
Perjalanan Rasa di Tepian Banjir Kanal Timur
Pagi yang tenang menghiasi kota Jakarta. Di tepian Banjir Kanal Timur, di dekat pintu weir Malaka Sari, suasana masih sejuk meskipun matahari mulai menyinari permukaan air yang tenang. Orang-orang berlalu-lalang dengan langkah cepat—ada yang sedang jogging, ada yang hanya sekadar berjalan sambil membawa botol air minum.
Di tengah keramaian yang ringan itu, aku menemukan sesuatu yang baru dan menarik: sebuah gerobak kecil bertuliskan "Kembang Tahu". Kehadirannya seperti jeda dalam rutinitas kota besar. Aku berhenti, tertarik oleh aroma jahe yang mengepul dari panci besar di atas tungku kecil. Uap tipis naik, bercampur dengan aroma manis yang hangat, membuat hati terasa nyaman bahkan sebelum diseruput.
Penjualnya adalah seorang bapak berusia sekitar empat puluhan tahun. Senyumnya tenang, seolah ia sudah tahu bahwa aku tidak sedang mencari minuman biasa, melainkan cerita. Aku sempat terkejut karena tidak pernah menduga akan menemukan penjual wedang tahu di Jakarta. Yang terakhir kuingat, aku menikmatinya di Surabaya, di pinggir jalan ketika hujan turun pelan-pelan.
Dulu aku kira wedang tahu adalah kuliner khas Surabaya. Baru belakangan aku tahu bahwa ia berasal dari Tiongkok, bernama douhua. Ia kemudian menempuh perjalanan panjang, beradaptasi di banyak kota, dan menyerap aroma tanah tempat ia singgah.
Bapak itu menjelaskan dengan lembut, "Ini asli dari sari kedelai, Mbak. Tidak pakai agar-agar. Kalau dikasih agar, teksturnya tidak lembut seperti ini. Kembang tahu itu mestinya lembut banget, kayak lumer di mulut."
Aku tersenyum. Ada keindahan sederhana dalam cara dia menjelaskan—seolah ia sedang bercerita tentang sesuatu yang hidup. Ia melanjutkan kisahnya sambil mengelap mangkuk yang baru saja dicuci. Sari kedelai yang direbusnya akan dipisahkan: sebagian menjadi susu kedelai, sebagian lagi diberi batu tahu, yang disebutnya "biang tahu".
Rahasia sesungguhnya, katanya, terletak pada cara menuang. "Biang tahu itu dituang di tengah, lalu didiamkan. Tidak boleh diaduk. Biar dia mengental sendiri," ujarnya sambil menunjuk periuk besar tempat kembang tahu berada.
Ia sudah mencoba-coba sejak tahun 1998, dan baru menemukan hasil paling lembut setelah puluhan kali gagal. Aku mengangguk kagum—rupanya semangkuk wedang tahu tak sekadar soal bahan, tetapi tentang kesabaran yang percaya pada proses.
Kembang tahu, kupikir, adalah bentuk ketenangan yang bisa dimakan. Ia tak terburu-buru mengeras, tak juga ingin segera jadi. Ia membiarkan waktu bekerja. Mungkin karena itu ia begitu lembut di lidah—seperti mengajarkan bahwa sesuatu yang baik memang butuh waktu untuk menetap, mengendap, lalu mewujud menjadi rasa.
Wedang tahu yang ia tuangkan ke dalam mangkuk berwarna putih tampak lembut, nyaris bergoyang seperti embun yang terperangkap di kelopak bunga. Kuah jahe hangat, manisnya pas, tidak eneg. Di seruputan pertama, rasa itu seperti pelukan: lembut, menenangkan, dan penuh kenangan.
Aku jadi teringat sosok Ibu. Sambil menyendok wedang itu perlahan, masa kecilku di Surabaya kembali mengalir. Di sana, orang menyebutnya tauwa. Dulu, penjual tauwa sering lewat sore-sore dengan sepeda tua, memukul-mukul sendok di mangkuk kecil agar orang keluar membeli. Suaranya khas, seperti bunyi yang menandakan hari mulai berjalan.
Pagi ini, di Jakarta Timur, aku mendengar gema yang sama—hanya tanpa bunyi sendok, tanpa sepeda, tapi tetap menghadirkan kenangan yang sama hangatnya. Rasa kembang tahu ini tidak jauh berbeda dari yang pernah kucoba di masa lalu. Lembut, ringan, dan kuah jahe terasa alami—tidak terlalu manis, tetapi cukup hangat di dada.
"Orang Cirebon banyak yang bikin ini," katanya lagi, "di sana ada satu kampung, hampir semua warganya jualan wedang tahu." Ada kebanggaan kecil di nada suaranya. Dalam semangkuk wedang tahu, rupanya tersimpan sejarah migrasi, kerja keras, dan ketekunan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Aku membayangkan sebuah kampung di pesisir, penuh periuk besar dan aroma kedelai yang direbus, anak-anak berlarian di antara uap panas, dan para ibu mencicip kuah jahe sambil menakar manisnya. Barangkali dari sanalah minuman ini menyebar, menempuh perjalanan jauh hingga ke Jakarta—dan bertahan, meski pelan-pelan terpinggirkan.
Aku lupa menanyakan namanya, juga sudah berapa lama ia berjualan di tempat itu. Namun, tak apa, karena suatu hari nanti setelah jalan-jalan pagi, aku berencana mampir lagi. Kadang, kita memang tak perlu mengingat banyak hal, cukup dengan rasa.
Seperti hari itu—aku hanya perlu mengingat bagaimana hangatnya uap jahe menyentuh wajah, bagaimana kembang tahu itu larut di lidah, dan bagaimana gerobak kecil itu terasa seperti penanda kecil bahwa hal-hal sederhana masih bisa bertahan di kota sebesar ini.
Di tepian kanal, air mengalir tenang, sesekali memantulkan bayangan langit yang beranjak terang. Kupikir, mungkin setiap tempat menyimpan cerita rasanya sendiri. Jika di gunung orang menyeruput kopi panas, di kota besar ini aku menemukan semangkuk ketenangan dalam wedang tahu. Ia bukan sekadar kuliner khas, melainkan pengingat bahwa kelembutan masih ada—diciptakan dari kesabaran, dan disajikan dengan kasih.
Saat kuhabiskan suapan terakhir, bapak itu tersenyum. "Badan jadi hangat, ya, Mbak?" katanya. Aku mengangguk pelan, berterima kasih, lalu melangkah pergi perlahan. Bapak itu benar, hangatnya bahkan sampai ke hati.
0 Komentar