Indonesia Dikritik Bawa Pelobi Energi Fosil ke COP30, Ini Penjelasan Menteri Lingkungan

Featured Image

Peran dan Keterlibatan Indonesia dalam COP30

Indonesia menjadi perhatian internasional karena kehadiran pelobi dari industri energi fosil dalam konferensi perubahan iklim COP30 yang berlangsung di Belem, Brasil pada 10–21 November lalu. Hal ini menarik perhatian organisasi seperti Climate Action Network (CAN) International, yang memberikan predikat "Fossil of the Day" pada 15 November sebagai bentuk kritik terhadap partisipasi sektor swasta dalam perundingan iklim.

Dalam Komunikasi Hasil COP30 di Jakarta, Selasa (2/12/2025), Menteri Lingkungan Hidup Hanif Fasiol Nurofiq menjelaskan bahwa delegasi Indonesia terdiri atas 92 negosiator yang dipimpin oleh Kementerian Lingkungan Hidup sebagai national focal point, dengan dukungan kementerian teknis terkait. Ia menegaskan bahwa seluruh anggota delegasi berasal dari pemerintah, bukan dari sektor swasta atau perusahaan.

“Jadi untuk delegasi Indonesia tidak ada yang dari swasta, apalagi dari perusahaan. Seluruh 92 orang tersebut adalah pejabat pemerintah yang telah memiliki kualifikasi sebagai negosiator dalam perundingan iklim,” kata Hanif.

Perundingan iklim di COP30 dikatakan sangat teknis dan membutuhkan kehati-hatian. Banyak isu dinegosiasikan dalam 13 sesi yang hampir seluruhnya dihadiri delegasi Indonesia. Hanif menjelaskan bahwa proses ini sering kali memerlukan pendekatan diplomatis yang rumit.

“Perundingan iklim tidaklah sederhana. Kadang-kadang cukup teknis dan harus dilakukan secara hati-hati. Sehingga langkah-langkah itu kita sebut dengan art of diplomacy, diplomasi yang menjemukan dan delegasi harus tahan-tahanan,” paparnya.

Selain tim negosiator yang terlibat langsung dalam jalannya perundingan, Hanif menyebut adanya komponen soft diplomacy yang mencakup sekitar 50–60 orang. Mereka bertanggung jawab atas penyusunan materi untuk Paviliun Indonesia. Komponen ini berasal dari berbagai kelompok, termasuk sektor swasta.

Total delegasi dari unsur pemerintah berjumlah sekitar 143 orang, terdiri atas 92 negosiator dan sekitar 51 orang pengampu paviliun. Jumlah keseluruhan warga Indonesia yang hadir dalam konteks delegasi tercatat 540 orang, termasuk sektor swasta.

Hanif menjelaskan kehadiran dunia usaha cukup besar karena COP menjadi momentum penting untuk menyampaikan deklarasi, memaparkan upaya keberlanjutan, dan memperkuat koneksi dengan mitra internasional. Hal ini sejalan dengan meningkatnya signifikansi isu keberlanjutan dalam persaingan global.

“Teman-teman perusahaan hadir untuk kemudian menyampaikan upaya-upaya yang telah dilakukan di Indonesia. Dan kemudian melakukan konektivitas dengan mitra yang ada di tingkat internasional,” ujar Hanif.

Pengaruh Industri Energi Fosil dalam COP30

Temuan dari organisasi Kick Big Polluters Out (KBPO) mengungkap bahwa lebih dari 1.600 pelobi dari perusahaan di industri fosil hadir di COP30. Rasio kehadiran para pelobi mencapai rekor tertinggi, yaitu 1 banding 25 dari total delegasi, naik 12% dibandingkan COP29 di Baku, Azerbaijan tahun lalu.

Jumlah pelobi dari industri fosil bahkan melampaui delegasi dari negara manapun. Dibandingkan dengan jumlah delegasi resmi Filipina, pelobi energi fosil tercatat 50 kali lebih banyak. Padahal negara kepulauan tersebut tengah menghadapi bencana topan besar bersamaan dengan berlangsungnya negosiasi iklim PBB.

Pelobi energi fosil juga tercatat 40 kali lipat lebih banyak daripada Jamaika yang belum rampung membenahi dampak dari Badai Melissa. KBPO turut mencatat bahwa pelobi dari industri fosil memperoleh akses dua pertiga lebih banyak ke COP30 dibandingkan seluruh delegasi dari 10 negara paling rentan iklim yang jumlahnya hanya 1.061 orang.

Asosiasi dan korporasi dagang besar menjadi entitas yang mendominasi pengaruh industri fosil dalam negosiasi COP30. International Emissions Trading Association tercatat membawa 60 perwakilan, termasuk delegasi dari raksasa minyak dan gas seperti ExxonMobil, BP, dan TotalEnergies.

0 Komentar