Peran Saka Nasional: Pengalaman Baru bagi Anggota Pramuka Aceh
Rafiqa Rahmah, seorang anggota Dewan Kerja Daerah (DKD) Pramuka Aceh, menghadiri Peran Saka Nasional di Gorontalo. Ini merupakan pengalaman pertamanya di Bumi Serambi Madinah. Meski perjalanan panjang dari Jakarta ke Gorontalo memakan waktu 16 jam, semangatnya tidak pernah pudar.
Sebagai mahasiswa semester tujuh di UIN Ar-Raniry, Rafiqa melihat perjalanan ini sebagai bagian dari proses pembentukan karakter seorang Pramuka. Ia mengatakan bahwa sebagai anggota Pramuka, kesiapan dan keaktifan dalam mengikuti berbagai kegiatan nasional adalah hal yang penting. “Ini momentum bagi kami dari Aceh untuk menunjukkan kreativitas dan keaktifan,” ujarnya saat ditemui setelah pemeriksaan kesehatan di Gedung Kasmat Lahay, Limboto.
Selain aktif dalam kepramukaan, Rafiqa juga menjabat sebagai Duta FISIP dan Duta Gender di kampusnya. Sejak bergabung dengan DKC dan DKD pada 2023, ia telah mengikuti berbagai kegiatan nasional seperti Musppanitera Nasional dan Dialogue for Peace. Namun, Peran Saka Nasional di Gorontalo menjadi pengalaman baru baginya.
“Luar biasa, Kak. Gorontalo itu mirip Aceh. Bandara dekat sawah, bangunan serupa. Rasanya seperti pulang kampung,” katanya sambil tersenyum.
Bagi Rafiqa, Peran Saka bukan hanya sekadar kegiatan. Ia melihatnya sebagai ruang silaturahmi antar-Saka dan Dewan Kerja se-Indonesia. Yang paling dinantikan olehnya adalah tour keliling Gorontalo. “Dulu saya hanya tahu Gorontalo dari video viral ‘Polisi nyanyi Chaiya-chaiya’. Tidak pernah terbayang bisa ke sini. Alhamdulillah, Tuhan kasih kesempatan,” ujarnya.
Di balik semangatnya sebagai Pramuka, Rafiqa menyimpan mimpi besar: menjadi seorang Polisi Wanita (Polwan). “Itu cita-cita saya sejak kecil. Saya aktif di isu anak, perempuan, dan kepemudaan di Aceh. Pramuka mengajarkan saya banyak hal, dan saya ingin membawa nilai-nilai itu ke mana pun saya melangkah,” tuturnya.
Meskipun sibuk dengan skripsi dan berbagai organisasi, Rafiqa tetap menjadikan Pramuka sebagai rumah utama. “Pramuka itu tidak membatasi kita. Ilmu dari luar bisa kita bawa ke Pramuka, dan sebaliknya. Itu yang membuat saya terus semangat,” katanya.
Dengan semangat membara, Rafiqa berharap Peran Saka Nasional di Gorontalo menjadi awal dari banyak perjalanan dan kontribusinya ke depan. “Semoga ini bukan akhir, tapi awal dari banyak kegiatan lain. Doakan ya, Kak, semoga nanti kita ketemu lagi saat saya sudah jadi Polwan,” pungkasnya.
Mengenal Peran Saka Nasional
Peran Saka Nasional akan digelar pada 2 hingga 9 November 2025 di Bumi Perkemahan (Buper) Bongohulawa, Kabupaten Gorontalo. Peran Saka merupakan singkatan dari Perkemahan Antar Satuan Karya Pramuka. Kegiatan ini ditandai dengan perkemahan besar yang menjadi ajang pertemuan Pramuka Penegak dan Pandega yang menjadi anggota Satuan Karya (Saka).
Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai wadah untuk meningkatkan daya saing, menciptakan generasi muda yang berkarakter dan berdaya saing, serta melatih kemampuan dan pengetahuan dalam berbagai bidang sesuai dengan Satuan Karya masing-masing.
Satuan Karya Pramuka atau Saka adalah wadah bagi Pramuka Penegak dan Pandega untuk mengembangkan minat dan bakat mereka di bidang-bidang tertentu. Saka berfungsi sebagai organisasi pendukung yang melekat pada Kwartir Pramuka, dengan fokus utama pada pembinaan kecakapan hidup dan kompetensi. Melalui kegiatan Saka, Pramuka Penegak dan Pandega dibina untuk menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan praktis. Para anggota Saka pun dilatih untuk menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, seni, serta keahlian fungsional yang relevan dengan perkembangan zaman. Tujuannya adalah agar mereka bisa hidup mandiri di masa depan.
0 Komentar