
Perjalanan Hidup Agam Rinjani: Dari Kecil Hingga Jadi Pahlawan di Gunung Rinjani
Agam Rinjani, sosok yang kini menjadi perhatian banyak orang setelah berhasil mengevakuasi pendaki asal Brasil, Juliana Marins, memiliki kisah hidup yang sangat menarik. Tidak hanya dikenal sebagai pria yang berjiwa petualang dan penuh kepedulian, Agam juga memiliki latar belakang yang unik dan menginspirasi.
Kenangan Masa Kecil dengan Wakil Bupati Soppeng
Sosok yang dikenal dengan panggilan Ucok ini pernah tinggal bersama Wakil Bupati Soppeng, Selle KS Dalle selama enam tahun. Menurut Agam, Selle seperti kakak dan juga ayah baginya. "Kak Selle ini seperti kakakku sendiri, kadang juga seperti bapakku. Karena dari kecil, saya dan beliau pernah tinggal serumah selama enam tahun, sejak saya masih SMP," kata Agam saat bertemu dengan Selle.
Agam menceritakan bahwa Selle pernah mendatangi rumahnya di dekat TPA Antang saat melakukan pendampingan. Saat itu, Agam masih duduk di kelas 4 SD. Meski sempat kehilangan kontak ketika pindah ke Lombok, hubungan mereka tetap terjalin hingga kini.
Bakat Kepemimpinan dan Kepekaan Sosial
Selle KS Dalle merasa bangga dengan sosok Ucok. Menurutnya, sejak kecil Ucok sudah menunjukkan bakat kepemimpinan dan kepekaan sosial yang kuat. "Ucok (sapaan Agam) masih anak-anak waktu itu, dan dalam prosesnya, tanpa disadari, dia bisa mengambil peran-peran penting di sana," ujarnya.
Selain itu, Selle juga mengenang saat mereka mengembangkan metode anak mengajar anak, di mana Agam ikut aktif. "Potensi itu sudah terlihat sejak kecil. Bahkan sebelum merantau, dia sempat datang menemui kami," tambahnya.
Awal Kecintaan pada Gunung Rinjani
Agam Rinjani bukanlah orang asli Lombok atau Nusa Tenggara Barat (NTB), tempat Gunung Rinjani berada. Ia berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Kecintaannya terhadap Gunung Rinjani bermula saat ia masih berstatus mahasiswa semester 3, jurusan Antropologi, Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar pada 2011 silam.
Pada masa itu, Agam mendaki Gunung Rinjani untuk pertama kalinya. Setelah lulus, ia memilih tidak kembali ke Makassar, melainkan tinggal di Bali. Namun, setelah tiga hari di Bali, Agam memutuskan untuk kembali ke Lombok. "Saya nyebrang ke Lombok, cuma bawa uang Rp 10 ribu, tahun 2015," katanya.
Alasan Mengapa Sangat Mencintai Gunung Rinjani
Agam mengungkapkan alasan mengapa sangat mencintai Gunung Rinjani. "Rinjani komplit, jadi itu yang membedakan dengan gunung-gunung yang lain," ujarnya. Menurutnya, Gunung Rinjani memiliki berbagai fitur yang lengkap, mulai dari savana, pemandian air panas, hingga jalur hutan yang indah.
"Ada Semeru yang pasir vulkano, di Rinjani ada. Pemandian air panas, di Rinjani ada. Mau jalur hutan kayak di Argopuro atau Sulawesi, di Rinjani ada toreannya. Di Rinjani gunung dari sisi manapun keren semua, indah semuanya," tambahnya.
Peran Agam dalam Kegiatan Kemanusiaan
Kini, nama Agam diidentikkan dengan Gunung Rinjani. Berbagai kasus insiden jatuh yang menimpa pendaki tidak terlepas dari tangan Agam yang mengevakuasinya. Salah satu contohnya adalah saat kasus jatuhnya Juliana Marins pada Sabtu (21/6/2025). Saat itu, Agam sedang berada di Jakarta untuk urusan dengan berbagai brand yang akan berkontribusi untuk konservasi di Rinjani.
Setelah melihat berita terkait jatuhnya Juliana Marins di media sosial, Agam akhirnya memutuskan untuk terbang ke Lombok, ikut dalam operasi SAR. Hal ini membuktikan betapa besar dedikasi dan kepedulian Agam terhadap sesama.
0 Komentar