Gandeng Puthut EA, KPPD Situbondo Dorong Branding Daerah Lewat Penguatan Wisata Bahari

SITUBONDO – Komunitas Pemuda Pelopor Demokrasi (KPPD) Situbondo mulai memacu langkah konkret untuk mendorong transformasi sektor pariwisata daerah melalui penguatan branding dan narasi publik. Upaya tersebut dibahas dalam diskusi strategis bertajuk bincang santai yang digelar di Rosa De 5, Situbondo, Kamis (1/1/2025).

Dalam forum tersebut, KPPD Situbondo menggandeng tokoh literasi nasional sekaligus Kepala Suku Mojok, Puthut EA, untuk membedah potensi besar kawasan pesisir Situbondo yang selama ini dinilai belum tergarap secara optimal. Diskusi ini menjadi ruang bertukar gagasan antara pemuda, pegiat literasi, dan pemangku kepentingan daerah dalam merumuskan arah pengembangan wisata yang lebih berkelanjutan.

Sejumlah tokoh penggerak turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua Badan Inovasi dan Percepatan Pembangunan Daerah (BIPPD) Situbondo Marlutfi Yoandinas, Ketua PA GMNI Situbondo Irham Kahfi Yuniansyah, serta Ketua Gerakan Situbondo Membaca (GSM) Imam Sofyan. Kehadiran berbagai elemen ini menunjukkan adanya keseriusan lintas sektor dalam membangun ekosistem pariwisata Situbondo.

Dalam pemaparannya, Puthut EA menyoroti Pantai Pasir Putih sebagai salah satu aset strategis Situbondo yang memiliki kekuatan memori kolektif bagi wisatawan. Menurutnya, Pantai Pasir Putih bukan sekadar destinasi, melainkan telah menjadi ikon dan “gerbang memori” bagi para pelintas jalur Pantura, khususnya wisatawan yang melakukan perjalanan darat menuju Bali.

“Selama puluhan tahun, Pasir Putih menjadi titik singgah yang lekat dengan nostalgia. Banyak orang berhenti bukan hanya untuk berwisata, tetapi sebagai bagian dari ritual perjalanan. Kekuatan memori kolektif seperti ini adalah aset yang tidak dimiliki semua daerah,” ujar Puthut.

Ia menilai, potensi geografis Situbondo yang berada di jalur strategis seharusnya bisa dikembangkan lebih jauh dengan konsep wisata bahari yang memiliki daya tarik kuat. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah pengembangan wisata selam atau diving, dengan mencontoh keberhasilan pengelolaan wisata bahari di Bangsring, Banyuwangi.

“Dengan pengelolaan yang tepat, laut Situbondo sangat memungkinkan menjadi destinasi wisata bahari unggulan. Namun yang paling penting bukan hanya infrastrukturnya, melainkan bagaimana daerah ini membangun cerita dan pengalaman bagi wisatawan,” tambahnya.

Gagasan tersebut mendapat respons positif dari Wakil Ketua KPPD Situbondo, Ahmad Zainul Khofi. Ia menegaskan bahwa pengembangan pariwisata tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik semata, tetapi harus dibarengi dengan penguatan narasi yang digerakkan oleh pemuda dan komunitas literasi.

Menurut Khofi, pemuda memiliki peran penting sebagai penghubung antara potensi daerah dan persepsi publik. Melalui cerita, konten, dan narasi yang kuat, keindahan Situbondo dapat dikenal lebih luas, baik di tingkat regional maupun nasional.

“Pengembangan wisata adalah kerja kolaboratif. Pemuda harus ambil bagian, terutama dalam membangun narasi publik. Potensi Situbondo sangat besar, tetapi perlu dikemas dan diceritakan dengan cara yang menarik agar mampu memikat wisatawan,” ujar Khofi.

Sementara itu, Ketua BIPPD Situbondo Marlutfi Yoandinas mengonfirmasi bahwa Pemerintah Kabupaten Situbondo memang tengah memprioritaskan pengembangan wisata bahari sebagai salah satu fokus pembangunan daerah. Pada tahun ini, perhatian pemerintah diarahkan ke kawasan Pantai Sijile sebagai bagian dari strategi penguatan sektor pariwisata.

Marlutfi menilai, keterlibatan komunitas dan pemuda menjadi faktor krusial dalam mendukung promosi dan branding daerah. Menurutnya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan narasi kreatif dari masyarakat.

“Pemerintah membutuhkan peran pemuda dan komunitas literasi untuk menyuarakan potensi daerah. Dengan narasi yang kuat dan konsisten, pengembangan wisata bahari di Situbondo diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” tegasnya. (*)

0 Komentar