Utang RI Nyaris Capai Rp7.000 Triliun pada 2025

Featured Image

Posisi Utang Luar Negeri Indonesia pada Triwulan Kedua 2025

Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa jumlah utang luar negeri (ULN) Indonesia pada tiga bulan kedua tahun 2025 mencapai sebesar 433,3 miliar dolar AS atau setara dengan Rp6.976,1 triliun berdasarkan kurs Jisdor BI per 14 Agustus 2025 sebesar Rp16.109 per dolar AS. Meski demikian, pertumbuhan ULN RI mengalami pelambatan dibandingkan dengan kuartal pertama 2025.

Pada triwulan II/2025, pertumbuhan ULN hanya sebesar 6,1% secara tahunan (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan di kuartal I/2025 yang mencapai 6,4% (yoy). Hal ini dipengaruhi oleh kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang terus berlanjut dari tiga bulan sebelumnya.

Komposisi Utang Pemerintah dan Swasta

Utang pemerintah pada April-Juni 2025 tercatat sebesar 210,1 miliar dolar AS atau setara dengan Rp3.382,6 triliun. Nilai ini tumbuh sebesar 10% yoy dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024. Pertumbuhan utang pemerintah juga meningkat dibandingkan kuartal I/2025 yang mencapai 7,6% yoy.

Perkembangan utang pemerintah tersebut dipengaruhi oleh peningkatan aliran masuk modal asing dalam Surat Berharga Negara (SBN) domestik. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia tetap terjaga meskipun situasi pasar keuangan global sedang tidak pasti.

Utang pemerintah terdiri dari beberapa sektor ekonomi, antara lain:

  • Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial: 22,3%
  • Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib: 19,0%
  • Jasa Pendidikan: 16,4%
  • Konstruksi: 11,9%
  • Transportasi dan Pergudangan: 8,6%

Posisi utang pemerintah tetap terjaga karena didominasi oleh utang jangka panjang, yang mencapai 99,9% dari total ULN pemerintah.

Sebaliknya, utang swasta pada triwulan II/2025 melanjutkan tren kontraksi dibandingkan dengan kuartal I/2025. Pada periode April-Juni 2025, ULN swasta tercatat sebesar 194,9 miliar dolar AS atau setara dengan Rp3.137,8 triliun. ULN swasta terkontraksi sebesar 0,7% yoy, lebih rendah dibandingkan kontraksi 1% pada kuartal I/2025.

Kontraksi ini disebabkan oleh penurunan ULN perusahaan nonfinancial corporations yang terkontraksi sebesar 1,4% yoy, sementara ULN lembaga keuangan (financial corporations) mengalami pertumbuhan sebesar 2,3% yoy.

Utang swasta terbesar berasal dari sektor-sektor berikut:

  • Industri Pengolahan
  • Jasa Keuangan dan Asuransi
  • Pengadaan Listrik dan Gas
  • Pertambangan dan Penggalian

Total dari sektor-sektor ini mencapai 80,5% dari keseluruhan ULN swasta. Utang swasta juga didominasi oleh utang jangka panjang, yang mencapai 76,7% dari total ULN swasta.

Rasio ULN terhadap PDB

Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II/2025 sebesar 30,5%, lebih rendah dibandingkan dengan rasio pada kuartal I/2025 yang mencapai 30,7%. ULN pada kuartal II/2025 juga didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 85,0% dari total ULN.

Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN untuk menjaga struktur utang tetap sehat. Peran ULN akan terus dioptimalkan untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya ini dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

0 Komentar