KH. Moh. Zuhri Zaini: llmu Harus Jadi Cahaya yang Menerangi, Bukan Membawa Kerusakan
PROBOLINGGO, GUBUKINSPIRASI.id — Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) Paiton, KH. Moh. Zuhri Zaini, menyampaikan pesan mendalam tentang makna ilmu pengetahuan dalam acara Dies Maulidiyah ke-VIII dan Wisuda Universitas Nurul Jadid (UNUJA) yang digelar Minggu (2/11/2025). Dalam suasana penuh haru dan kebanggaan, Kiai Zuhri mengucapkan selamat kepada 1.172 wisudawan-wisudawati yang resmi menyandang gelar akademik serta kepada para orang tua yang telah berhasil mengantarkan putra-putrinya menyelesaikan pendidikan tinggi.
Dalam sambutannya, Kiai Zuhri menekankan bahwa ilmu yang sejati adalah ilmu yang memberi manfaat dan membawa pencerahan bagi masyarakat, bukan yang menimbulkan kerusakan. Menurutnya, seseorang yang berilmu harus mampu menjadi penerang bagi lingkungannya dengan mengamalkan pengetahuan secara bijak dan bertanggung jawab.
“Mudah-mudahan para wisudawan menjadi sarjana yang menerangi sekitarnya dengan ilmu, bukan yang membawa kerugian atau mencemari masyarakat,” tutur Kiai Zuhri di hadapan ribuan hadirin.
Beliau mengingatkan bahwa momentum wisuda bukanlah akhir dari perjalanan belajar, melainkan awal dari fase pengabdian yang lebih luas di tengah masyarakat. Ilmu, katanya, akan bernilai ketika diamalkan untuk kemaslahatan umat dan dijalankan dengan akhlak mulia.
Kiai Zuhri juga mengapresiasi komitmen Rektor UNUJA, Dr. H. Najiburrohman, M.Ag., M.Pd., beserta jajaran sivitas akademika yang terus berupaya membawa UNUJA menjadi kampus unggul dan berdaya saing. Ia menilai, perkembangan pesat UNUJA selama delapan tahun terakhir merupakan hasil dari sinergi yang kuat antara pimpinan, dosen, mahasiswa, dan seluruh elemen pesantren.
“Semangat Rektor dan pimpinan universitas harus diimbangi dengan kerja sama semua pihak agar visi besar UNUJA dapat berjalan selaras,” ujarnya.
Lebih lanjut, Pengasuh PPNJ menegaskan pentingnya prinsip lifelong learning atau belajar sepanjang hayat. Menurutnya, proses belajar tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi berlangsung di setiap pengalaman hidup. Kegagalan, dalam pandangannya, juga merupakan bagian dari pembelajaran yang patut disyukuri karena dapat memperkaya pengalaman dan memperkuat karakter seseorang.
“Ilmu itu bukan sekadar untuk memperoleh gelar, tapi untuk menjadi manfaat. Belajar tidak hanya di kampus, melainkan di mana saja dan kapan saja. Bahkan dari kegagalan pun kita bisa belajar banyak hal,” pesannya.
Dalam penutup sambutannya, Kiai Zuhri memanjatkan doa agar para lulusan UNUJA menjadi “Sarjana Sirojuna”—istilah yang beliau gunakan untuk menggambarkan sarjana yang membawa cahaya, bukan kegelapan. Ia berharap, para wisudawan dapat menjadi generasi berilmu sekaligus berakhlak, yang menggunakan pengetahuannya untuk kemaslahatan keluarga, agama, bangsa, dan negara.
Pesan spiritual dari Kiai Zuhri ini menjadi penegasan bahwa UNUJA bukan hanya melahirkan lulusan berprestasi secara akademik, tetapi juga membentuk insan berkarakter pesantren yang siap menjadi pelita di tengah masyarakat. Dengan ilmu yang membawa manfaat, para wisudawan UNUJA
0 Komentar