Indonesia Tegaskan Komitmen Perkuat Sistem Peringatan Dini Global di Kongres WMO Jenewa

Featured Image

Indonesia Menegaskan Komitmen untuk Memperkuat Sistem Peringatan Dini Global

Indonesia menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sistem peringatan dini global menghadapi risiko cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, dalam Kongres Luar Biasa Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang diadakan di Jenewa, Swiss. Kongres ini menjadi momen penting bagi 193 negara anggota WMO untuk membahas strategi dalam mempercepat penerapan sistem peringatan dini global.

Penguatan Kerja Sama Global

Dalam pidatonya, Dwikorita menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam memperkuat sistem peringatan dini menjadi mekanisme aksi dini yang efektif. Ia menyatakan bahwa informasi dari sistem peringatan dini harus segera diubah menjadi tindakan nyata untuk melindungi masyarakat dan mengurangi kerugian.

Sistem peringatan dini yang efektif harus berlandaskan empat pilar utama, yaitu: * Pengetahuan risiko * Pemantauan dan peringatan teknis * Diseminasi informasi yang mudah dipahami * Kesiapsiagaan untuk bertindak

Keempat pilar tersebut harus bekerja bersama dalam rantai operasional yang utuh, mulai dari analisis risiko hingga koordinasi lintas lembaga untuk memastikan keputusan cepat di lapangan.

Sistem Multi-Bahaya dan Kecerdasan Buatan

Indonesia menilai bahwa transisi dari "early warning" menuju "early action" hanya dapat terwujud jika sistem peringatan dini multi-bahaya (MHEWS) diperkuat secara berkelanjutan. BMKG terus mengembangkan sistem peringatan dini yang terintegrasi dan berbasis risiko. Dengan demikian, setiap potensi cuaca ekstrem atau ancaman hidrometeorologi lainnya dapat segera direspons dengan langkah mitigasi konkret sebelum dampaknya meluas.

Selain itu, kongres juga menyoroti peran kecerdasan buatan (AI) dalam meningkatkan akurasi prakiraan cuaca dan mempersempit kesenjangan digital, khususnya di wilayah tropis dan kepulauan yang masih terbatas data observasinya. Integrasi AI dalam sistem prakiraan global diharapkan mampu mempercepat deteksi, memperluas jangkauan layanan, serta memperkuat kemampuan negara-negara berkembang untuk mengambil keputusan berbasis bukti ilmiah.

Resolusi Implementasi Monitoring Gas Rumah Kaca Global

Kongres luar biasa WMO kali ini juga menghasilkan Resolusi Implementasi Monitoring Gas Rumah Kaca Global (Global Greenhouse Watch). Dalam penyusunan resolusi tersebut, delegasi Indonesia memberikan masukan penting agar keseimbangan antara koordinasi global dan kemampuan implementasi di tingkat negara dapat terjaga. Dwikorita menegaskan bahwa penguatan kapasitas negara anggota, interoperabilitas data, serta kesetaraan akses terhadap infrastruktur observasi menjadi prasyarat utama dalam mewujudkan sistem pemantauan global yang berkeadilan.

Selain itu, WMO turut menyoroti penguatan WMO Coordination Mechanism (WCM) sebagai wadah kolaborasi global untuk mendukung kesiapsiagaan negara-negara yang rentan dan terdampak konflik melalui peningkatan interoperabilitas sistem nasional dan regional.

Tahun 2025: Momentum Refleksi dan Masa Depan

Tahun 2025 menandai 75 tahun berdirinya WMO, yang menjadi momentum refleksi bagi seluruh negara anggota untuk menata masa depan sistem peringatan global yang lebih inklusif dan adaptif terhadap tantangan perubahan iklim. Dwikorita menegaskan bahwa Indonesia akan terus memperkuat pembangunan sistem peringatan dini multi-bahaya yang tangguh, inklusif, dan berbasis tindakan nyata. Upaya ini tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas nasional, tetapi juga memperkuat kolaborasi regional di bawah WMO Regional Association V (South-West Pacific).

Kerja Sama dengan China Meteorological Administration

Di luar agenda kongres, BMKG juga menggelar pertemuan bilateral dengan China Meteorological Administration (CMA) sebagai tindak lanjut kerja sama antara kedua lembaga. Pembicaraan mencakup penguatan kapasitas sumber daya manusia dan teknologi di bidang Artificial Intelligence (AI), serta penerapan AI untuk meningkatkan kecepatan, ketepatan, dan akurasi Multi-Hazard Early Warning System (MHEWS).

Kerja sama juga diarahkan pada pemanfaatan satelit Feng Yun untuk meningkatkan keandalan data observasi meteorologi, terutama di wilayah tropis dan kepulauan seperti Indonesia. Kerja sama dengan CMA menjadi langkah penting untuk mempercepat transfer teknologi dan penguatan kapasitas SDM Indonesia di bidang AI dan observasi atmosfer. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat sistem peringatan dini nasional agar semakin cepat, akurat, dan terintegrasi.

0 Komentar