
Pengemudi Becak Banyumas Dapat Bantuan Becak Listrik, Memberi Harapan Baru
Raut lelah Abdul Mungid berubah menjadi senyum lega saat tangannya menggenggam kemudi becak listrik baru yang baru saja ia terima. Kendaraan tersebut menjadi angin segar bagi pria sepuh yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup pada kayuhan becak tradisional. Di halaman Pendopo Si Panji, Purwokerto, ratusan pengemudi becak duduk berjejer dengan wajah sumringah. Ada yang memandangi becak listrik sambil tersenyum, ada yang menahan haru, dan ada pula yang meraba-raba bodi kendaraan yang kini akan menjadi tumpuan hidup mereka.
Sebanyak 280 unit becak listrik dari Presiden Prabowo Subianto, disalurkan melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN), menjadi hadiah besar bagi para penarik becak Banyumas yang selama ini mengandalkan tenaga fisik dan pendapatan yang tak menentu. Program ini bertujuan mengentaskan kemiskinan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecil, terutama para pengemudi becak berusia lanjut yang masih bekerja setiap hari.
“Tenaga sudah habis, tapi kewajiban hidup tetap jalan,” ucap Abdul Mungid. Warga Desa Kebumen, Kecamatan Baturaden itu setiap hari mangkal di sekitar Puskesmas Purwokerto Timur II. Pendapatannya sering bergantung pada kondisi tubuhnya. “Kalau dulu, kalau sedang dapat uang ya Rp200 ribu, Rp150 ribu. Tapi setelah banyak kendaraan, ini ya minimal Rp50 ribu, Rp100 ribu ke bawah itu sering, kadang-kadang kosong,” katanya.
Kadang ia mampu mengayuh, kadang tidak. Jika kelelahan, ia harus menolak penumpang. Namun hari itu wajahnya tampak berbeda—seperti kembali menemukan harapan. “Saya menerima becak ini sangat bersyukur. Untuk narik becak, tenaga itu terkuras, tapi sekarang ada mesinnya. Maka saya sangat terima kasih pada Bapak Prabowo dan panitia-panitia yang melaksanakan penerimaan ini,” ujarnya. Becak listrik membuatnya tetap bisa mengantar penumpang meskipun tubuhnya mulai rapuh.
Sugeng Riyanto (55), penerima bantuan lainnya, juga merasakan hal serupa. Setiap hari ia mengayuh becak di Purwokerto, meski tinggal di Tamansari, Kecamatan Karanglewas. “Orang kecil itu susah, tapi hidup harus jalan,” katanya. Pendapatannya hanya sekitar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per hari, bahkan kadang hanya Rp15 ribu. Uang itu digunakan untuk mencukupi kebutuhan empat cucunya, karena anak-anaknya telah meninggal. Bantuan becak listrik baginya bukan sekadar alat transportasi, tetapi penyelamat.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan pihaknya awalnya hanya mengajukan 188 unit, namun Yayasan GSN mengirim 280 unit. Pemerintah daerah kemudian bergerak cepat mendata penerima sesuai kriteria usia minimal 55 tahun. Distribusinya dilakukan di Purwokerto sebanyak 100 unit, Kecamatan Banyumas 100 unit, dan Kecamatan Sokaraja 80 unit.
Selain becak listrik, Yayasan GSN turut memberikan 21 unit kacamata akal imitasi (AI), tablet pintar untuk enam SD yang tidak terjangkau internet, serta paket sembako. Presiden Prabowo disebut ingin 80 ribu penarik becak di Indonesia menerima becak listrik secara bertahap. Pesannya jelas, “Jangan dijual. Kalau ketahuan dijual, becaknya akan ditarik kembali.”
Ketua Yayasan GSN, Letjen TNI (Purn) Teguh Arief Indratmoko, menegaskan program ini bukan khusus Banyumas, tetapi program nasional bidang pengentasan kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan. Ide becak listrik muncul ketika Presiden Prabowo melihat penarik becak berusia 70 tahun yang masih bekerja berat. Becak listrik dirancang untuk meringankan beban, meningkatkan waktu kerja dari dua-tiga jam menjadi delapan hingga sepuluh jam per hari.
Secara nasional, GSN menargetkan 10 ribu unit tersalurkan pada 2025, dan saat ini sekitar 3.000 unit sudah terealisasi. Pada 2026 ditargetkan 30 ribu unit hingga mencapai 80 ribu unit untuk seluruh Indonesia. Pemerintah daerah juga diminta menyediakan colokan listrik di titik mangkal supaya pengemudi bisa mengisi daya.
Jika becak rusak, pengemudi dapat menghubungi yayasan atau bengkel rekanan untuk perbaikan. Becak juga boleh dialihkan kepada anak yang bekerja sebagai penarik becak jika pengemudi sudah terlalu tua, namun tetap tidak boleh diperjualbelikan.
Becak listrik bukan hanya modernisasi transportasi tradisional, tetapi alat pemberdayaan sosial yang memberi tenaga baru bagi mereka yang semakin lemah, membuka peluang bagi yang hidup pas-pasan, dan menjaga martabat para penarik becak. Mungid, Sugeng, dan ratusan pengemudi lain kini pulang dengan bukan sekadar kendaraan, tetapi simbol keberpihakan negara. Di tengah senyum, syukur, dan tepuk tangan, harapan baru tumbuh di Banyumas.
0 Komentar