
Bantengan Mberot: Transformasi Budaya yang Menggabungkan Tradisi dan Pop Kultur
Di Desa Tirtomarto, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, suara musik elektronik koplo dari 'sound horeg' menggema sambil menyatu dengan kerincing gongseng. Di tengah kerumunan penonton, para penari menggunakan topeng kepala banteng bergerak dalam koreografi yang kompak dan serempak, bukan lagi dalam pola tari pencak silat yang anggun. Inilah potret fenomena seni Bantengan Mberot, sebuah transformasi radikal dari kesenian tradisi bantengan Malang yang kini menjamur di seluruh Malang Raya, mulai dari desa hingga pusat perkotaan.
Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan sebuah hibriditas budaya, proses percampuran kompleks antara pakem tradisi dan unsur-unsur budaya pop kontemporer. Dalam perspektif teori Homi K. Bhabha, Bantengan Mberot lahir dari 'ruang ketiga' (third space), yaitu zona negosiasi tempat tradisi dominan (tesis) bertemu dengan antitesis berupa budaya pop dan digital, sehingga melahirkan sintesis baru yang ambivalen namun penuh daya hidup.
Perubahan yang terjadi bersifat fundamental. Penelitian Dinda Nastiti Wahyuningtyas (2025) mengungkap bahwa pakem tradisional bantengan yang kaku dimulai dengan ritual nyuguh (sesaji), dilanjutkan tari pencak silat, atraksi bantengan, puncak kesurupan, dan ditutup ruwatan oleh pawang. Ritual ini penuh muatan spiritual dan simbolis. Namun, Bantengan Mberot dengan berani mendekonstruksi pakem tersebut. Unsur pembuka seperti nyuguh dan pencak silat seringkali dihilangkan atau diminimalkan. Atraksi langsung menuju koreografi massal yang serempak, dirancang untuk visual menarik di media sosial. Musik pengiringnya bukan lagi gamelan, melainkan dangdut koplo elektronik dari 'sound horeg'. Tahap puncak kesurupan (trance) kerap dianggap sebagai 'gimmick' atau pertunjukan belaka, bukan lagi pengalaman spiritual yang otentik.
Lahirnya fenomena ini memiliki akar konteks sosio-kultural yang jelas. Dua peristiwa besar diduga menjadi pemicu utamanya:
- Pandemi Covid-19: Masa lockdown menciptakan ruang kosong bagi eksperimen seni di level akar rumput.
- Tragedi Kanjuruhan 2022: Dampak psikologis dan absennya sepak bola sebagai 'ritual' hiburan massal masyarakat Malang, khususnya Aremania, menciptakan vakum yang perlu diisi. Bantengan Mberot, dengan energi kolektif, ekstasi, dan semangat komunalnya, menjadi saluran alternatif yang tak terduga.
Mberot adalah jawaban kreatif atas 'kelaparan' akan ekspresi bersama dan hiburan publik yang spektakuler pasca-trauma. Di sinilah konsep mimikri Bhabha menemukan relevansinya. Bantengan Mberot adalah bentuk peniruan terhadap bantengan tradisional, tetapi "hampir sama, tidak sepenuhnya". Peniruan ini bukan sekadar plagiarisme, melainkan sebuah resistensi halus. Dengan memasukkan musik elektronik, koreografi modern, dan logika pertunjukan media sosial, generasi muda tidak menolak tradisi, tetapi sekaligus menolak untuk tunduk sepenuhnya pada otoritas dan kemurnian pakem lama.
Proses ini terjadi di 'ruang ketiga' yang bukan sepenuhnya ruang tradisi sakral, juga bukan ruang komersial modern murni. Di ruang inilah negosiasi makna terjadi. Bagi seniman tradisional, ini bisa dilihat sebagai pengaburan makna. Bagi masyarakat luas dan generasi muda, ini adalah proses demokratisasi dan rekontekstualisasi. Bantengan yang tadinya mungkin dianggap kuno dan terbatas, menjadi relevan, menghibur, dan mudah diakses.
Fenomena ini menghadirkan dilema klasik pelestarian budaya. Di satu sisi, puritan budaya mungkin mengelus dada melihat penyederhanaan ritual dan pergeseran makna sakral. Di sisi lain, tak dapat disangkal bahwa Bantengan Mberot telah menghidupkan kembali minat terhadap bantengan secara masif. Bantengan yang sebelumnya mungkin hanya dikenal di kalangan terbatas, kini menjadi tontonan yang diburu jadwalnya, diproduksi sebagai konten, dan digandrungi lintas generasi.
Bantengan Mberot membuktikan bahwa tradisi bukanlah monumen yang beku. Ia adalah organisme hidup yang harus bernapas sesuai zamannya. Melalui hibriditas, ia melakukan negosiasi identitas untuk tetap bertahan, kehilangan sebagian 'kesakralan' lama, tetapi memperoleh 'vitalitas' baru yang menyambungkannya dengan denyut nadi masyarakat masa kini.
Pada akhirnya, dalam pusaran musik koplo dan teriakan penonton di Malang Raya itu, kita menyaksikan sebuah tradisi yang tidak mati, tetapi sedang berubah wujud, berevolusi untuk tetap berarti.
0 Komentar