Firli, Perajin Ondel-Ondel yang Bertahan di Tengah Sepinya Pesanan

Featured Image

Kampung Ondel-ondel: Tradisi yang Tersisa di Tengah Perubahan

Di tengah keramaian kota Jakarta, Kampung Ondel-ondel di Kramat Pulo, Senen, Jakarta Pusat, menjadi salah satu tempat yang masih menyimpan keunikan budaya Betawi. Di sepanjang jalan sempit, berdiri deretan boneka ondel-ondel dengan pakaian warna-warni yang terlihat menarik perhatian. Namun, di balik keindahan tersebut, terdapat cerita kesulitan dan tantangan yang dihadapi para perajin.

Firli (44), salah satu perajin ondel-ondel yang masih bertahan di kampung ini, menjelaskan bahwa usaha keluarganya semakin sulit karena pesanan yang semakin sedikit. Ia mengatakan bahwa jumlah pesanan pada tahun 2025 hanya kurang dari 10 pasang ondel-ondel. “Biasanya sepasang harganya 3 sampai 3,5 juta. Yang besar bisa 4 juta,” ujarnya. Meski begitu, Firli tetap berusaha melanjutkan tradisi yang diwariskan oleh ayahnya.

Proses Pembuatan Ondel-ondel

Firli mengakui bahwa ia tidak langsung terjun menjadi perajin sejak kecil. Ia baru benar-benar meneruskan usaha keluarganya sekitar 2017, setelah ayahnya meninggal. Sebelumnya, ia banyak mengamati cara ayahnya membuat ondel-ondel. Dari proses membentuk kepala, memasang rambut ijuk, hingga menyesuaikan warna kostum agar sesuai pakem Betawi.

Saat ini, karena keterbatasan waktu dan tenaga, Firli sudah memiliki langganan tukang jahit yang membuat kostum berdasarkan ukuran yang ia minta. Untuk membuat satu kepala ondel-ondel, ia membutuhkan waktu dua hingga tiga hari menunggu bahan kering. Satu set lengkap biasanya selesai dalam seminggu.

Penyewaan Ondel-ondel untuk Mengamen

Karena penghasilan yang tidak menentu, Firli mengandalkan penyewaan ondel-ondel kepada anak-anak yang biasa mengamen di jalanan. Sebagian dari anak-anak tersebut adalah remaja putus sekolah yang mencari pemasukan harian. “Kalau nggak ada yang pesan, paling kita sewain ke anak-anak yang biasa pada mementu (mengamen). Di sini banyak anak-anak yang putus sekolah. Kita berdayakan daripada lontong-lontong (menganggur),” jelasnya.

Firli tidak mematok harga sewa. Semua bergantung kondisi dan cuaca. Jika hujan turun, anak-anak biasanya tidak bisa mencari uang karena jalanan sepi. Dulu, satu ondel-ondel bisa digunakan oleh belasan anak dalam beberapa grup. Saat ini, hanya empat grup yang bisa menggunakan ondel-ondel.

Kegiatan Mengamen dan Aturan yang Ada

Kegiatan mengamen dengan ondel-ondel sebenarnya berhadapan dengan aturan ketertiban umum di Jakarta. Satpol PP memiliki kewenangan menindak pengamen yang masuk ke area terlarang atau disebut Ring 1, yakni kawasan yang tidak boleh digunakan untuk aktivitas jalanan. Firli mengatakan, sejak 2010, para pengamen di kampungnya sudah berkali-kali berurusan dengan penertiban.

Meski begitu, Firli tetap berharap adanya solusi dari pemerintah. “Kalau mau nerapin aturan, sah-sah saja. Tapi upayakan bantuan. Misal kegiatan seni atau pembiayaan bikin ondel-ondel, kayak UMKM. Kampung ini bisa jadi kampung wisata,” katanya.

Perubahan di Kampung Ondel-ondel

Pantauan menunjukkan bahwa Kampung Ondel-ondel kini lebih dikenal sebagai tempat penyewaan dan hiburan jalanan. Banyak boneka ondel-ondel tampak lusuh karena dipakai harian oleh anak-anak. Beberapa juga terlihat dipasang seadanya di tiang-tiang bambu. Lapak-lapak kecil berjajar menjual makanan, minuman, gantungan kunci, dan boneka mini ondel-ondel sepanjang 20–25 sentimeter.

Endang (62), Ketua RT 11 RW 4, mengatakan bahwa Kampung Ondel-ondel dikenal sejak awal 1990-an sebagai pusat perajin ondel-ondel. “Awalnya ada empat orang perajin. Itu sekitar tahun 90-an. Sekarang yang benar-benar bikin tinggal dua orang,” katanya.

Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra menilai fenomena ondel-ondel mengamen jauh dari fungsi aslinya sebagai penolak bala dan representasi budaya. “Ondel-ondel enggak pernah berubah makna. Yang berubah adalah pemahaman dan pemanfaatan masyarakat,” ujarnya.

Harapan Masa Depan

Meski berhadapan dengan banyak keterbatasan, Firli tetap memiliki harapan besar bagi kampungnya. Ia ingin kampung ini dapat menjadi kampung wisata. “Kalau mau nerapin aturan, sah-sah saja. Tapi upayakan bantuan. Misal kegiatan seni atau pembiayaan bikin ondel-ondel, kayak UMKM. Kampung ini bisa jadi kampung wisata,” katanya.

Ia juga berharap adanya dukungan dari pemerintah. “Pernah ada dari Pemkot datang, ya cuma nanya-nanya saja. Ada yang dibawa UMKM, tapi nggak banyak,” ujar Endang.

Dengan segala tantangan yang dihadapi, Firli tetap berjuang untuk menjaga tradisi ondel-ondel. Ia percaya bahwa meskipun perlahan hilang, ondel-ondel masih memiliki nilai budaya yang penting. “Ini 15 tahun saya menyambung hidup dari ngamen juga. Yang kita cari bukan kaya, tapi bertahan. Ondel-ondel buat kami itu hidup,” ucapnya.

0 Komentar