Cara Berpikir Kreatif ala Franc de Hoftman

Featured Image

Kreativitas yang Redup dan Pemantik dari Sebuah Presentasi

Aku pernah merasa seperti lampu yang redup, seolah-olah kreativitasku telah memudar di sebuah gudang yang sunyi. Itu adalah perasaan yang muncul ketika aku duduk di Warmindo, sambil menikmati nasi sayur plus tahu bakso. Aku merasa seperti perut yang penuh lalu digelonggong dengan dua galon cairan kebenaran yang membuatku sadar akan realitas kehidupan dewasa.

Realitas manusia dewasa yang aku maksudkan ini adalah kehidupan yang terasa berat karena tanggung jawab. Setiap pagi, kita bangun, mandi, bekerja selama 5 hingga 6 hari dalam seminggu hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, token listrik, atau kuota internet. Dalam kondisi seperti ini, waktu untuk menonton film kartun favorit bisa jadi sesuatu yang terlalu mahal. Namun, bagi aku, itu adalah cara untuk mengisi kembali kolom kreativitas yang mulai kosong.

Dulu, aku sering menulis caption panjang untuk foto-foto di media sosial. Meski isiannya terdengar remeh, seperti cerita tentang bakwan jagung atau film Tsubasa Ozora sebelum salat Maghrib, tapi itu memberiku rasa bahagia. Kreativitas bukanlah hal yang harus menghasilkan uang, tapi ia bisa menjadi alat untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.

Suatu hari, temanku membangunkanku dari lamunan. Ia menyadarkanku bahwa kreativitasku juga sedang meredup. Kami berbicara tentang masa produktif kita dulu, dan ia menanyakan apakah aku ingat kejadian yang mungkin menjadi pemantik saat itu. Aku pun mengingat presentasi sahabatku, Franc de Hoftman, di kelas Kewirausahaan saat masih kuliah.

Saat itu, Franc sedang mempresentasikan ide bisnisnya. Di tengah presentasinya, ia tiba-tiba mencari sesuatu dan berhasil mencomot botol minum dari meja seorang teman. Ia membawa botol tersebut ke depan kelas dan meminta semua orang untuk berpikir kreatif dengan benda itu.

Beberapa ide muncul, seperti botol lukis, botol pemanas air, hingga botol cermin yang dilengkapi pensil alis. Semua ide itu diapresiasi oleh Franc, tapi ia menegaskan bahwa produk-produk itu sudah ada di pasaran. Maka dari itu, ia meminta ide ke-11 yang lebih inovatif.

Kelas bergemuruh dengan antusiasme. Semua mahasiswa berusaha memberikan ide yang unik dan berbeda. Bahkan dosen turut berdiri dan memberikan tepuk tangan. Franc tidak hanya membangkitkan kreativitas, tapi juga mengajarkan bahwa kreativitas itu bukan sekadar ide yang baru, tapi juga ide yang benar-benar berbeda dari yang sudah ada.

Pada akhirnya, kreativitas yang kita miliki bisa saja redup, tapi dengan pengalaman seperti ini, kita bisa belajar bahwa kreativitas tidak pernah mati. Ia hanya butuh pemantik, seperti ide yang muncul dari sebuah botol minum di kelas Kewirausahaan.

0 Komentar