Hanya 17 Industri di Jateng Miliki Sertifikasi Hijau

Featured Image

Transformasi Menuju Industri Hijau di Jawa Tengah

Sektor industri di Jawa Tengah terus berupaya untuk melakukan transformasi menuju industri hijau. Hal ini dilakukan melalui penerapan praktik yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Namun, dari banyaknya industri yang beroperasi di wilayah tersebut, hanya sekitar 17 industri saja yang telah memiliki Sertifikat Industri Hijau (SIH).

Iwan Indrawan, Ketua Kelompok Kerja Pengawasan dan Pengendalian Industri Non Agro Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah, menjelaskan bahwa minimnya jumlah industri yang memiliki sertifikat hijau disebabkan oleh banyaknya standar yang berlaku untuk setiap jenis industri. Menurutnya, meskipun banyak industri yang sudah mulai bertransformasi, mereka tidak dapat melakukan sertifikasi karena belum ada SIH yang tersedia untuk sektor tertentu seperti furnitur dan kayu.

Untuk mempercepat proses sertifikasi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengembangkan Indeks Siap Hijau. Indeks ini berisi uji mandiri atau self assessment yang membantu pelaku industri dalam mengevaluasi kesiapan mereka untuk mendapatkan sertifikasi hijau.

Iwan juga menyampaikan bahwa belum adanya kewajiban untuk menerapkan Standar Industri Hijau menyebabkan rendahnya kepedulian pelaku industri dalam beralih ke praktik yang lebih ramah lingkungan. Meski begitu, saat ini industri mulai beralih ke penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT). Upaya ini perlu terus didorong agar semakin banyak industri menerapkan prinsip hijau.

Dalam pendataan yang dilakukan pada tahun 2023, tercatat sebanyak 60 industri di Jawa Tengah yang telah menggunakan energi dari sumber EBT. Iwan memperkirakan bahwa jumlah ini telah meningkat. Namun, untuk bisa mendapatkan SIH, pelaku usaha harus memenuhi beberapa aspek, termasuk manajemen dan teknis.

Kesadaran pelaku usaha terhadap transformasi menuju industri hijau semakin meningkat, terlihat dari adopsi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Jawa Tengah. SUN Energy, salah satu perusahaan sustainability-as-service asal Indonesia, telah melayani lebih dari 30 perusahaan dengan total kapasitas terpasang mencapai 22 MW. PLTS ini terpasang di berbagai sektor industri seperti FMCG (Fast Moving Consumer Goods), tembakau, tekstil, furnitur, dan manufaktur elektronik.

Oky Gunawan, Chief Sales Officer SUN Energy, menjelaskan pentingnya peran Jawa Tengah dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) di Indonesia. Sebab, sektor industri pengolahan memiliki peran besar dalam struktur ekonomi Jawa Tengah. Oky menegaskan bahwa tanpa keterlibatan semua pihak, industri hijau tidak akan berkembang pesat. Selain pemerintah, pelaku industri sendiri juga memiliki peran penting dalam mempercepat pemanfaatan energi hijau.

Dalam hal ini, SUN Energy hadir dengan skema transisi yang menawarkan biaya investasi yang rendah dan efisiensi tinggi. Oky menambahkan bahwa perusahaan ini tidak hanya menyasar sektor industri maupun komersial, tetapi juga masuk ke utility scale. Sejak tahun lalu, SUN Energy telah memulai partisipasi dalam proyek skala besar. Selain itu, perusahaan juga sedang menjajaki pasar di luar pulau seperti Sulawesi dan Kalimantan. Di daerah tersebut, sektor pertambangan mulai berkembang, sehingga SUN Energy perlu memasuki pasar tersebut karena sistem hybrid atau offgrid dinilai lebih efisien dalam penggunaan EBT.

0 Komentar