
Perjalanan yang Mengajarkan Sabar dan Pulang
Perjalanan sering kali menjadi cerminan kehidupan. Ada perjalanan yang mengajarkan kesabaran, ada pula yang mengajarkan kembali ke rumah. Dari Palembang menuju Jakarta, di tengah jalan tol yang panjang dan laut yang luas, seorang pria, istrinya, dan seorang anak muda belajar bahwa hidup bukan hanya tentang sampai di tujuan — tetapi tentang bagaimana menjaga hati tetap tenang di setiap tikungan dan gelombang.
Malam yang Sunyi
Malam masih lelap dalam hitamnya. Langit tak berbintang, hanya sisa cahaya lampu jalan yang bergeming di permukaan aspal basah. Tepat pukul 1.30 dini hari, sebuah mobil sedan merah keluar perlahan dari garasi, menembus kesunyian. Suara mesinnya terdengar seperti bisikan doa yang pelan: "Bismillahirrahmanirrahim..." Mobil itu melaju menuju jalan tol Keramasan, memulai perjalanan panjang dari Palembang menuju Jakarta, mengantar Terin, atlet panahan muda, menuju Popnas, ajang besar bagi masa depannya.
Aku menggenggam kemudi dengan tenang, sementara di jok belakang, istriku tertidur berselimut jaket. Di sebelahku, Hafiz, pemuda berwajah teduh, duduk dengan mata yang menyimpan semangat lomba dan sedikit rindu. Udara dini hari terasa dingin dan lembap. Hanya suara roda yang beradu dengan jalan, dan kadang denting jam di dashboard yang mengingatkan waktu terus berjalan tanpa belas kasihan.
Kantuk di Tengah Jalan
Satu jam berlalu. Gelap masih menggantung, dan rasa kantuk mulai menekan kesadaran. Aku menepi di rest area pertama. Warung kopi di pojok tampak redup, hanya lampu neon kecil yang berkelip menahan sepi. Kami turun sebentar, meneguk air mineral, lalu duduk di bangku panjang yang dingin.
"Masih jauh, Om?" tanya Hafiz pelan.
"Masih panjang, Nak. Tapi perjalanan panjang justru tempat terbaik untuk mengenal sabar."
Setelah tiga puluh menit, mobil kembali melaju. Jalan kini lebih mulus, membuat kecepatan naik di kisaran 120–135 km/jam. Dari kaca spion, kulihat istriku masih tertidur. Aku tahu, kalau ia bangun, pasti akan berkata dengan nada lembut tapi tegas:
"Jangan cepat-cepat, Bang."
Aku tersenyum sendiri. Cinta memang aneh: kadang ia hadir lewat larangan kecil, tapi justru di sanalah ada kekhawatiran yang paling tulus.
Mampir di KM 87B
Sekitar pukul 03.10 pagi, jarum bensin mulai menurun tajam. Aku menepi di Rest Area KM 87B, yang sunyi di bawah langit gelap. Lampu di SPBU memantulkan warna kekuningan di atas aspal yang basah oleh embun. Petugas muda menyapa dengan mata sembab menahan kantuk.
"Isi penuh, Pak?"
"Iya, penuh, Nak."
Sambil menunggu tangki terisi, aku keluar. Angin malam menampar wajah. Di kejauhan, truk-truk besar diam seperti binatang besi yang tertidur. Hafiz berjalan kecil, menggeliat, lalu menatap jalan tol yang membentang tanpa akhir.
"Sepi sekali, ya, Om?"
Aku mengangguk. "Sepi, tapi kadang di sepi begini, justru pikiran jadi jernih."
Ketika tangki penuh dan lampu pompa padam, aku kembali duduk di balik kemudi, menatap garis jalan yang seperti doa panjang mengarah ke timur.
