
Kampung Ondel-ondel: Jejak Tradisi yang Terancam
Di tengah keramaian permukiman padat di Kramat Pulo, Jakarta Pusat, terdapat sebuah kampung kecil yang masih mempertahankan tradisi Betawi sejak tiga dekade lalu. Kampung ini dikenal dengan nama Kampung Ondel-ondel, tempat para perajin membuat boneka raksasa yang menjadi ikon budaya Betawi. Namun, kini kondisinya mulai berubah.
Perubahan dalam Kehidupan Kampung
Kampung Ondel-ondel, yang dahulu ramai dengan pesanan dari berbagai acara adat dan hajatan, kini lebih mengandalkan pendapatan dari anak-anak pengamen di jalanan. Akses menuju kampung ini bisa dilakukan melalui Jalan Letjen Suprapto atau Jalan Kembang Sepatu. Saat memasuki kawasan, suasana tradisional Betawi langsung terasa. Di sepanjang jalan utama, terdapat deretan ondel-ondel besar dengan wajah merah dan putih serta pakaian yang khas.
Beberapa boneka tampak usang karena sering digunakan untuk arak-arakan atau ngamen. Di sekitar kampung juga terdapat lapak-lapak kecil yang menjual miniatur ondel-ondel sebagai suvenir. Meski sederhana, miniatur ini menjadi satu-satunya produk baru yang diproduksi secara konsisten.
Dari Empat Menjadi Dua Perajin
Menurut Endang, Ketua RT 11 RW 04 Kramat Pulo, dulu kampung ini dihuni empat perajin utama. Namun kini hanya tersisa dua orang yang benar-benar masih membuat ondel-ondel dari nol. Sebelumnya, ada sanggar besar yang dikenal sebagai CS Sanggar Betawi, tetapi kini sanggar tersebut hanya berjalan jika ada panggilan acara.
Endang menyebutkan bahwa kehidupan budaya di kampung ini semakin berubah. Arak-arakan besar setiap 17 Agustus atau Tahun Baru masih berlangsung, tetapi pesanan acara formal menurun. Kini, banyak yang menggunakan ondel-ondel untuk ngamen.
Cerita Perajin Ondel-ondel
Firli (44), salah satu perajin yang meneruskan usaha ayahnya, bercerita bahwa ia mulai serius meneruskan usaha pada 2017 setelah ayahnya meninggal. Ia kini menjadi salah satu dari sedikit orang yang masih memproduksi ondel-ondel secara manual.
Firli menjelaskan bahwa pesanan ondel-ondel saat ini datang dari berbagai tempat, termasuk sekolah-sekolah atau konten kreator. Harga satu set ondel-ondel berkisar antara Rp 3 juta hingga Rp 3,5 juta, tergantung ukuran. Bahan bakunya sederhana: bambu untuk rangka, resin piper untuk kepala, dan baju yang dijahit oleh penjahit langganan.
Meski masih aktif berkarya, jumlah produksi tahun ini sangat kecil. Firli menyebutkan bahwa tahun ini, produksinya tidak sampai 10 pasang. Dulu bisa mencapai belasan. Pendapatan rutin justru datang dari setoran anak-anak yang mengamen.
Antara Pelestarian dan Ketertiban
Anak-anak mengamen ondel-ondel di jalanan bukan hal asing di Jakarta. Namun, kegiatan ini berhadapan dengan aturan ketertiban umum. Firli mengaku sering melihat anak-anak ditangkap petugas. Ia bahkan pernah mengeluarkan sepupunya yang ditangkap dua hari di Binsos.
Menurut Kasatpol PP Jakarta Pusat, Purnama Hasudungan Panggabean, aturan ini merujuk pada Perda Ketertiban Umum Nomor 8 Tahun 2007, yang melarang seseorang menjadi pengamen maupun memberi uang kepada pengamen. Penertiban dilakukan demi menjaga estetika budaya Betawi.
Pandangan Budayawan
Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, memandang fenomena menurunnya jumlah perajin dan meningkatnya penggunaan ondel-ondel untuk mengamen sebagai pergeseran besar dalam pemahaman masyarakat terhadap simbol budaya Betawi. Ia menilai pemanfaatan ondel-ondel untuk tujuan kreatif seperti membuat kaus, komik, hingga gantungan kunci merupakan hal yang baik, selama mengikuti pakem budaya.
Namun penggunaan oleh oknum yang hanya mencari keuntungan dinilai merendahkan. Menurut Yahya, kampung-kampung yang menjadi pusat budaya seperti Kampung Ondel-ondel seharusnya mendapat perhatian.
Potensi Wisata Budaya
Jika melihat kondisi lapangan, Kampung Ondel-ondel sebenarnya memiliki potensi wisata budaya yang besar. Deretan ondel-ondel besar yang berdiri di setiap tikungan, aktivitas sanggar, hingga jejak sejarah para perajin sejak 1990-an cukup kuat untuk dikembangkan menjadi destinasi edukasi budaya Betawi.
Firli mengatakan ia terbuka jika kampungnya dijadikan kampung wisata. Ia berharap ada pendampingan dari pemerintah, baik dari sektor pariwisata, UMKM, maupun kebudayaan. Budayawan Yahya menambahkan bahwa pelestarian budaya harus sejalan dengan pemberdayaan masyarakat. Jika masyarakatnya sejahtera, budaya ikut hidup.
0 Komentar