan tetap berada di sekitar sumur saat tim BKSDA Jambi datang untuk melakukan penyelamatan.

Ibrahim mengatakan bahwa kawanan gajah tampaknya memiliki perasaan empati terhadap sesamanya. Hal ini membuatnya yakin bahwa gajah juga bisa merasakan duka ketika ada anggota kawanan yang mati.

Penelitian tentang Emosi Gajah

Peneliti gajah Sumatera, Alexander Mossbrucker, dalam bukunya Island Elephants: The Giants of Sumatera, menjelaskan bahwa gajah memiliki kesadaran untuk berempati, termasuk terhadap kematian sesama. Dalam bukunya, ia menulis bahwa gajah tertarik pada sisa-sisa spesies mereka sendiri dan memiliki kesadaran umum serta rasa ingin tahu tentang kematian.

Joyce Poole, seorang peneliti lainnya, juga menyebutkan bahwa saat ada anggota kawanan yang mati, gajah akan berhenti menjelajah dan berkumpul di sekitarnya. Perilaku ini bisa berlangsung selama berjam-jam. Mereka sering menyentuh tulang atau tubuh gajah yang mati dengan belalai, mengibaskan debu atau daun ke tubuh, atau sekadar berkeliling dengan diam.

Mitos Kuburan Gajah

Cerita tentang kuburan gajah sudah lama muncul, tidak hanya di Sumatera tetapi juga di Afrika. Namun, para ilmuwan menyatakan bahwa hingga kini belum ada bukti ilmiah yang membuktikan keberadaan tempat khusus di mana gajah datang untuk mati.

Menurut Poole, lokasi pengumpulan tulang-tulang gajah terjadi karena kebetulan geografis dan kebiasaan alami, bukan ritual pemakaman. Tulang-tulang sering ditemukan di tempat yang sama, biasanya di dekat sumber air atau jalur jelajah lama yang tak lagi digunakan. Gajah yang sakit atau tua kemungkinan besar mati di lokasi-lokasi tersebut karena secara alami mencari air atau tempat aman.

Perilaku gajah terhadap kematian sesama mereka menunjukkan bahwa mereka memiliki emosi yang kompleks, seperti duka dan empati. Ini memperkuat keyakinan bahwa gajah bukan hanya makhluk besar, tetapi juga makhluk yang penuh perasaan.

0 Komentar