
Teknologi Minimal Invasif untuk Operasi Tulang Belakang
Banyak orang menghindari operasi tulang belakang karena takut dengan proses yang dianggap rumit, penuh risiko, dan memerlukan masa pemulihan yang panjang. Namun, tidak semua operasi tulang belakang harus dilakukan dengan sayatan besar dan berisiko tinggi. Perkembangan teknologi medis kini menawarkan solusi yang lebih aman dan efektif, yaitu Biportal Endoscopic Spine Surgery (BESS).
Apa Itu BESS?
BESS adalah metode minimal invasif yang dirancang untuk mengatasi masalah pada tulang belakang dengan trauma jaringan yang lebih kecil, rasa nyeri yang berkurang, serta masa pemulihan yang lebih cepat dibandingkan metode konvensional. Teknik ini menggunakan dua jalur endoskopi: satu untuk kamera dan satu lagi untuk alat bedah. Dengan demikian, dokter dapat melihat area operasi secara jelas sekaligus melakukan tindakan dengan presisi tinggi.
Salah satu keunggulan BESS adalah kemampuannya untuk meminimalkan kerusakan jaringan otot dan ligamen di sekitar tulang belakang. Hal ini memungkinkan pasien bangun dan bergerak lebih cepat setelah operasi. Selain itu, risiko perdarahan dan infeksi juga lebih rendah dibandingkan metode tradisional.
Penyakit yang Ditangani dengan BESS
BESS digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi tulang belakang, termasuk hernia nukleus pulposus (HNP), atau yang dikenal dengan istilah saraf terjepit. Kondisi ini terjadi ketika bantalan antara ruas tulang belakang bergeser atau pecah, sehingga menekan saraf dan menyebabkan nyeri hebat. Selain itu, BESS juga efektif dalam menangani penyempitan kanal tulang belakang (stenosis), kista, hingga beberapa kasus tumor kecil di area tersebut.
Menurut dr. Dimas Rahman, SpBS, MARS, FTB, FINSS, Spesialis Bedah Saraf Sigma Sigma Brain & Spine Center di RS Jakarta, teknik ini membantu menghilangkan stigma bahwa operasi tulang belakang bisa menyebabkan kelumpuhan. “Pasien lebih cepat sembuh dan bisa langsung pulang. Jadi, kita ingin menghapus prasangka lama bahwa operasi tulang belakang selalu berisiko,” ujarnya.
Tingkat Keberhasilan dan Manfaat
Sejak lima tahun lalu, BESS telah digunakan untuk melayani sekitar 5.000 pasien. Tingkat keberhasilannya sangat meyakinkan, dengan angka di atas 95%. Meskipun tidak mungkin mencapai 100%, hasilnya sangat positif. “Kami percaya bahwa BESS memberikan manfaat yang signifikan bagi pasien yang ingin kembali beraktivitas normal lebih cepat,” tambah dr. Dimas.
Workshop Perdana BESS di Indonesia
Untuk pertama kalinya, workshop tentang BESS diadakan di Indonesia pada 15–16 Agustus 2025 di RS Jakarta. Acara ini menghadirkan pakar BESS dari Korea Selatan, yaitu dr. Daejung Choi dan dr. Sung Won Cho. Selain itu, tim National Faculty terdiri dari beberapa ahli bedah saraf ternama, seperti dr. Wawan Mulyawan, Sp.BS (K), Subspes. N-TB, FINSS, FINPS, AAK, dr. Danu Rolian, Sp.BS, FINSS, FINPS, dr. Dimas Rahman, Sp.BS, MARS, FTB, FINSS, dan dr. Deni Nasution, Sp.BS (K) Spine.
Dr. Wawan menjelaskan bahwa workshop ini akan menjadi pengalaman berharga bagi peserta untuk memperdalam pemahaman dan keterampilan dalam teknik minimal invasif yang semakin menjadi standar global. “Peserta akan belajar menguasai teknik endoskopi tulang belakang, terutama BESS, dengan berbagai akses seperti transforaminal atau interlaminar,” katanya.
Dia yakin bahwa para dokter spesialis bedah saraf yang hadir akan mampu mengimplementasikan teknik ini secara efektif. “Dengan demikian, mereka dapat memberikan perbaikan kualitas hidup bagi para pasien mereka,” tutupnya.
0 Komentar