Santri Kalpataru Nurul Jadid Tunjukkan Aksi Nyata Cinta Lingkungan di PSB 2025

PROBOLINGGO – Pemandangan berbeda terlihat dalam pelaksanaan Penerimaan Santri Baru (PSB) Satu Atap Pondok Pesantren Nurul Jadid tahun 2025 yang dimulai sejak Senin, 7 Juli. Sejumlah santri dari komunitas Santri Kalpataru, yang tergabung dalam gerakan Layanan Hijau, diterjunkan langsung untuk menjaga kebersihan lingkungan pesantren selama masa PSB.

Dengan mengenakan atribut sederhana dan membawa tempat sampah portabel, para Santri Kalpataru aktif memungut sampah, memilah antara sampah organik dan anorganik, serta menyampaikan edukasi lingkungan kepada para wali santri dan tamu yang datang dari berbagai daerah.

Komandan Santri Kalpataru, Ahmad Rifaldi, mengatakan bahwa gerakan ini lahir dari keprihatinan atas kondisi kebersihan lingkungan setiap kali PSB berlangsung. "Dulu, habis PSB, lantai-lantai penuh plastik dan sisa makanan. Sekarang, bersih. Ini adalah bentuk ikhtiar kecil kami agar pondok tetap nyaman, bersih, dan ramah lingkungan," tuturnya saat ditemui di area PSB.

Santri Kalpataru adalah bagian dari program pendidikan karakter dan lingkungan hidup di Pondok Pesantren Nurul Jadid, yang bertujuan menumbuhkan kesadaran ekologis di kalangan santri sejak dini. Mereka dilatih untuk peduli terhadap lingkungan, tidak hanya dengan teori, tetapi melalui aksi langsung yang berdampak.

Dalam pelaksanaan tugasnya, para anggota Kalpataru ditempatkan di berbagai titik keramaian seperti aula penerimaan, area kantin, parkiran, dan jalur keluar masuk santri baru. Mereka juga berinteraksi langsung dengan pengunjung, menyampaikan pesan-pesan kebersihan secara persuasif dan santun.

“Pendekatan kami tidak dengan melarang, tapi mengajak. Ketika orang tua melihat anak muda peduli, mereka cenderung ikut menjaga. Edukasi ini harus menyentuh hati,” tambah Rifaldi.

Langkah konkret Santri Kalpataru mendapat apresiasi dari para wali santri dan pengunjung. Banyak di antara mereka tergerak untuk ikut menjaga kebersihan lingkungan. Bahkan, anak-anak yang turut serta dalam rombongan keluarga terlihat antusias membuang sampah ke tempatnya. Beberapa wali santri bahkan sempat berdialog langsung dengan anggota Kalpataru mengenai jenis-jenis sampah plastik yang layak daur ulang.

Respons positif ini menjadi bukti bahwa pendekatan edukatif dari kalangan muda bisa berdampak besar terhadap perilaku masyarakat luas. Di hari kedua pelaksanaan PSB, area pesantren tetap terlihat bersih dan bebas dari tumpukan sampah, sesuatu yang jarang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Kegiatan ini juga selaras dengan komitmen Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter, tanggung jawab sosial, dan kepedulian lingkungan dalam seluruh aspek kehidupan santri. Program Layanan Hijau dan Santri Kalpataru bukan hanya sekadar agenda saat PSB, tetapi menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan yang terus ditanamkan sepanjang tahun.

“Gerakan ini sejalan dengan nilai dasar pesantren: menanamkan kepedulian, kesederhanaan, dan kebermanfaatan bagi lingkungan. Ini adalah bagian dari pendidikan akhlak yang menyatu dalam praktik keseharian santri,” ujar salah satu pengurus pesantren yang turut mendampingi kegiatan.

Kehadiran Santri Kalpataru selama PSB juga menunjukkan bahwa generasi muda pesantren mampu menjadi agen perubahan, tidak hanya dalam hal keagamaan dan akademik, tetapi juga dalam urusan lingkungan hidup yang menjadi isu global saat ini.

Dengan menjadikan kegiatan ini sebagai bagian dari budaya pesantren, Pondok Pesantren Nurul Jadid mengajak semua pihak untuk menumbuhkan semangat menjaga lingkungan, mulai dari hal kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah, hingga menanamkan kesadaran ekologis di setiap lapisan usia.

Langkah sederhana yang dilakukan Santri Kalpataru bukan hanya menjaga kebersihan pesantren, tapi juga menyampaikan pesan kuat: bahwa mencintai lingkungan bisa dimulai dari santri dan halaman pondok sendiri. (*)

0 Komentar