Subuh dan Semangkuk Pop Mie
Tepat pukul 04.30, azan subuh berkumandang dari Masjid Al-Hikmah KM 215B. Kami berhenti, berwudhu dengan air dingin yang menggigit, lalu menunaikan shalat di bawah cahaya lembut lampu masjid. Setelahnya, rasa lapar datang perlahan. Kami membuka bungkus Pop Mie, menyeduhnya dengan air panas dari dispenser kecil.
Aroma gurih mie instan memenuhi udara, berpadu dengan embun pagi yang menetes dari atap masjid.
"Pop Mie memang sahabat perjalanan," kata Hafiz sambil tersenyum.
Aku mengangguk. "Ya, kadang yang sederhana justru memberi kebahagiaan paling tulus."
Sambil makan, kami berbagi cerita. Tentang perjuangan Hafiz di Popda Sumsel XI, dua medali perak yang ia bawa pulang, dan mimpinya untuk terus menembus batas. Dalam semangkuk mie yang mengepul itu, ada hangat yang tak sekadar mengenyangkan—ia seperti mengajarkan bahwa kebersamaan bisa tumbuh dari hal sekecil aroma mie di pagi hari.
Membelah Sumatera, Menyeberang dengan Doa
Dari Palembang ke Kayu Agung, kami merogoh Rp50.000, lalu dari Kayu Agung ke Bakauheni, biaya tol melonjak menjadi Rp445.000. Dan saat tiba di pelabuhan, biaya kapal ekspres menuju Merak menembus Rp750.000 untuk 34 kilometer laut.
Aku menatap struk pembayaran yang kusimpan di dashboard, lalu menghela napas panjang.
"Mengapa negeri ini belum membangun jembatan penghubung Sumatera-Jawa?" gumamku. "Bayangkan, betapa banyak waktu dan biaya bisa diselamatkan."
Istriku menatap laut dan menjawab pelan,
"Mungkin belum waktunya, Bang."
Aku tersenyum getir. "Atau mungkin belum cukup niatnya."
Di Atas Kapal
Kami duduk di dek paling atas, menikmati angin laut yang berhembus lembut. Pulau-pulau kecil terlihat di kejauhan, hijau dan tenang. Di tepi pantai, nelayan sedang menarik pukat, dan anak-anak melambai-lambai sambil berteriak riang:
"Ayo, Om! Lempar uangnya!"
Aku menatap mereka dengan senyum sendu.
"Betapa mahalnya hidup, tapi betapa murahnya bahagia."
Ombak kecil memecah lembut di bawah kapal, memantulkan cahaya matahari pagi. Laut hari itu bersahabat, dan aku merasa Tuhan sedang menulis pelajaran lewat riak-riak air: bahwa setiap gelombang selalu kembali ke pantai, seperti halnya setiap manusia akan selalu kembali ke tempat ia memulai—pulang.
Renungan Ombak
Di atas kapal. Istriku tertidur lelah di atas sofa kecil, sementara aku duduk di jendela menatap ke laut lepas yang menyala seperti lukisan buatan. Aku memikirkan semua yang telah dilewati: jalan, laut, rest area, Pop Mie, dan tawa anak-anak di pantai.
Kadang, perjalanan tidak mengajarkan kita cara sampai, tapi mengajarkan cara menyadari nikmat yang kita lewati di tengah jalan. Foto kecil di ponselku—kami bertiga di rest area, dengan senyum lelah dan cangkir Pop Mie di tangan—menjadi pengingat sederhana: bahwa cinta tidak selalu harus megah. Kadang ia hadir dalam perjalanan yang panjang, dalam doa yang pendek, dan dalam keheningan yang penuh makna.
Epilog: Jalan Tak Pernah Usai
Malam kembali turun. Lampu-lampu kota berkelip, dan dari jendela hotel aku berbisik pelan,
"Perjalanan ini mungkin sudah sampai, tapi hikmahnya baru saja dimulai."
Karena sesungguhnya, setiap perjalanan adalah cermin—tempat kita belajar sabar, syukur, dan arti pulang yang sesungguhnya.
0 Komentar