Nasi Goreng Jadi Wajah Budaya Indonesia di Australia

Featured Image

Nasi Goreng: Makanan yang Mengukir Kenangan dan Budaya

Nasi goreng adalah salah satu makanan yang tidak pernah lekang dari ingatan. Hampir semua orang di Indonesia pernah mencicipinya, baik itu dari warung tenda pinggir jalan hingga restoran berbintang. Di tanah air sendiri, nasi goreng sering dianggap sebagai makanan sederhana dan murah. Dulu, sepiring nasi goreng di bawah tenda bisa dibeli dengan harga lima ribu rupiah. Sementara di restoran, harganya bisa naik menjadi dua puluh lima ribu rupiah per porsi.

Kadang, ketika menjamu tamu dengan nasi goreng, ada rasa sungkan, seolah kita tidak sedang menyajikan sesuatu yang istimewa. Namun, perjalanan hidup justru mengubah cara pandang kita terhadap banyak hal. Bagi sebagian orang, nasi goreng bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol kehangatan dan kenangan rumah.

Nasi Goreng di Australia: Santapan yang Tidak Biasa

Saat kami merantau dan menetap di Australia, kami terkejut dengan harga nasi goreng yang sangat tinggi. Di sana, sepiring nasi goreng dihargai sekitar 17–20 dolar Australia. Jika dirupiahkan, sekitar 180.000 hingga 220.000 rupiah per porsi. Padahal, masakan ini adalah makanan khas Indonesia. Yang menarik, nasi goreng bukan hanya dinikmati oleh orang Indonesia saja. Ia telah menjadi selera internasional.

Pada banyak acara makan bersama “Bring Your Own Plate (B.Y.O.P)”, kami hampir selalu membawa nasi goreng. Selain mudah dimasak, kehadirannya justru sering menjadi primadona. Menurut isteri saya, hanya butuh waktu sekitar setengah jam untuk mempersiapkan nasi goreng. Tentunya karena nasi sudah tersedia.

Pengalaman Mengantri Nasi Goreng di Restoran Populer

Pernah suatu waktu, kami diajak makan di sebuah restoran terkenal di Perth yang menyajikan nasi goreng. Antriannya mengular panjang. Kami menunggu hampir 40 menit sebelum mendapat tempat. Salah satu juru masaknya ternyata orang Indonesia. Namun karena sibuk, ia hanya sempat tersenyum sebentar.

Sepiring nasi goreng yang terhidang di meja kami harganya setara 200 ribu rupiah. Rasanya enak, tapi tidak benar-benar istimewa. Persis seperti nasi goreng sederhana di bawah tenda sewaktu kami masih tinggal di Kemayoran, Jakarta Pusat. Saya pun berkata sambil bercanda kepada teman bule kami, Paul: “Kalau suatu hari Paul datang ke Indonesia, kami traktir makan nasi goreng pagi, siang, dan malam ya.” Paul tertawa senang. Baginya, nasi goreng memiliki daya pesona eksotis.

Bagi kami, itu adalah kehangatan dan kenangan rumah.

Nasi Goreng, Maskot Rasa Nusantara

Dalam satu acara makan bersama antar komunitas internasional, setiap peserta diminta membawa masakan khas negaranya masing-masing. Kami membawa satu box besar penuh nasi goreng. Hasilnya? Box yang isinya cukup banyak itu kosong dalam sekejap. Padahal di meja tersedia nasi lemak dari Malaysia, mi Singapore, hingga tom yam dari Thailand. Namun, nasi goreng Indonesia tetap menjadi pilihan utama.

Ada sesuatu yang sederhana tapi membekas dalam setiap suapan, aroma bawang putih, kecap manis, rasa asap dari wajan, dan tentu saja, rindu kampung halaman. Yang penting, jangan memasak nasi goreng ikan asin. Karena rata-rata orang Australia tidak suka bau ikan asin, maupun bau teri kering.

Karena saya tidak makan daging ayam, maka isteri tercinta menggunakan irisan sosis, telur, irisan cabe, bawang putih dan irisan daun sup dan tentu minyak goreng secukupnya, untuk memasak nasi goreng. Dan disertai dengan telur mata sapi. Nasi goreng yang dipersiapkan isteri tercinta tidak pernah tersisa. Malahan saya bertanya: "Masih ada lagi sayang?" "Jangan tambah lagi Koko, ntar beratnya bertambah terus." Ya iyalah...

Pesan bagi yang Ingin Merantau

Jika suatu hari Anda berkesempatan tinggal atau berkunjung ke luar negeri—terutama ke Australia, belajarlah memasak nasi goreng. Untuk apa? Untuk menjamu teman, untuk memperkenalkan rasa Indonesia, bahkan, kalau mau, bisa dijadikan peluang usaha. (dan yakinlah, pasti laris manis).

Kami sudah tinggal di Australia selama belasan tahun, di Queensland, New South Wales, hingga kini Western Australia. Dan selama itu, satu hal tak pernah berubah: Nasi goreng tetap menjadi penyelamat, penyambung silaturahmi, dan pengobat rindu.

Nasi goreng bukan makanan murahan. Ia adalah duta budaya yang berjalan tanpa visa, memperkenalkan Indonesia melalui rasa.

0 Komentar