Sepatu Jebol, Curhatan Siswi ke Menteri di Hari Pertama Sekolah

Featured Image

Hari Pertama Sekolah, Cerita Unik dan Kehadiran Menteri

Hari Senin (14/7/2025) menjadi momen penting bagi siswa-siswi di berbagai sekolah di Indonesia. Setelah libur panjang, mereka kembali ke lingkungan belajar. Tidak hanya itu, hari pertama masuk sekolah juga menjadi tempat untuk menyaksikan berbagai cerita menarik yang terjadi.

Siswa Terlambat Datang

Di SMAN 9 Jakarta Timur, salah satu siswa baru bernama RDW (16 tahun) mengalami keterlambatan pada hari pertama masuk sekolah. Ia tiba di sekolah sekitar pukul 06.36 WIB, sedangkan upacara rutin hari Senin sudah dimulai sejak pagi. Akibatnya, RDW dan enam siswa lainnya harus menunggu di luar gerbang hingga upacara selesai.

RDW merasa cemas karena takut akan dihukum. Namun, ia tidak sendirian dalam menghadapi situasi ini. Setelah upacara selesai, RDW dan siswa lain yang terlambat diperbolehkan masuk dan langsung bergabung dengan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS).

Alasan RDW terlambat adalah karena bangun kesiangan. Selain itu, kakaknya tidak jadi mengantarnya, sehingga ia memilih menggunakan ojek online.

Sepatu Jebol dan Keberanian Juan

Cerita lain datang dari Juan (18 tahun), seorang siswa kelas XII di SMAN 9 Jakarta. Meskipun menggunakan sepatu jebol, Juan tetap percaya diri saat mengikuti upacara. Sepatu yang digunakannya sudah digunakan selama empat tahun, sehingga warnanya mulai pudar dan bahan kanvasnya sobek di beberapa bagian.

Ketika Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, melakukan peninjauan dan memberikan pidato, ia bertanya apakah ada siswa yang sepatunya rusak. Juan awalnya malu, tetapi akhirnya berani mengangkat tangannya. Wihaji kemudian memanggilnya ke depan.

Dalam percakapan tersebut, Juan mengaku bahwa ayahnya bekerja sebagai pengemudi ojek online, sementara ibunya adalah pedagang nasi goreng. Wihaji menawarkan uang senilai Rp 1 juta untuk Juan membeli sepatu sendiri. Juan sangat senang dan berencana menggunakan uang tersebut untuk membeli sepatu baru serta tas yang sudah rusak.

Curhatan Siswi dan Gerakan Ayah Mengantar

Pada kesempatan yang sama, seorang siswi baru di SMAN 9 Jakarta Timur juga berani curhat kepada Menteri Wihaji. Ia mengungkapkan bahwa jarang memiliki waktu untuk berbicara dengan orangtuanya. Menurutnya, kedua orangtuanya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan sering pulang setelah ia tidur.

Wihaji mengatakan bahwa banyak anak remaja yang mengalami "fatherless", atau kehilangan figur ayah. Ia menjelaskan bahwa data menunjukkan 20,9 persen anak remaja mengalami hal tersebut. Hal ini disebabkan oleh penggunaan ponsel yang terlalu berlebihan, rata-rata selama 8,5 jam per hari.

Untuk mengatasi masalah ini, Wihaji menggaungkan "Gerakan Ayah Mengantar di Hari Pertama Sekolah". Tujuannya adalah agar para ayah meluangkan waktu untuk mengantar anak ke sekolah, meski hanya sekali. Dengan kehadiran orangtua, anak-anak akan merasa lebih didukung dan memiliki sosok yang nyata di rumah.

Menurut Wihaji, kehadiran ayah dalam kehidupan anak sangat penting untuk membentuk karakter. Dengan mengantar anak ke sekolah, diharapkan dapat mengurangi fenomena "fatherless" dan meningkatkan kualitas hubungan antara orangtua dan anak.

0 Komentar