
Minat Investor Asing di Sektor Perbankan Indonesia
Minat dari investor asing untuk masuk ke sektor perbankan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cukup besar. Hingga saat ini, lebih dari 30 bank lokal dikendalikan oleh investor asing dari berbagai negara. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa sektor perbankan Indonesia tetap menjadi salah satu sektor yang menjanjikan bagi para investor asing.
Potensi dan Tantangan
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, Indonesia memiliki ekosistem investasi yang baik dengan fokus pada inklusi keuangan. Saat ini, sejumlah bank asing sedang mempertimbangkan masuk atau memperluas operasinya di Indonesia. Namun, mereka tetap memperhatikan tantangan seperti regulasi yang ketat dan pasar yang kompetitif serta prospek ekonomi yang dinamis.
Contohnya, awal tahun ini, pemegang saham pengendali Bank Panin (PNBN) yakni ANZ dan keluarga Gunawan berencana menjual sahamnya. Raksasa bank Asia seperti CIMB Group dan DBS Group menjadi incaran. Saham gabungan dari ANZ dan keluarga Gunawan mencakup sekitar 86% dari Bank Panin. Meski demikian, kedua bank tersebut tidak mengajukan penawaran yang mengikat karena tidak dapat memenuhi ekspektasi valuasi penjual.
Proses Penjualan dan Perspektif
Proses penjualan yang dijalankan oleh Citigroup dapat dilanjutkan jika selisih harga dapat dikurangi. Kabarnya, CIMB masih tertarik dan terbuka untuk berunding, sementara ANZ, Citi, dan DBS menolak berkomentar. Presiden Direktur Panin Bank Herwidayatmo menyatakan bahwa manajemen PaninBank tidak terlibat dalam proses tersebut.
ANZ dan keluarga Gunawan memulai proses penjualan bersama tahun lalu, dengan menempatkan saham pengendali gabungan di blok tersebut. Penjualan ini merupakan bagian dari strategi ANZ untuk mengecilkan lini bisnis dengan pengembalian rendah dan mengurangi eksposur ke perbankan ritel dan perbankan kekayaan di Asia.
Kinerja Investor Asing
Minat investor asing untuk memburu saham perbankan lokal tak lepas dari kinerja yang menggembirakan selama ini. Beberapa investor setiap tahunnya pasti menuai cuan dividen dari masing-masing entitas anaknya.
CIMB Group termasuk yang menikmati cuan dari bisnis bank di dalam negeri. CIMB Group menguasai sekitar 91,45% saham Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA). Investasi ini dimulai sejak 2002 ketika CIMB Group mengakuisisi Bank Niaga dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Pada 2007, bank tersebut digabung dengan Lippo Bank dan berubah nama menjadi Bank CIMB Niaga.
Dividen yang Rutin
CIMB Group cukup banyak menerima dividen dari BNGA. Bank ini rutin membagi dividen tiap tahun. Dari laba 2023, pengendali BNGA ini memperoleh pemayaran dividen Rp 2,82 triliun. Kemudian dari laba bersih 2024, CIMB Group mendapat dividen sekitar Rp 3,57 triliun.
Selain BNGA, bank dalam negeri lain yang dimiliki investor asing dan rajin membagi dividen adalah Bank Danamon (BDMN). Bank ini dikendalikan oleh Mitsubishi UFJ Group (MUFG) yang menguasai sekitar 92,47% saham BDMN. Investor Jepang ini secara bertahap sejak tahun 2017 telah menggelontorkan dana besar untuk menguasai Bank Danamon.
Dividen yang Fluktuatif
Dalam enam tahun terakhir, Bank Danamon memang rutin membagi dividen tapi nilainya fluktuatif. Dari laba tahun 2023, BDMN membayarkan dividen Rp 125,4 per saham, naik dari Rp 118,2 per saham pada tahun sebelumnya. MUFG mengantongi Rp 1,13 triliun dari pembagian dividen tersebut.
Adapun pada laba tahun 2024, BDMN membayarkan dividen Rp 113,5 per saham, dan MUFG mengantongi Rp 1,02 triliun dari pembagian dividen tersebut. Namun jalan bagi MUFG agar investasi di BDMN balik modal masih butuh waktu. Kapitalisasi pasar BDMN per Senin (1/7) masih Rp 23,65 triliun, di bawah harga akuisisi. Namun dividen yang diterima pun tak selalu jumbo.
Investor Lain yang Masih Menanti
Segendang sepenarian, pengendali Bank OCBC NISP (NISP) juga masih harus bersabar. Maklum, bank ini baru membagi dividen sejak 2023 lalu setelah absen sekitar 16 tahun. Tahun ini NISP membagi dividen Rp 2,43 triliun atau 50% dari laba 2024. OCBC Overseas yang menguasai 85,08% saham NISP mendapat dividen sebesar Rp 2,06 triliun.
Bangkok Bank juga belum balik modal dari Bank Permata (BNLI). Investor asal Thailand ini mengakuisisi BNLI di 2019 senilai Rp 37 triliun. Sementara BNLI baru membagi dividen dari laba 2021 Rp 8,5 per saham, dari laba 2022 sebesar Rp 15 per saham, dari laba 2023 Rp 25 per saham. Tahun ini, BNLI menebar dividen Rp 30 per saham. Bangkok Bank yang menguasai sekitar 89,12% saham BNLI kebagian Rp 962,50 miliar.
Kemudian ada pula Bank SMBC (BTPN) yang memutuskan membagi dividen tahun buku 2024 senilai Rp 562,6 miliar atau 20% dari laba bersih. Investor Jepang Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) yang memiliki 91,05% saham Bank SMBC mendapat dividen Rp 512,33 miliar.
0 Komentar