
Sejarah dan Keunikan Gedung Gas di Bandung
Di Jalan Braga, yang setiap hari ramai dengan langkah kaki pengunjung dan aroma kopi dari kafe-kafe tua, terdapat satu bangunan putih yang berdiri tenang seperti seorang pendengar setia. Bangunan ini menyimpan bisikan-bisikan masa lalu di balik jendela kayu usangnya, mengamati perubahan zaman dari derap sepatu kulit hingga suara sepeda listrik. Inilah Gedung Gas, sebuah saksi bisu yang pernah menjadi pusat kehidupan energi Kota Bandung.
Sejarah Awal Gedung Gas
Kisah Gedung Gas dimulai pada awal dekade 1920-an. Di Kiaracondong, arsitek Wolff Schoemaker dan adiknya, Richard Schoemaker, merancang kompleks pabrik gas yang menjadi bagian penting dalam modernisasi kota. Pembangunan dimulai pada tahun 1920, dan pada awal 1921, pabrik itu sudah memproduksi 10 ribu meter kubik gas setiap hari. Gas ini tidak seperti yang kita kenal sekarang, melainkan gas buatan dari batubara yang melalui empat tahap proses: penguapan, pirolisis, oksidasi, dan reduksi.
Gas tersebut dialirkan melalui pipa-pipa ke seluruh kota. Di titik-titik pengguna, meteran gas dipasang untuk mencatat pemakaian bulanan. Pada masa itu, pembayaran dilakukan di kantor Gas Maatschappij di Jalan Braga, yang kini dikenal sebagai Gedung Gas.
Fungsi dan Peran Gedung Gas
Dahulu, Gedung Gas bukan hanya sekadar kantor, tetapi merupakan jantung administrasi dari jaringan distribusi gas yang mengalir ke rumah-rumah, hotel, perkantoran, hingga rumah sakit di seluruh Bandung. Dalam beberapa tahun, jumlah sambungan gas di Bandung meningkat pesat. Pada pertengahan 1930-an, sudah ada 3.750 sambungan gas yang terpasang.
Dari gedung di Braga ini, alur administrasi dan pelayanan mengalir, menambahkan arus gas yang diam-diam masuk ke dapur-dapur dan ruang makan rumah-rumah baru. Saat ini, kawasan Pabrik Gas Kiaracondong sudah tidak lagi seperti dulu, hanya menyisakan instalasi pabrik dan bangunan utamanya.
Penggunaan Sekarang dan Konversi Bangunan
Bangunan utama dari kompleks pabrik kini menjadi pusat pengarsipan, atau Record Centre. Meskipun beberapa detailnya telah diubah, struktur utamanya tetap terawat. Penambahan konstruksi besi di bagian dalam dilakukan tanpa merusak dinding aslinya, memberikan contoh bagaimana masa kini menghormati masa lalu.
Bekas rumah dinas staf kini telah berubah menjadi guest house di bawah pengelolaan Gas Inn. Bangunan ini bersih, terjaga, dan mempertahankan sebagian besar elemen aslinya. Di Jalan Braga, bekas kantor administrasi itu pun tak lagi sibuk menerima pembayaran tagihan gas. Ia kini menjadi Gasblock Hotel & Cafe, tempat para tamu menginap, menyeruput kopi, dan mungkin tanpa mereka sadari, duduk di ruang yang dulu menjadi pusat denyut energi kota.
Arsitektur yang Mengagumkan
Secara arsitektural, Gedung Gas adalah potret indah gaya Art Deco tropis abad ke-20. Fasadnya tegak dengan warna putih bersih, dihiasi garis-garis vertikal yang memberi kesan anggun dan monumental. Pilar-pilar datar membingkai deretan jendela kayu besar, lengkap dengan kisi-kisi ventilasi di bagian atas yang memecah cahaya sekaligus mengatur sirkulasi udara.
Di lantai dasar, pintu masuk utama berada di tengah, sedikit menjorok ke dalam, dilindungi kanopi beton sederhana. Dari sana, pengunjung memasuki ruang dengan langit-langit menjulang tinggi, di mana cahaya alami mengalir dari jendela-jendela besar. Interiornya kini telah dilengkapi lampu gantung modern berbentuk lingkaran, namun pilar-pilar kokoh dengan profil klasik tetap menjadi fokus ruangan.
Tampak dari sisi atap, menara kecil berbentuk kubus memahkotai sudut bangunan — detail khas Schoemaker yang memadukan fungsionalitas dan estetika. Di musim berbunga, pepohonan tabebuya di tepi jalan memayungi fasadnya, menghadirkan pemandangan yang mengaburkan batas antara masa lalu dan kini.
Kesimpulan
Sejarah Gedung Gas adalah sejarah tentang aliran-aliran gas, aliran waktu, dan aliran cerita. Di bawah langit Braga yang teduh, ia tetap berdiri, menjadi saksi bisu bagaimana Bandung belajar bernapas dengan cara yang lebih modern seratus tahun silam.
0 Komentar