
Kehidupan Monalisa di Tengah Bencana dan Kehamilan yang Mengancam
Monalisa, seorang perempuan berusia 26 tahun asal Pardagangan, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, kini tengah menghadapi tantangan terberat dalam hidupnya. Ia menjadi korban banjir bandang yang melanda daerah tersebut dan saat ini tinggal di posko pengungsian. Wajah lelah namun tegar terlihat jelas pada wajahnya, karena ia harus bertahan di tengah kondisi yang tidak menentu.
Di tengah keramaian dan kepadatan pengungsian, Monalisa duduk dengan perut yang semakin membesar. Usia kandungannya sudah mencapai sembilan bulan, sehingga ia sedang menunggu hari kelahiran. Namun, beban yang ia alami terasa lebih berat karena ia harus menghadapi masa-masa kritis ini sendirian tanpa dukungan dari suaminya.
"Sendiri saja memang di sini, karena suami berlayar. Sebatang kara lah di bencana ini," ujarnya dengan nada sedih. Suaminya saat ini sedang bekerja di Batang Arau, Padang, jauh dari rumah. Hal ini membuat Monalisa harus menghadapi situasi sulit tanpa adanya orang yang bisa membantunya, baik secara fisik maupun mental.
Detik-Detik Mengerikan Saat Banjir Bandang Menyerang
Monalisa masih ingat betul detik-detik mengerikan ketika air banjir bandang datang pada Selasa (25/11/2025) pagi. Tanpa ada suami yang bisa diandalkan, ia harus berjuang sendiri untuk menyelamatkan diri dan anaknya. "Dari rumah hampir terseret, hampir terseret arus, pegangan aja sama yang ada," katanya.
Kondisi fisiknya yang sedang hamil tua membuat pergerakannya terbatas, sementara derasnya air terus meninggi hingga mencapai ketinggian satu meter atau setara pinggang orang dewasa. Ia harus sekuat tenaga menahan arus sembari menjaga anaknya agar tidak hanyut.
"Karena menarik ini (anak), karena air sudah hampir sepinggang. Apalagi hamil kan enggak bisa apa (banyak bergerak) karena kencang air. Tapi alhamdulillah masih dikasih selamat," tambahnya.
Beruntung, di tengah kepanikan tersebut, sebuah mobil datang menjemput dan mengevakuasinya keluar dari kawasan yang dinyatakan waspada itu. "Karena daerah rumah itu ternyata udah waspada, jadi dijemput sama tim penyelamat itu," ujarnya.
Keputusan Bertahan di Pengungsian
Meski menjelang waktu persalinan, Monalisa memilih untuk tetap tinggal di pengungsian meskipun fasilitasnya sangat terbatas. Rumahnya yang berlumpur setinggi lutut belum layak untuk kembali dihuni. Alasan utamanya bukan hanya karena kondisi fisik rumah, tetapi juga ketakutannya menghadapi persalinan sendirian tanpa bantuan medis di tengah kondisi darurat.
Di rumahnya, akses listrik terputus dan tidak ada sinyal komunikasi. Kondisi itu dinilai terlalu berbahaya bagi dirinya yang hidup sendirian dan tengah ditinggal suaminya. "Sebenarnya berat (di pengungsian). Tapi karena di sini ada tim medis, terpaksa harus di sini. Kalau di sana (rumah) kan jaringan enggak ada, lampu mati. Otomatis kan awak sendiri. Kalau di sini dirawat," jelas Monalisa.
Berdasarkan pemeriksaan dokter, Hari Perkiraan Lahir (HPL) Monalisa jatuh pada 20 Desember 2025. Namun, dokter yang memeriksa di pengungsian menyebutkan bahwa kelahiran bisa terjadi lebih cepat atau mundur. "HPL-nya itu tanggal 20. Tapi katanya bisa maju, bisa mundur," ucapnya.
Persiapan yang Masih Kurang
Di tengah ketidakpastian itu, persiapan menyambut sang buah hati masih jauh dari kata cukup. Banjir telah merendam semua pakaian dan perlengkapan bayi yang sempat ia siapkan. Sementara itu, kondisi keuangan keluarga yang sedang sulit karena suami merantau menambah beban pikirannya.
"Apalagi di sini pun juga masih ada kurang sih (bantuannya). Kayak pakaian bayi. Kan semua kena (banjir). Apalagi kondisi keuangan enggak ada," tuturnya lirih.
Monalisa pun kini hanya bisa berharap proses persalinannya nanti berjalan lancar dan ia bisa mendapatkan tempat yang lebih layak untuk membesarkan bayinya. Sebab rumahnya masih dipenuhi lumpur. Ia juga mengungkap bahwa dirinya selalu berdoa agar sang suami dapat segera pulang dan mendampingi proses persalinannya. "Penginnya iya sih, (dapat) tempat yang layak, ada suami. Kalau enggak ada suami, kenapa-kenapa nanti siapa lah yang bawa aku ke rumah sakit," pungkasnya penuh harap.
0 Komentar