
Kontainer Radioaktif Terdampar di Laut Filipina
Sebanyak 23 kontainer yang berisi debu seng terkontaminasi radioaktif telah terdampar di lepas pantai Filipina sejak 20 Oktober 2025. Situasi ini memicu perhatian pihak berwenang dan menimbulkan kekhawatiran akan dampak lingkungan serta kesehatan masyarakat.
Direktur Institut Penelitian Nuklir Filipina (PNRI), Carlo Arcilla, mengungkapkan bahwa jejak isotop radioaktif Cesium-137 ditemukan dalam kontainer tersebut. Ia menekankan pentingnya tindakan cepat untuk mengamankan lokasi penyimpanan sementara hingga solusi jangka panjang ditemukan.
Meski kadar radiasi yang ditemukan tidak membahayakan dalam jangka pendek, Arcilla menegaskan bahwa situasi ini tetap memerlukan penanganan serius. "Ini bukan keadaan darurat nasional. Ini adalah masalah yang dapat dipecahkan," ujarnya.
Kontainer Ditolak oleh Indonesia
Kontainer tersebut awalnya diekspor dari Filipina ke Indonesia. Namun, otoritas di Jakarta menolak masuknya muatan setelah mendeteksi keberadaan Cesium-137. Hal ini menjadi alasan pengembalian seluruh muatan ke negara asal.
Peningkatan kewaspadaan Indonesia terhadap paparan zat radioaktif terjadi setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) memberlakukan pembatasan impor terhadap beberapa produk makanan dari Indonesia. Pemerintah Indonesia kemudian menangguhkan sementara impor besi dan baja skrap yang diduga menjadi sumber kontaminasi.
Debu seng terkontaminasi dalam kontainer disebut sebagai hasil proses produksi baja. PNRI menyatakan bahwa muatan tersebut diekspor oleh Zannwann International Trading Corp, yang mendapatkan bahan dari Steel Asia, perusahaan lokal pengolah logam daur ulang.
Perusahaan Menyangkal Tanggung Jawab
Steel Asia mengaku telah menghentikan sementara operasi pabrik daur ulangnya, tetapi membantah bertanggung jawab atas kontaminasi tersebut. Mereka menilai kesimpulan PNRI tidak berdasar dan tidak ilmiah.
Perusahaan juga menyatakan bahwa Zannwann mendapatkan debu seng dari berbagai pemasok, dan semua logam skrap yang mereka proses telah melewati pengujian radioaktivitas. Hingga saat ini, upaya media untuk menghubungi Zannwann belum berhasil.
Solusi Jangka Pendek dan Panjang
Hingga saat ini, ke-23 kontainer masih tertahan di Teluk Manila. Menurut Arcilla, keberadaan kontainer di laut merupakan keputusan sementara hingga lokasi penyimpanan yang aman ditemukan.
Ia menyarankan bahwa kontainer dapat dipindahkan ke area terisolasi di dalam kompleks militer sebagai solusi jangka pendek, sebelum pembangunan fasilitas penahanan bawah tanah dilakukan. "Solusi utamanya adalah memiliki tempat penyimpanan tingkat rendah, sebuah penguburan," ujarnya.
Arcilla juga menyatakan bahwa keputusan di tingkat nasional mungkin dibutuhkan apabila pemerintah daerah menolak menjadi lokasi pembuangan limbah.
Kekhawatiran Aktivis Lingkungan
Aktivis lingkungan dari Greenpeace Filipina, Jefferson Chua, menyampaikan kekhawatiran atas risiko paparan Cesium-137, bahkan dalam kadar rendah. Ia menekankan bahwa paparan berkepanjangan dapat menimbulkan risiko kanker jangka panjang dan mencemari lingkungan dalam jangka waktu lama.
Cesium-137 adalah isotop radioaktif hasil reaksi nuklir yang banyak digunakan dalam bidang industri, medis, dan penelitian. Keberadaannya di luar sistem pengawasan yang ketat bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatan dan keselamatan publik.
0 Komentar