
Pengalaman Pagi di Pulau Pramuka
Pagi di setiap tempat memiliki suasana dan rasa yang berbeda. Begitulah yang saya alami ketika menghirup udara pagi di tepi dermaga Pulau Pramuka. Setelah menjelajahi Pulau Cipir dan Pulau Pari pada hari Rabu, kami menginap di Pulau Pramuka. Pengalaman ini tidak kalah menarik dibandingkan dengan kunjungan ke Pulau Sepa.
Menginap di Pulau Pramuka bukanlah hal baru bagi saya. Saya sudah empat kali menginap di sana, biasanya dalam rangka meliput acara tertentu. Untuk kunjungan one day tour, saya sudah lebih dari tujuh kali. Alasannya jelas, karena Pulau Pramuka adalah bagian dari Kepulauan Seribu, sering menjadi tempat penyelenggaraan acara, sehingga saya tidak asing dengan pulau ini.
Dari dermaga, terlihat jelas adanya Plaza Kabupaten, kantor kabupaten, rumah sakit, ATM, dan TIC (Tourism Information Center). Dermaga sangat ramai di pagi dan sore hari. Di sekitar area tersebut juga terdapat sekolah SD, SMP, SMA, area penangkaran penyu, serta bisa melakukan penanaman mangrove dan transplantasi terumbu karang. Pulau Pramuka juga menjadi salah satu Kampung Berseri Astra, yang pernah saya tulis secara detail di blog pribadi lalikitc.com.
Jarak dari dermaga Marina sekitar 40 km, yang membutuhkan waktu sekitar satu jam menggunakan kapal speedboat. Cuaca yang baik akan membuat perjalanan lebih nyaman.
Suasana Pagi di Pulau Pramuka
Kunjungan kali ini bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk meningkatkan soft skill terkait foto dan video menggunakan smartphone serta teknik editing. Kami mendapatkan mentor profesional bernama Pak Barry Kusuma, yang bersifat rendah hati dan siap diajak diskusi maupun praktik langsung.
Rabu sore, setelah hunting foto dan video di Pulau Cipir dan Pulau Pari, kami tiba di Pulau Pramuka dan menginap hingga keesokan harinya. Meskipun cuaca sore itu mendung, kami tetap bersemangat untuk berfoto dan merekam video. Saya meminta izin kepada mentor untuk mengabadikan anak-anak sekolah yang sedang mengerjakan tugas kelompok. Mereka menyambut baik dan kami berhasil menangkap beberapa momen candid.
Setelah itu, langit semakin gelap dan anak-anak bergegas pulang. Mereka tinggal di Pulau Panggang, yang berseberangan dengan Pulau Pramuka. Saya sempat bertanya tentang harga ongkos dari Pulau Pramuka ke Pulau Panggang. Harga per orangnya Rp5.000,00 jika tidak membawa barang banyak. Anak-anak ini harus menghabiskan Rp10.000,00 per hari untuk pergi dan pulang.
Saya kagum dengan semangat mereka. Jika cuaca tenang, perjalanan antar pulau tidak terlalu menakutkan. Namun, jika cuaca buruk, pasti sangat berbahaya. Saya berharap mereka selalu dalam lindungan Tuhan.
Aktivitas Warga Lokal di Pagi Hari
Pagi hari setelah shalat subuh, saya dan teman mengintip dari balik jendela kamar. Langit masih mendung, tapi akhirnya kami memutuskan untuk keluar. "Ayo kita jajan dan lihat aktivitas warga lokal," kata saya. Teman saya akhirnya termotivasi dan kami keluar kamar dengan harapan mendapatkan momen yang bagus.
Syukur, langit mulai cerah dan air laut tampak bening. Banyak ikan dan terumbu karang terlihat oleh mata telanjang. Di dekat puskesmas, ada ibu-ibu yang menjual Polo Pendem, seperti ubi, kentang, singkong, jagung manis, pisang kepok, dan telor rebus. Saya membeli beberapa makanan seharga Rp15.000,00.
Di pinggiran pantai, nelayan menjual hasil tangkapan. Ada ibu-ibu yang menjual buah potong dan membersihkan nangka. Kami makan di tepian dermaga sambil mengamati warga sekitar. Mereka ramah dan selalu menyapa. Anak-anak kecil yang akan menyebrang ke Pulau Panggang juga terlihat ceria.
Beberapa kapal kayu mengangkut para penumpang dari Pulau Panggang. Beberapa kali momen dua kapal berpapasan terlihat indah. Langit semakin cerah dan saya merasa lega.
Setelah warga dan anak sekolah pergi, area dermaga mulai sepi. Saya duduk di tepian sambil mengamati ikan-ikan. Ini adalah suasana pagi yang istimewa. Jarang-jarang saya bisa menikmati pagi yang tenang seperti ini.
Biasanya, di hari Senin-Jumat, saya sibuk dengan kemacetan Bogor-Jakarta. Pagi itu, saya merasa tenang dan bersyukur. Jadi, kalau teman bertanya kapan waktu terbaik untuk menjelajah Kepulauan Seribu, jawabannya adalah saat cuaca cerah dan tidak ombak, idealnya di hari kerja. Aktivitas warga terasa natural dan tidak banyak pengunjung.
Kalau ingin lebih tenang, pulau resort mungkin pilihan terbaik. Tapi, budget liburan harus lebih besar. Jelajah pulau penduduk lebih terjangkau, interaksi dengan warga lokal lebih hangat, dan inspirasi pun mudah didapat.
Begitulah suasana pagi di Pulau Pramuka. Sangat tenang, hangat, dan indah. Saya ceritakan agar tidak lupa berterima kasih atas kesempatan untuk berkunjung ke sana, terutama merasakan pagi yang begitu menyenangkan.
0 Komentar