
Peran dan Prioritas Pemimpin Keuangan di Tengah Dinamika Ekonomi Global
Bank DBS, salah satu institusi keuangan terkemuka, telah memperkuat komitmennya sebagai mitra tepercaya bagi nasabah melalui rilis laporan bertajuk New Realities, New Possibilities. Hasil riset ini mengungkapkan pergeseran strategi yang terjadi di tengah dinamika ekonomi global. Riset dilakukan pada Maret hingga April 2025 dengan mengumpulkan data dari lebih dari 800 pemimpin keuangan di berbagai sektor dan pasar, termasuk Indonesia.
Dalam penelitian ini, Bank DBS mencari pemahaman mendalam tentang dampak tren ekonomi makro dan strategi yang digunakan oleh para pemimpin keuangan untuk menjaga stabilitas finansial. Ditemukan tiga tren makroekonomi yang menjadi tantangan utama: ketegangan geopolitik (58%), volatilitas akibat inflasi dan ketidakstabilan suku bunga (57%), serta gangguan rantai pasokan (55%).
Di sisi lain, hadirnya teknologi baru seperti Generative AI dan Blockchain (83%) serta fokus pada keberlanjutan (76%) dianggap sebagai peluang yang mampu mendorong inovasi dan efisiensi operasional. Riset ini juga dilakukan dalam dua periode, sebelum dan sesudah pengumuman tarif AS pada April, untuk memahami bagaimana tren makroekonomi mempengaruhi peran dan prioritas para pemimpin keuangan.
Prioritas Utama Perusahaan
Pemanfaatan financial intelligence berbasis data tetap menjadi prioritas utama perusahaan dalam memperkuat ketahanan keuangan. Penggunaan AI untuk analisis dan visualisasi data menjadi semakin penting dalam meningkatkan fungsi perbendaharaan perusahaan. Manajemen likuiditas dan valuta asing (FX) juga menjadi perhatian utama, naik dari posisi ketujuh ke posisi kedua setelah survei kedua.
Di Indonesia, studi ini menunjukkan adanya pergeseran prioritas dalam menghadapi lanskap bisnis global. Para pemimpin keuangan di Indonesia menyadari bahwa volatilitas ekonomi dunia memberikan tekanan baru bagi industri dalam negeri. Namun, situasi ini juga membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk menjadi alternatif pusat manufaktur yang kompetitif, didukung oleh ekspansi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Strategi dan Tantangan di Indonesia
Meski demikian, 80% pemimpin keuangan Indonesia justru menempatkan optimalisasi biaya modal sebagai prioritas utama mereka. Hal ini mencerminkan respons terhadap tekanan perdagangan, pelemahan rupiah, dan inflasi yang terus berlangsung. Di sisi lain, 78% perusahaan di Indonesia mengidentifikasi kinerja ESG (Environmental, Social, Governance) sebagai agenda strategis utama, seiring dengan diberlakukannya kewajiban pelaporan dan meningkatnya ekspektasi investor.
Selain itu, peningkatan aktivitas kebendaharaan dinilai 76% responden menjadi prioritas kritikal agar perusahaan dapat mengidentifikasi peluang untuk menyempurnakan proses, mendorong efisiensi, dan memperkuat dampak strategis.
Tiga Strategi yang Direkomendasikan
Melalui riset ini, Bank DBS merekomendasikan tiga strategi yang dapat dikembangkan oleh CFO dan treasurer di Indonesia sebagai solusi. Pertama, mengikuti jejak eksekutif global dalam mengeksplorasi pemanfaatan teknologi Gen AI dan otomatisasi cerdas untuk mendukung ketahanan finansial. Kedua, mengandalkan layanan konsultasi ESG untuk mengintegrasikan aspek keberlanjutan ke dalam perencanaan keuangan serta mendukung akses terhadap pembiayaan hijau. Ketiga, menyeimbangkan kembali rasio utang dan ekuitas, menjajaki pendanaan jangka panjang, serta mendiversifikasi sumber pembiayaan guna mengoptimalkan biaya modal.
Di tengah ketidakpastian global dan disrupsi teknologi, para pemimpin bisnis harus mengelola risiko sambil tetap beradaptasi. Inovasi digital dan evaluasi kinerja menjadi kunci untuk pertumbuhan, peningkatan, dan perluasan pasar—memposisikan mitra bisnis tepercaya menjadi lebih penting dari sebelumnya dalam menghadapi momen kritis ini.
0 Komentar