
Perjalanan ke Desa dengan Gerobak Sapi: Pengalaman yang Menenangkan
Fahra, keponakan perempuan yang sejak kecil hingga dewasa tinggal di Jakarta, beberapa bulan lalu memutuskan untuk berkunjung ke Yogyakarta. Tujuannya adalah untuk menikmati ketenangan dan gaya hidup yang lebih lambat atau slow living. Tidak heran, saya dan Ibu Negara Omah Ampiran menyambut hangat keinginan Fahra ini.
Pertama kali ia datang ke Yogyakarta dua tahun silam, Fahra mengalami kesulitan dalam mengatur waktu. Ia terlalu ingin mengunjungi semua tempat eksotis yang ditampilkan di media sosial seperti TikTok dan Instagram. Namun, keterbatasan waktu membuatnya merasa kewalahan. Ini menjadi cerminan dari generasi muda, khususnya Gen Z, yang sering tergoda oleh konten digital dan ingin menjelajahi segalanya dalam waktu singkat.
Fahra juga memiliki rencana untuk duduk di Alun-alun Kidul, mencicipi kuliner di Kopi Klothok, menikmati pizza di Fransis Pizza, serta mengunjungi tempat bernama Besi (Jalan Kaliurang KM 13). Yang paling tidak biasa, ia ingin berkeliling desa naik gerobak sapi. Hal ini membuat saya terkejut karena di tengah kehidupan modern yang serba cepat, mengapa gerobak sapi menjadi pilihan?
Apakah ini bentuk pelarian menuju kesederhanaan? Atau justru fenomena borrowed nostalgia, rasa rindu terhadap masa yang belum pernah dialaminya? Mungkin saja, ini bisa menjadi bentuk perlawanan diam-diam terhadap dunia yang terus bergerak cepat dan tak menentu.
Gerobak sapi bagi masyarakat Jawa bukan hanya alat transportasi, tetapi simbol kehidupan agraris yang sederhana dan penuh kesabaran. Berbeda dengan kebiasaan Gen Z yang terjebak dalam kehidupan serba cepat dan kompetitif. Maka, hasrat Fahra untuk naik gerobak sapi bisa dianggap sebagai upaya untuk merasakan suasana masa lalu yang lebih tenang dan nyaman.
Karena itu, saya bersama Ibu Negara Omah Ampiran langsung menuju desa Pundong, Mlati, Sleman, untuk memastikan Pak Mardjoko dan Mas Bibit bisa menyediakan gerobak sapi. Sepuluh tahun lalu, saya pernah tinggal dekat dengan keluarga Pak Mardjoko dan beberapa kali diajak naik gerobak sapi. Salah satu pengalaman paling membekas adalah saat diminta ikut melatih sapi remaja mengenal jalan raya.
Sapi perlu dikenalkan dengan lingkungan sekitar agar tidak stres. Dalam proses ini, mereka ditemani oleh sapi senior sebagai "pemandu". Suara teriakan Pak Mardjoko seperti "Yak...yak...aja mung nggandul. Mlaku sing jejeg..." terdengar jelas. Pengalaman ini sangat berkesan dan menjadi bagian dari kenangan yang tak terlupakan.
Beberapa waktu lalu, saya juga diajak ke arisan para bajingan (sebutan untuk "pilot" gerobak sapi) di Sleman Utara. Para bajingan berkumpul menggunakan gerobak masing-masing menuju tanah lapang untuk arisan komunitas mereka. Saya sempat mengabadikan momen tersebut dengan kamera DSLR Canon lensa 75-300 mm.
Mengabadikan Alam Pedesaan dengan Gawai
Perjalanan menggunakan gerobak sapi dilakukan pada tanggal 15 Juni 2025, dimulai dari kediaman Pak Mardjoko di desa Pundong, kemudian melintasi Selokan Mataram menuju desa Jembangan, Barak, Cibuk Kidul, Cibuk Lor, dan akhirnya kembali ke Selokan Mataram di sisi timur desa Pundong. Perjalanan sejauh lima kilometer lebih ini memakan waktu hampir satu jam.
Saat persiapan, perhatian saya tertuju pada kluntungan sapi berlogo keraton Yogyakarta yang digunakan oleh Pak Mardjoko. Kluntungan ini terbuat dari bahan kuningan dan cukup kusam. Setiap kali sapi bergerak, suara "kluntung...kluntung...kluntung" akan terdengar.
Saya mulai beralih dari kamera DSLR Canon ke kamera gawai Samsung A-52 karena lebih praktis dan mudah dibawa kemana-mana. Meskipun pengaturan aperture, shutter speed, dan ISO terbatas, hasil jepretan tetap memuaskan dengan resolusi hingga 32 MP, f/2.2, dan kemampuan wide hingga 26 mm. Sebelum diunggah ke media sosial, saya sering melakukan editing sederhana menggunakan aplikasi Snapseed untuk meningkatkan brightness, contrast, saturation, ambiance, highlights, dan shadows.
Setelah kluntungan ditempatkan di leher sapi, Pak Mardjoko memberi penjelasan bahwa kluntungan ini cukup mahal dan suaranya enak didengar. Akhirnya, kami pun duduk di kursi panjang dalam gerobak. Fahra dan si Tole duduk agak ke depan, sedangkan Mas Bibit mengemudikan gerobak dan Pak Mardjoko sebagai kenek.
Awalnya, Fahra tampak cemas dan gelisah. Namun, setelah beberapa saat, ia mulai merasa nyaman. Ia terus mengambil foto dan video pendek selama perjalanan. Gerobak sapi yang bergerak pelan menyusuri jalan dengan sawah di kanan-kiri memberikan sensasi ramah dan tenang.
Selama perjalanan, Pak Mardjoko dan Mas Bibit sering menyapa petani yang sedang bekerja. Mereka bertanya tentang kondisi sawah dan masalah yang dihadapi. Misalnya, saat salah satu petani menggali pembatas sawah, Pak Bibit bertanya, "Ngapa Lik kok galengane dibongkar?" Petani itu menjawab, "Tobat, akeh tikuse. Iki agi nggoleki leng-e- ampun, banyak tikusnya."
Suara kluntung sapi membawa Fahra kembali ke realitas. Gerobak yang bergoyang pelan mengajak kita untuk memeluk waktu yang berjalan lambat. Tak perlu terburu-buru. Tak ada yang terlewatkan. Pemandangan pedesaan merupakan potret kehidupan yang mungkin sulit ditemui di kota besar—sederhana, hangat, dan jujur.
Dalam hati, mungkin Fahra menyadari bahwa ada saatnya kita harus melambat, menengok sekitar, dan mengapresiasi hal-hal kecil yang justru memberi makna besar dalam hidup. Di atas gerobak sapi, kita diajak bukan hanya berkeliling desa, tapi juga berkeliling ke dalam diri sendiri—menemukan kembali kedamaian yang mungkin sempat terlupa.
0 Komentar