Kolaborasi Relima, UIAD, dan Panritta Kitta Perkuat Literasi Numerasi di SDN 69 Balang-Balang

Featured Image

Kehidupan Pendidikan yang Menyenangkan di SDN 69 Balang-Balang

Pagi yang cerah di ruang kelas SDN 69 Balang-Balang penuh dengan tawa dan antusiasme. Di sekitar meja kayu yang berderit dan dinding hijau muda yang memantulkan cahaya matahari, puluhan siswa mengenakan seragam pramuka sedang mengangkat kertas kecil berisi kode QR. “Jawabannya C, Bu!” teriak salah satu siswa di baris tengah, disambut sorak riuh teman-temannya.

Suara tawa, gumaman, dan hitungan pelan terdengar bersahutan di kelas ini pada hari Kamis, 31 Oktober 2025. Momentum penting ini adalah hasil dari kolaborasi antara Relawan Literasi (Relima) Lokus Sinjai, Program Studi Tadris Matematika UIAD Sinjai, dan Rumah Baca Panritta Kitta Balakia. Mereka melakukan pelatihan literasi numerasi berbasis Wayground Mode Kertas—sebuah inovasi yang dirancang untuk menjembatani pembelajaran kontekstual di sekolah-sekolah dengan keterbatasan teknologi.

Kolaborasi untuk Pendidikan Dasar

“Literasi numerasi sangat dibutuhkan dan peningkatannya harus didukung oleh media serta strategi yang sesuai,” ujar Irmayanti, perwakilan Relima Lokus Sinjai, saat berada di tengah aktivitas. “Kami ingin inovasi ini langsung dirasakan oleh siswa, bukan sekadar wacana.”

Alasan di balik pernyataan ini jelas. Relima melihat bahwa masih banyak sekolah di daerah rural Sinjai yang belum memiliki akses digital yang memadai. Namun, keterbatasan ini tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berinovasi—justru menjadi titik tolak untuk melahirkan metode pembelajaran baru yang adaptif terhadap kondisi lokal.

Salah satu inovasi tersebut adalah Wayground Mode Kertas, sebuah adaptasi dari platform kuis digital Wayground yang dirancang ulang agar bisa digunakan tanpa koneksi internet maupun perangkat seluler di tangan siswa.

Wayground Mode Kertas: Belajar dengan Cara Baru

Mahasiswa Tadris Matematika UIAD Sinjai yang terlibat dalam kegiatan ini memperkenalkan cara kerja unik dari metode ini. Siswa mengerjakan soal-soal di lembar kertas berkode QR, yang berfungsi sebagai jembatan antara aktivitas manual dan evaluasi digital. Setelah sesi latihan, fasilitator melakukan pemindaian (scanning) hasil jawaban menggunakan aplikasi pendukung, yang kemudian menampilkan analisis hasil belajar secara real-time.

“Metode ini sangat cocok untuk sekolah yang tidak membolehkan siswa membawa HP,” ujar salah satu mahasiswa pelaksana. “Siswa tetap fokus belajar, sementara guru tetap bisa mendapatkan data hasil belajar dengan cepat.”

Dengan sistem seperti ini, kegiatan belajar menjadi lebih hidup. Siswa merasa tertantang karena suasana seperti bermain, sementara guru mendapatkan alat bantu evaluasi yang efisien dan relevan untuk sekolah dengan sumber daya terbatas.

Antusiasme Guru dan Siswa

Kepala SD Negeri 69 Balang-Balang, Suardi, menyambut inisiatif ini dengan penuh semangat. “Kami sangat mendukung kegiatan inovatif seperti ini,” katanya. “Anak-anak terlihat antusias, dan kami percaya pendekatan ini bisa meningkatkan kesiapan mereka menghadapi tantangan pendidikan ke depan.”

Benar saja, suasana pelatihan terasa berbeda dari biasanya. Alih-alih hanya mengerjakan soal di papan tulis, siswa saling berdiskusi, menghitung dengan jari, bahkan bersorak kecil ketika menemukan jawaban yang tepat. Di antara mereka, beberapa mahasiswa fasilitator berkeliling, memberi petunjuk dengan sabar sambil mencatat hasil observasi.

“Anak-anak sekarang tidak hanya belajar menjawab soal, tetapi belajar berpikir,” ujar salah satu guru pendamping. “Mereka belajar dari kesalahan, dan itu yang membuat kegiatan ini berharga.”

Tujuan dan Harapan dari Kegiatan Ini

Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan satu hari. Relima bersama Tadris Matematika UIAD dan Rumah Baca Panritta Kitta merancangnya sebagai model pengabdian masyarakat berkelanjutan, dengan tujuan:

  • Meningkatkan Pemahaman Konsep: Membantu siswa memahami teks dan memecahkan masalah praktis dengan pendekatan numerasi.
  • Menciptakan Pembelajaran Aktif: Mengubah kelas menjadi ruang interaksi dan kolaborasi yang menyenangkan.
  • Memberikan Alat Evaluasi Inovatif: Memperkenalkan asesmen formatif yang efisien dan dapat digunakan guru di sekolah dengan keterbatasan fasilitas digital.

Program ini juga diharapkan menjadi contoh praktik baik (best practice) bagi sekolah lain di Sinjai dan sekitarnya—bahwa literasi dan numerasi dapat ditingkatkan tanpa harus bergantung penuh pada teknologi tinggi, asal didukung kreativitas dan kolaborasi lintas lembaga.

Membangun Jembatan dari Desa ke Dunia Digital

Inovasi berbasis Wayground Mode Kertas ini menegaskan satu hal penting: bahwa kesenjangan digital bisa dijembatani dengan cara-cara sederhana, asalkan berpihak pada kebutuhan nyata siswa.

Di SD Negeri 69 Balang-Balang, kelas yang tadinya hening kini hidup dengan diskusi, angka, dan tawa. Mungkin tidak ada layar sentuh di tangan mereka, tapi di benak anak-anak itu, sudah tumbuh kesadaran baru bahwa matematika bukan sekadar angka—ia adalah bahasa logika dan cara berpikir untuk memecahkan persoalan hidup.

Dan dari sekolah kecil di Sinjai Barat ini, sebuah pesan besar mengalir: literasi dan numerasi adalah fondasi masa depan, dan masa depan itu bisa dimulai dari selembar kertas sederhana.

0 Komentar