Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Abdul Hamid Wahid, dalam sambutannya menegaskan pentingnya perubahan orientasi alumni dari sekadar ikatan emosional berbasis almamater menjadi kekuatan jaringan fungsional yang mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, pesantren sejak lama dikenal memiliki tradisi silaturahmi yang kuat, namun situasi global saat ini menuntut model kerja sama yang lebih terstruktur dan terintegrasi.
“Hubungan karena satu pesantren itu penting, tapi tidak cukup. Alumni harus bergerak sebagai jaringan besar yang terbuka, saling terhubung lintas daerah bahkan lintas negara,” ujar Kiai Hamid di hadapan peserta halaqoh.
Ia menilai, potensi alumni Nurul Jadid tersebar di berbagai sektor—pendidikan, sosial, ekonomi, birokrasi, hingga dunia usaha—yang bila disinergikan akan menjadi kekuatan besar. Karena itu, setiap P4NJ di daerah diminta tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan membangun kolaborasi berbasis program dan kerja nyata.
Kiai Hamid juga mengingatkan kembali pesan para pendiri pesantren bahwa ukuran keberhasilan santri bukan saat berada di dalam pondok, melainkan ketika kembali ke tengah masyarakat dan tetap memegang prinsip perjuangan. Baginya, pengabdian sosial merupakan bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai pesantren.
“Khidmat kepada masyarakat adalah bentuk khidmat kepada Allah. Alumni harus hadir mengawal perubahan sosial, mulai dari lingkup terkecil sesuai kapasitas masing-masing,” katanya.
Dalam forum tersebut, Kiai Hamid menekankan satu prinsip penting yang menurutnya kerap diabaikan dalam relasi antaralumni, yakni pembedaan antara hubungan sosial (muasyarah) dan hubungan kerja atau bisnis (muamalah). Ia mengingatkan bahwa kedekatan emosional tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan profesionalisme.
“Dalam pergaulan kita bisa sangat dekat, tapi dalam kerja sama harus seperti orang asing—jelas akadnya, transparan, dan akuntabel,” tegasnya mengutip kaidah fikih.
Pesan itu merujuk pada teladan Rasulullah SAW yang dikenal sebagai Al-Amin karena menjaga kepercayaan dan amanah dalam setiap transaksi. Kiai Hamid menilai, banyak kerja sama gagal bukan karena niat yang salah, melainkan karena tidak adanya batas profesional yang tegas.
Halaqoh Alumni Nurul Jadid ini juga menjadi ruang konsolidasi gagasan untuk memperkuat peran alumni dalam pembangunan sosial dan ekonomi berbasis komunitas pesantren. Dalam diskusi internal, sejumlah perwakilan daerah menyampaikan inisiatif untuk membentuk lembaga usaha, koperasi, dan yayasan sosial yang melibatkan jaringan alumni sebagai penggerak utama.
Menanggapi hal tersebut, pihak pondok menyatakan komitmennya untuk memberikan dukungan kelembagaan dan pembinaan jika alumni di daerah serius membangun program produktif secara kolektif.
“Kami siap menjadi pembina. Jangan hanya berhenti di forum dan wacana. Harus ada lembaga nyata yang menjadi wadah gerakan alumni,” kata Kiai Hamid.
Menurutnya, keberadaan lembaga formal akan memudahkan alumni bergerak secara sistematis, memiliki legalitas, serta mampu menjangkau kerja sama yang lebih luas, termasuk dengan pihak luar negeri yang kini mulai terhubung melalui jaringan alumni Asia Tenggara.
Forum lintas negara ini sekaligus menunjukkan bahwa diaspora alumni pesantren tidak lagi terbatas dalam skala lokal. Kehadiran perwakilan dari Malaysia, Singapura, dan Thailand menjadi penanda meluasnya pengaruh Nurul Jadid sekaligus peluang besar untuk membangun kerja sama sosial, pendidikan, dan ekonomi di tingkat regional.
Di akhir sambutannya, Kiai Hamid menegaskan bahwa nilai utama yang harus dibawa alumni adalah kebermanfaatan. Ia berharap jaringan alumni Nurul Jadid mampu menjadi motor perubahan sosial yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga berdaya secara ekonomi dan profesional.
“Ujung perjalanan hidup bukan jabatan atau kekayaan, tapi seberapa besar manfaat yang kita berikan. Alumni pesantren harus menjadi agen transformasi sosial di manapun berada,” pungkasnya. (*)
0 Komentar