Kisah menyedihkan jamaah umrah KBB: Terjebak di Makkah dua bulan tanpa biaya pulang

Featured Image

Kondisi Menyedihkan Jamaah Umrah yang Terjebak di Arab Saudi

Cucu Suryati (74), seorang jamaah umrah asal Kampung Ciwaru, RT 03 RW 07, Desa Bojongmekar, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, kini menghadapi situasi yang sangat memprihatinkan. Setelah berangkat ke Tanah Suci dua bulan lalu, ia tidak bisa kembali ke Indonesia karena sakit dan kesulitan biaya.

Deny Hidayat (50), putra ketiga Cucu, menceritakan bahwa ibunya berangkat umrah bersama suaminya, Jeje Jaenudin (75), dan anak pertama mereka, Siti Nurjanah (53). Mereka menggunakan travel umrah yang berada di Jakarta Selatan. Jadwal perjalanan dimulai pada 7-15 Oktober 2025. Ibadah umrah berjalan lancar hingga hari terakhir.

Pada saat akan pulang ke Indonesia, Cucu tiba-tiba sakit di atas bus. Ia langsung dibawa ke rumah sakit Al-Noor di Makkah. "Ibu masuk ruang ICU dan tanpa sadar selama beberapa hari," ujar Deny. Suami Cucu, Jeje, berhasil pulang terlebih dahulu bersama rombongan. Sementara itu, Siti harus menunggu ibunya.

Setelah tujuh hari dalam kondisi tidak sadar, Siti akhirnya pulang karena waktu tiket pesawat reschedule telah habis. Sejak itu, Cucu tinggal sendirian di Makkah dalam kondisi sakit tanpa ada keluarga yang mendampingi. Hanya mutowif dari travel yang bisa menjenguk dan melaporkan kondisi ibu kepada keluarga di Indonesia.

Dari diagnosis awal, Cucu mengidap penyakit Covid Pneumonia dan kegagalan nafas. Saat itu, ia diberikan obat bius karena dilakukan intubasi dan terpasang ventilator.

Terganjal Biaya yang Mahal

Kabar baik datang ketika kondisi Cucu mulai membaik pada 15 November 2025. Meski hanya 80% sehat, pihak rumah sakit menyatakan bahwa Cucu bisa pulang ke Indonesia. Namun, permintaan biaya oleh travel untuk tiket pesawat kepulangan mencapai Rp 51.350.000. Keluarga akhirnya memenuhi permintaan tersebut.

Sayangnya, setelah semua persiapan selesai, kesehatan Cucu kambuh lagi. Ia dinyatakan tidak layak terbang dan kembali dirawat di rumah sakit. Ia masuk ICU selama tiga hari dan kemudian dipindahkan ke ruang perawatan hingga 3 Desember 2025.

Pada 4 Desember 2025, Cucu keluar dari rumah sakit dan dibawa ke rumah singgah untuk merecovery kesehatannya sampai sekarang. Berbagai langkah telah dilakukan keluarga agar Cucu bisa pulang secepatnya, termasuk meminta bantuan ke Kementrian Haji RI. Upaya lain juga dilakukan melalui jalur birokrasi dari kantor kecamatan hingga kementerian agama di KBB, Pemerintah Provinsi Jawa Barat hingga Konsulat Jenderal Republik Indonesia.

Namun, proses yang sudah berlangsung selama tiga hari ini belum memberikan hasil signifikan. Permintaan bantuan ini dilakukan karena keterbatasan dana keluarga. Bahkan, keluarga telah menawarkan aset tanah dan rumah untuk membiayai kepulangan Cucu, tetapi tidak ada hasilnya.

"Pinjam ke bank, semua anggota keluarga masih memiliki tunggakan. Jadi hanya pemerintah yang bisa menyelamatkan kondisi kami," ujar Deny. Diperkirakan biaya pemulangan Cucu mencapai sekitar Rp 200 juta. Hal ini karena Cucu harus pulang dalam kondisi tertidur di pesawat serta membeli minimal 6-9 seat plus tiket pendamping.

Harapan Bantuan dari Pemerintah

Dedi Heryanto (44), anak bungsu Cucu, berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk proses pemulangan ibunya. "Yang penting segera terbantu proses pemulangan ibu saya," ujarnya. Dedi mengaku khawatir dengan kondisi kesehatan ibunya di Arab Saudi.

0 Komentar