Eksploitasi dan Harapan Jadi Kunci Kembalinya Banteng Jawa ke Habitat Asli

Featured Image

Perubahan Status Keterancaman Banteng Jawa

Pada tahun 2024, status keterancaman Banteng (Bos javanicus) mengalami peningkatan. Satwa ini yang merupakan spesies sapi liar karismatik asli Asia Tenggara kini dinyatakan sebagai "Sangat Terancam Punah" oleh lembaga internasional. Perubahan ini menjadi alarm bagi upaya konservasi, terutama karena penurunan populasi global mencapai lebih dari 80% dalam dua dekade terakhir.

Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor utama. Pertama, tekanan akibat perburuan liar untuk daging dan tanduk. Kedua, hilangnya habitat akibat degradasi hutan. Ketiga, dampak bencana alam yang berdampak signifikan terhadap populasi satwa. Data pemantauan jangka panjang menunjukkan bahwa penurunan drastis telah terjadi di banyak subpopulasi, termasuk di wilayah Kamboja dan hutan hujan Sabah Malaysia. Saat ini, total populasi banteng global diperkirakan sekitar 3.300 ekor.

Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, pihak terkait melakukan intervensi pengurangan status keterancaman. Salah satu upaya adalah reintroduksi Banteng Jawa di Cagar Alam (CA) Pananjung Pangandaran. Area ini dipilih sebagai tempat representatif untuk perkembangbiakan banteng.

Achmad Arifin S.Hut M.Si, Kepala Bidang Wilayah III Ciamis Balai Besar KSDA Jawa Barat menjelaskan bahwa program reintroduksi dimulai pada tahun 1922 dengan 4 ekor banteng yang digunakan sebagai taman buru. Pada tahun 1934, sebanyak 60-80 ekor banteng diintroduksi, sehingga populasi meningkat menjadi 90 ekor pada tahun 1979. Namun, letusan Gunung Galunggung pada tahun 1982 menyebabkan penurunan drastis. Hingga tahun 2003, hanya tersisa satu ekor jantan.

Pada Desember 2024, empat ekor banteng jawa dilepasliarkan di Padang Rumput Cikamal CA Pananjung Pangandaran. Keempat ekor ini berasal dari tiga lembaga konservasi: Taman Safari Indonesia Bogor, Prigen, dan Gianyar Bali. Mereka akan dikembangbiakkan secara alami.

Pusat Reintroduksi Banteng Jawa Pangandaran memiliki luas sekitar 5 Ha. Di sini, keempat banteng dipantau oleh sembilan petugas lapangan yang bertugas memperhatikan kesehatan, pakan, dan kondisi lingkungan. Upaya ini bertujuan meningkatkan populasi banteng dengan keragaman genetik yang lebih baik, serta mengembalikan satwa ini ke habitat aslinya setelah dinyatakan punah di kawasan tersebut pada tahun 2023.

Dalam perkembangannya, pada akhir tahun 2025, tercatat dua anakan banteng lahir. Anakan pertama bernama Eksploitasia dari induk Uchi pada 27 Juli 2025, dan anakan kedua bernama Haruni dari induk Bindi pada 7 Agustus 2025. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, masyarakat lokal, media, dan swasta.

Edukasi publik juga menjadi fokus penting dalam upaya konservasi. Menurut Arifin, masih ada tantangan besar di masa depan. Reintroduksi bukanlah proses mudah, dan kesehatan serta kelangsungan hidup satwa menjadi prioritas utama. BBKSDA Jawa Barat terus berupaya meningkatkan kinerjanya melalui standar tata kelola reintroduksi yang lebih baik, termasuk dalam hal kesehatan, perilaku, pakan, habitat, dan prasarana.

Selain itu, sedang dikembangkan prototipe laporan digital yang dapat memberikan informasi terkini tentang kondisi satwa. Dengan demikian, penanganan cepat dan terukur bisa dilakukan jika diperlukan. Diharapkan, banteng jawa mampu beradaptasi dan berkembang biak di habitat yang sesuai, membentuk populasi yang sehat di CA Pananjung Pangandaran.

0 Komentar